Saturday, August 30, 2025

Nostalgia Lewat Tamiya Mini 4WD, Tak Sekadar Mainan, Sarana Melatih Logika, Disiplin dan Kreativitas

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Ada yang menarik di sebuah rumah di Jalan Monstera Hijau  Kota Malang. Di rumah ini, pemiliknya M. Wahyu Hidayat memiliki dunia penuh nostalgia dengan merakit dan memainkan Tamiya.

==========

MALANG POSCO MEDIA– Di balik koleksi mobil-mobil mini berkecepatan tinggi itu, tersimpan nostalgia masa kecil, semangat kompetisi, dan persaudaraan yang tak ternilai. Sejak kecil, Wahyu sudah akrab dengan bunyi dengungan  Tamiya di lintasan plastik. Lomba demi lomba ia ikuti saat masih bocah di Bantaeng, Sulawesi Selatan.

“Tamiya itu bagian dari masa kecil saya. Setelah dewasa, saya ketemu lagi sama hobi ini di tahun 2015. Saat itu saya dan rekan kerja punya kesukaan yang sama, jadi kami bareng-bareng main lagi,” ceritanya.

Bekerja di bidang profesional dari Senin hingga Jumat tak menghalangi Wahyu untuk tetap menekuni hobinya. Waktu libur di akhir pekan, ia manfaatkan penuh untuk berkumpul bersama komunitas pecinta mini 4WD, berbagi trik merakit, dan menggelar kompetisi.

“Sabtu-Minggu biasanya saya ikut kopdar atau event. Fokus kerja tetap nomor satu, tapi Tamiya ini jadi semacam penyegar mental,” katanya sambil tersenyum.

Pria berusia 43 tahun itu  menyebut bahwa merakit satu unit mobil mini balap itu butuh logika mekanika, kesabaran, ketelitian, dan kadang keberuntungan. Wahyu menyebut kelas truck-in klasik sebagai salah satu yang paling rumit.

“Bayangkan, kita harus pasang bodi yang tidak sesuai rangka, tapi tetap presisi dan kompetitif. Jadi jangan melihat ini sebagai hal yang remeh,” jelasnya.

Beberapa part seperti hard shaft dan NT MS Carbon bisa tembus harga lebih dari Rp 1 juta. Ada pula part langka yang hanya bisa didapat dari Jepang, membuatnya makin eksklusif.

“Hobi ini seperti investasi kecil-kecilan juga. Barang langka nilainya bisa naik. Tapi memang niatnya karena hobi dan ada kesenangan yang tidak bisa dilewatkan,” ujar Wahyu.

Tak sekadar jadi pemain, Wahyu juga aktif membuat event dan turnamen Tamiya di Malang. Komunitas yang ia bangun makin berkembang, bahkan mulai banyak peminat yang muncul dari generasi muda saat ini.

“Awalnya hanya hobi, tapi akhirnya bisa jadi jembatan silaturahmi. Banyak teman, bahkan seperti saudara baru,” ungkapnya.

Meski terkesan kuno, Tamiya tetap punya tempat di hati banyak orang. Mulai dari kalangan dewasa khususnya yang kini seusianya, atau bahkan di kalangan anak-anak dan remaja. Menurut Wahyu, Kejurnas TIMAC 2019 di Jakarta menjadi salah satu momen paling berkesan.

“Waktu itu teman kami dari Malang juara satu dan dapat hadiah liburan ke Jepang. Bangga banget. Itu bukti bahwa kami masih bisa bersaing secara nasional. Sekarang anak-anak SD dan SMP juga mulai gabung. Mereka latihan, ikut event, bahkan belajar merakit sendiri. Ini tanda baik buat regenerasi,” ujar alumnus SMPN 3 Malang, itu.

Ia pun aktif mengedukasi masyarakat bahwa Tamiya bukan sekadar mainan, melainkan ruang untuk melatih logika, disiplin, dan kreativitas. Baginya, mini 4WD adalah miniatur dari kehidupan yang harus dirakit dengan teliti, diuji di lintasan, dan diperbaiki saat rusak.

“Selama masih ada yang main, semangat kami akan tetap nyala. Apalagi kalau ada dukungan dari banyak pihak komunitas, sekolah, bahkan pemerintah,” tutupnya. (rex/van)

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img