spot_img
Friday, March 1, 2024
spot_img

Bawa Ikon Kelurahan di Selendang

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA – Lantai 4 Gedung Malang Creative Center (MCC) mendadak penuh warna, Kamis (18/1) kemarin. Hampir tiap sudut ruangan di lantai tersebut dipenuhi karya kriya dengan beragam motif. Bentuknya berupa selendang dan dipamerkan lengkap beserta informasi kriya tersebut.

Tidak hanya itu, sejumlah model secara bergantian memamerkan hasil karya kriya tekstil dengan cantik. Pameran dan fashion show ini merupakan salah satu kegiatan dalam rangkaian event bertajuk Jelang Julang, yang diadakan Hamparan Rintik, bersama Batik Blimbing dan Griya Madukara.

“Ini pameran ketiga yang sudah diadakan sejak 2021. Untuk tahun ini diadakan tujuh hari, bukan hanya pameran tapi ada juga penampilan fashion show, lomba menyanyi, lomba mendongeng dan juga workshop kriya seni dan tekstil. Selama tujuh hari ini masyarakat boleh datang, gratis,” terang Koordinator Jelang Julang Fikrah Ryanda Saputra kepada Malang Posco Media.

Untuk pameran kali ini, dipamerkan kriya tekstil berupa selendang dengan 57 motif berbeda. Jumlah tersebut mewakili 57 kelurahan yang ada di Kota Malang. Semuanya mengangkat ikoni masing- masing wilayah. Misalnya seperti gedung bersejarah, cagar budaya, sumber daya alam, kerajinan, bahkan potensi pariwisata.

Misalnya Kelurahan Gadingkasri yang mengangkat motif Klampok (jambu air) karena wilayah tersebut bernama Klampok Kasri. Lalu ada Kelurahan Dinoyo yang mengangkat keramik, sebagai salah satu kerajinan unggulan di wilayah tersebut. Untuk Kelurahan Sukoharjo mengusung motif bergambar Pasar Besar hingga Pasar Comboran yang merupakan ikonik di wilayah tersebut.

Sementara Kelurahan Tanjungrejo, mengangkat motif tanaman Tanjung atau tanaman dengan nama latin Mimusops Elciigi. Begitu juga dengan puluhan motif lainnya sebanyak total 57 motif.

Semua motif ini, dikerjakan oleh Fikrah bersama Aulia Rismawati dari Batik Blimbing dan Meilina dari Griya Madukara. Diharapkan ini bisa menginspirasi perajin lain di Kota Malang.

“Tujuannya memang salah satunya adalah agar perajin di Malang nanti lebih mengeksplor potensi di masing-masing kelurahannya. Kami berkolaborasi membuat itu selama enam bulanan dan berkolaborasi seni rupa UB,” sebutnya.

“Harapannya, tiap kelurahan bisa ada motifnya sehingga jadi ciri khas, punya souvenir sendiri sendiri, kerajinan sendiri-sendiri yang motifnya berasal dari cerita masing-masing wilayahnya,” tambah Fikrah.

Motif yang ada itu juga dikatakan Fikrah tidak akan dipatenkannya. Para perajin bisa mengembangkannya lebih jauh lagi. Hal ini dilakukan agar kreativitas warga Malang lebih berkembang.

Sementara untuk hasil kriya tekstil berbentuk selendang karena selama ini para perajin kriya tekstil pola produksinya menggunakan kain meteran. Akibatnya biasanya hasil produksinya mahal dan proses pembuatan pun lebih lama. Sementara kalau berupa selendang, bentuknya lebih kecil.

“Dengan bentuk selendang, kami bisa buktikan dengan kain kecil, enam  bulan bisa menghasilkan 57 selendang dengan motif macan-macam. Harganya pun bisa dijual bersaing. Kita ingin itu bisa diterapkan oleh teman-teman perajin di Kota Malang,” jelas dia.

Fikrah berharap event ini bisa menjadi event tahunan yang bisa sekaligus menjadi destinasi wisata. Kemudian juga berujung pada pengembangan potensi di tiap kelurahan yang ada di Kota Malang

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Disporapar Kota Malang Dra Yuke Siswanti mewakili Pemerintah Kota Malang memberikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya kegiatan rutin tahunan ini. Sebab event ini mampu mengkolaborasikan banyak pihak, mulai dari pemerintah, perajin, bahkan hingga perbankan untuk melakukan eksplorasi potensi 57 kelurahan di Kota Malang.

“Kami selalu support untuk event seperti ini. Kami akan mempromosikan semua produk yang dihasilkan. Apalagi kami di pariwisata itu punya event pameran ke luar kota. Jadi kami akan kurasi, kami bawa dan akan kami promosikan hal ini  ke luar Kota Malang. Pemerintah sudah mensupport tempat, sehingga komunitas bisa bebas menyelenggarakan event. Sehingga ini pun bisa menjadi destinasi wisata jika dilakukan secara rutin,” pungkasnya. (ian/van)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img