spot_img
spot_img

Babinsa Peduli, Jadi Pendidik Anak Difabel

MALANG POSCO MEDIA, MALANG-Dari sekian banyak personel tentara nasional Indonesia (TNI) banyak di antaranya memiliki peran penting dalam kegiatan sosial masyarakat. Salah satunya Sersan Satu (Sertu) Tri Djoko Purwanto. Babinsa Pakisaji Kecamatan Pakisaji itu merelakan dirinya menjadi seorang tenaga pendidik untuk kaum difabel atau disabilitas di Kecamatan Pakisaji.

Mereka dibina menjadi lebih mandiri hingga berupaya melatih keterampilan usaha. Sertu Tri Djoko Purwanto, 47 tahun, seorang lulusan Bintara 1997 itu melakukan kegiatan sosialnya sejak lama. Dari kesadaran seorang Babinsa yang bertugas di desa, dia harus memahami kondisj dari geografis hingga demografi dan kondisi sosial yang ada. Dari masyarakat yang ditemui, dia akhirnya memahami masalah yang terjadi.

“Ketika pendataan mengenai logistik, sampai masalah sosial yang ada. Banyak diantara masyarakat, anaknya tidak sekolah. Saat ditanya kenapa, banyak terhalang biaya sampai malu karena menyekolahkan anak disabilitas,” kata Tri Djoko.

Pria yang disapa Joko itu lalu tersentuh hatinya untuk mengupayakan pendidikan yang baik bagi mereka. Mulanya, dia meminta bantuan ke dinas terkait unruk pendampingan. Namun hasilnya belum cukup membantu. Mereka tak berkenan dan tetap malu menyekolahkan anak disabilitas.

Berita Lainnya:  Karya Nyata, Lahirkan Lulusan Unggul dan Kompeten

“Akhirnya anak anak saya bara ke Koramil. Untuk saya adakan les secara gratis,” katanya.

Awalnya, murid Joko hanya tujuh anak. Mereka akhirnya bisa semangat dalam belajar. Meskipun, rata-rata dari mereka memiliki keterbatasan disabilitas. Terutama banyak yang mengalami keterbelakangan intelektual atau tuna graita. Kendati demikian, Joko tetap tulis mengajari secara langsung di Koramil. Hingga akhirnya dia harus antar jemput muridnya ke rumah masing-masing.

Seiring berjalannya waktu, dirinya kesulitan. Karena murid yang dia didik menjadi lebih banyak. Mereka berdatangan dari informasi mulut ke mulut. Para wali murid yang menyebarkan hal itu secara suka rela. Hingga akhirnya Joko memutuskan untuk dilakukan sistem bergilir.

“Kendalanya disana, saat masih tujuh orang cukup mudah. Tetapi lama lama semakin banyak. Jadi harus digilir. Masing-masing sekitar dua desa untuk satu hari,” jelasnya.

Beberapa diantara anak muridnya sudah berusia remaja hingga menjelang dewasa. Joko mulai memutar otak untuk mengajarkan beberapa keterampilan. Yang sebelumnya diajarkan baca tulis dan menghitung, menjadi beragam. Gunannya untuk menjadikan mereka mandiri berusaha, ataupun mampu dipekerjakan untuk beberapa tempat.

Berita Lainnya:  Dosen Berkarya FISIP Universitas Brawijaya; Kembangkan Kopi Dampit, Gandeng Kelompok Tani Panorama

“Mulai dari mengajar, membuat kerupuk, pelihara ikan, membuat keterampilan menjahit dan lain sebagainya. Yang sekiranya bisa diterima meskipun sulit,” urai Joko.

Kegiatan yang dimulainya sejak 2017 itu akhirnya didaftarkan menjadi yayasan olehnya. Yayasan itu diberi nama Kartika Mutiara pada tahun 2018 lalu. Kini, muridnya sudah sekitar 97 orang yang aktif. Untuk membantu kerja kerjanya, sejak awal dia mengkader wali murid yang mengantarkan putranya ke Koramil. Mereka lalu bersedia ikut membantu Joko mengelola yayasan. “Ada sekitar sepuluh orang yang mau membantu, sekarang saya di bagian luar untuk sesekali mencari bantuan dari berbagai sumber.

“Alhamdulillah, yang sebelumnya belum punya modal usaha kecil sekarang bisa punya usaha. Yang belum punya kursi roda sudah punya kursi roda, yang tuna rungu bisa memiliki alat bantu dengar.  Semua diniatkan ibadah,” tandasnya.(tyo/aim)



BERITA LAINNYA