MALANG POSCO MEDIA, MALANG – MINU Polowijen hadirkan Perpustakaan Keliling Kota Malang untuk menumbuhkan budaya membaca bagi siswa, Jumat, (29/8) kemarin. Kehadiran Perpus Keliling setiap enam bulan sekali ini disambut antusias para siswa. Mereka tidak sabar ingin membaca beragam koleksi buku bacaan dari perpus keliling tersebut.
Kepala MINU Polowijen Mubin Ardiansyah, S.Pdi, menyampaikan bahwa kerja sama dengan perpus keliling ini menjadi langkah strategis dalam memperluas wawasan literasi siswa. “Kami ingin siswa terbiasa membaca, tidak hanya mengandalkan buku pelajaran di sekolah. Dengan hadirnya Perpustakaan Keliling, mereka punya pilihan bacaan yang lebih beragam,” ujarnya.
Selain menggandeng Perpus Keliling, madrasah yang beralamat di Polowijen Blimbing Kota Malang ini, juga memiliki program internal berupa Pojok Literasi. Fasilitas ini menyediakan berbagai buku bacaan, cerita anak, hingga ensiklopedia ringan yang bisa diakses setiap saat. Pojok Literasi juga dilengkapi dengan Koran Malang Posco Media yang menjadi bacaan wajib tambahan bagi siswa.
Menurut Mubin, keberadaan koran di lingkungan madrasah memiliki nilai penting di tengah derasnya arus digital. “Di zaman sekarang, koran masih dibutuhkan. Siswa perlu mengenal tulisan jurnalistik secara langsung. Dengan begitu, mereka bisa membedakan mana tulisan buku, cerpen, dan berita,” imbuhnya.
Ia menambahkan, membaca berita di koran juga melatih kepekaan siswa terhadap isu-isu aktual di masyarakat. Hal ini sejalan dengan misi sekolah untuk mencetak generasi literasi yang kritis, peka, dan tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas kebenarannya.
Program literasi di MINU Polowijen mendapatkan respon positif dari siswa maupun wali murid. Banyak orang tua mengapresiasi langkah sekolah yang memberikan alternatif bacaan selain gadget. Mubin menjelaskan, dengan kolaborasi bersama Perpustakaan Keliling dan keberadaan Pojok Literasi, MINU Polowijen berharap dapat terus menumbuhkan semangat membaca.
Ia optimistis, langkah kecil ini akan berdampak besar dalam membentuk budaya literasi sejak usia dini. “Anak-anak sekarang akrab dengan gawai, tapi lewat kegiatan literasi seperti ini mereka diarahkan untuk tetap mencintai buku,” pungkasnya.(hud/lim).