Sunday, August 31, 2025

Pesisir Malang Selatan Zona Risiko Tinggi Tsunami

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA-Masyarakat di pesisir pantai Malang Selatan diimbau selalu waspada terhadap gelombang tinggi. Pasalnya BMKG Maritim telah memberi peringatan dini. 

Petugas telah memasang CCTV dilengkapi sirine untuk peringatan dini supaya terpantau secara real time seperti di Pantai Balekambang Kecamatan Bantur Kabupaten Malang.

BMKG bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) telah mengkaji potensi-potensi yang terjadi di wilayah pesisir Malang Selatan, termasuk potensi terjadinya tsunami.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan (PK) BPBD Kabupaten Malang Zainuddin menyampaikan, berdasarkan kajian BPBD bersama BMKG, wilayah rawan tsunami meliputi Kecamatan Donomulyo, Bantur, Gedangan, Sumbermanjingwetan, Tirtoyudo, dan Ampelgading berada dalam zona risiko tinggi tsunami.

“Secara geografis, Kabupaten Malang memiliki potensi terdampak tsunami karena beberapa faktor utama yakni perbatasan langsung dengan Samudra Hindia, dekat zona subduksi megathrust selatan Jawa, topografi pantai dan wilayah penduduk,” urai Zainuddin, Minggu (13/7) kemarin.

Faktor lainnya adalah sering terjadi gempa laut di selatan Jawa serta memiliki pantai-pantai landai dan permukiman pesisir.

Untuk peringatan dini, BPBD Kabupaten Malang telah bekerjasama dengan BPBD Jawa Timur  memasang papan imbauan, dan CCTV disertai dengan sirine di wilayah pantai Malang Selatan.

“Sirine dilengkapi CCTV sudah terpasang  untuk peringatan dini supaya bisa termonitor secara real time. Ketika terjadi hal yang genting, sirine bisa dibunyikan,” beber Zainuddin.

Sirine sudah terpasang di Pantai Balekambang dan permukiman warga Desa Srigonco Kecamatan Bantur Kabupaten Malang. Sementara itu, papan atau rambu imbuan akan dilakukan penambahan pemasangan yang rencananya dilaksanakan pada Agustus mendatang.

“Nanti papan informasi, ada 10 jalur evakuasi, dua arah evakuasi, satu rambu titik kumpul, dan dua peringatan rawan bencana,” lanjut Zainuddin.

Ia mengimbau kepada masyarakat pesisir, khususnya nelayan agar waspada terhadap potensi tsunami setelah terjadinya gempa lebih dari 6,5 SR di wilayah laut selatan. Nelayan diminta segera kembali ke darat dan tidak menunggu peringatan sirine.

Selain itu, bila kondisi cuaca ekstrem atau gelombang tinggi melebihi 2,5 meter agar menunda aktivitas melaut. Bahwa gelombang maksimum empat meter sangat berbahaya bagi perahu kecil dan nelayan tradisional.

“Nelayan dan warga pesisir kami minta ikut aktif dalam pelatihan mitigasi dan simulasi evakuasi tsunami,” pinta Zainuddin seraya menyampaikan, agar mengecek kondisi cuaca laut melalui aplikasi BMKG Maritim atau kanal informasi resmi sebelum berangkat ke laut.

Sementara itu, Kantor BMKG Stasiun Geofisika Malang mengeluarkan rilis selama tujuh hari terhitung sejak tanggal 4 hingga 10 Juli 2025, sebanyak 155 kejadian gempa bumi di Jawa Timur dan sekitarnya.

Kepala Kantor BMKG Stasiun Geofisika Malang Mamuri mengungkapkan, magnitudo terbesar pada periode tersebut yaitu M 5,2 dan magnitudo terkecil M 1,2.

“Tidak ada kejadian gempa bumi yang dirasakan,” jelas Mamuri dalam keterangan resminya yang dikeluarkan dan diterima Malang Posco Media, Jumat (11/7) lalu.

Ia menyampaikan, penyebab terjadinya gempa bumi oleh aktivitas  pertemuan lempeng tektonik Indo Australia dengan lempeng Eurasia serta aktivitas patahan lokal.

“Pada periode tersebut terdapat 133 kejadian gempa bumi dangkal, 22 kejadian gempabumi menengah, dan tidak ada kejadian gempa bumi dalam,” tambahnya. (den/van)

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img