spot_img
spot_img

Bid’ah

Oleh: Prof. Dr. H. Maskuri Bakri

Rektor Universitas Islam Malang

MALANG POSCO MEDIA – Salah satu tradisi umat Islam yakni memperingati Maulid Nabi atau memperingati hari lahir Nabi Muhammad SAW. Begitu pula dengan di Indonesia. Seperti diketahui, Rasulullah SAW lahir pada 12 Rabiul Awal tahun Gajah.

Dinamai tahun gajah karena saat itu Abrahah hendak menyerang Ka’bah dengan pasukan gajahnya. Namun, pertolongan Allah SWT datang di waktu yang tepat. Pasukan gajah itu dihancurleburkan oleh burung Ababil, yang membawa kerikil-kerikil dari neraka.

Kembali dalam bahasan Maulid Nabi adalah bagian dari tradisi umat Islam yang tidak bisa dipisahkan dari budaya Nusantara. Setiap daerah di Indonesia memiliki adat dan ciri khas tersendiri dalam merayakan Maulid Nabi. Mulai dari acara sederhana di surau-surau kecil hingga acara megah dan meriah.

Musti diakui, ada sebagian kecil kelompok masyarakat yang menolak perayaan Maulid Nabi. Mereka menganggap perayaan Maulid Nabi sebagai bid’ah dan tidak layak dilakukan. Kelompok ini berpendapat, apa yang tidak dilakukan di zaman Rasulullah berkategori bid’ah. Begitu pula dengan Maulid Nabi yang tak pernah dilakukan oleh Rasulullah SAW.

Apakah Maulid Nabi Bid’ah?

Lantas, benarkah Nabi tidak pernah memperingati hari lahir beliau dan apakah Maulid Nabi bid’ah? Ulama Ahlussunnah wal Jama’ah, Sayyid Muhammad al-Maliki dalam kitab Syarh Maulid ad-Diba’i menyimpulkan, setidaknya ada lima alasan mengapa umat Islam harus merayakan Maulid Nabi.

Pertama, merayakan Maulid Nabi sebagai wujud rasa bahagia dan gembira atas kelahiran Baginda Nabi Muhammad SAW pasti bermanfaat di dunia dan akherat. Bagaimana tidak? Abu Lahab, seorang yang membenci dakwah Nabi saja diringankan siksanya di neraka setiap hari Senin.

Hal ini dikarenakan Abu Lahab bergembira dengan kelahiran Nabi Muhammad. Bahkan, Abu Lahab memerdekakan budaknya yang bernama Tsuwaibah sebagai wujud rasa bahagianya.Urwah mengatakan, ‘Tsuwaibah adalah budak perempuan milik Abu Lahab.

(Ketika Nabi Muhammad lahir) Abu Lahab memerdekakan Tsuwaibah kemudian Tsuwaibah menyusui Nabi Muhammad (yang baru lahir). Maka, ketika Abu Lahab wafat, sebagian keluarganya bermimpi bertemu Abu Lahab. Sayangnya, Abu Lahab terlihat sangat memprihatinkan keadaanya.

Berita Lainnya:  Peta Jalan ‘Aisyiyah Memajukan Perempuan

Keluarganya bertanya; apa yang telah terjadi denganmu?’ Abu Lahab menjawab ‘Tidak ada kenikmatan bagiku setelah berpisah dengan kalian kecuali aku diberikan minum di tempat ini (alam akherat) karena aku telah memerdekakan Tsuwaibah” (HR al-Bukhari).

Al-Hafidh Muhammad bin Nashir ad-Din ad-Dimsyaqi mendendangkan sebuah puisi yang sangat indah mengenai hal ini. Apabila seorang kafir (Abu Lahab) yang dihinakan dengan ayat “Tabbat Yadâ (sungguh sangat celaka bagimu)” menetap abadi di neraka Jahim, diceritakan dalam sebuah riwayat bahwa setiap hari Senin datang Dia (Abu Lahab) diringankan siksanya karena gembira dengan kelahiran nabi Ahmad. Lantas, bagaimana pendapatmu dengan seorang yang sepanjang umurnya gembira dengan kelahiran Nabi dan ia wafat dalam keadaan beriman.

Kedua, Nabi Muhammad sering bepuasa di hari Senin sebagai ungkapan rasa syukur atas kelahirannya. Karena dengan kelahiran Baginda Nabi Muhammad lah manusia menemukan cahaya agama Islam. Tentu, kita sebagai umat Nabi harus merasa sangat bersyukur dengan kelahiran Baginda Nabi.

Diriwayatkan dari Abu Qatadah al-Anshari bahwa suatu ketika Rasulullah ditanya mengenai kebiasaannya berpuasa di hari Senin. Rasulullah pun bersabda; Di hari Senin lah aku dilahirkan dan di hari Senin lah diturunkan (Alqur’an) kepadaku” (HR Muslim).

Ketiga, Allah memerintahkan manusia untuk berbahagia dengan sebab rahmat dan pertolongan yang Allah berikan. Sebagaimana dalam QS. Yunus, 58 yang artinya; “Katakanlah (Muhammad), dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira.”

Dan rahmat terbesar yang Allah berikan bagi manusia adalah lahirnya Baginda Nabi Muhammad SAW. Alqur’an menegaskan bahwa diutusnya Baginda Nabi Muhammad adalah sebagai bentuk kasih sayang Allah bagi alam semesta. Dalam QS. Al Anbiya’, 107 yang artinya, “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam semesta.”

Berita Lainnya:  Peta Jalan ‘Aisyiyah Memajukan Perempuan

Keempat, perayaan Maulid Nabi diwarnai dengan pembacaan sejarah kehidupan Nabi. Mulai dari kelahiran, budi pekerti, ciri-ciri fisik, kemuliaan serta mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi. Hal ini akan menambah rasa kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW. serta memantapkan keimanan. Selain itu, perayaan Maulid Nabi juga sebagai wadah untuk mengajak umat Islam membaca shalawat kepada Nabi.

Allah telah berfirman dalam QS. Al Ahzab, 56 yang artinya; “Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” Ini dimaksudkan agar umat Islam banyak membaca shalawat.

Kelima, perayaan Maulid Nabi adalah bid’ah hasanah (baik) yang telah diajarkan turun-temurun oleh umat Islam. Belum lagi, perayaan Maulid Nabi umumnya diiringi dengan ceramah agama dan nasihat yang bermanfaat serta suguhan makanan yang diberikan kepada para hadirin.

Para ulama mengambil dalil bid’ah hasanah dari nasihat Sahabat Abdullah bin Mas’ud, bahwa “Perkara yang dilihat umat Islam sebagai perkara yang baik maka perkara tersebut baik di sisi Allah, dan perkara yang dilihat umat Islam sebagai perkara yang buruk maka perkara tersebut buruk disisi Allah” (HR Ahmad).

Di sisi yang lain, para ulama fiqh menetapkan kaedah; “Setiap wasilah perbuatan dihukumi sesuai dengan tujuannya.” Perayaan Maulid Nabi dihukumi sunah karena tujuannya adalah meneladani Baginda Nabi serta bershalawat kepadanya.

Tidak semua yang tidak dilakukan oleh Nabi adalah tercela. Contoh lain yang juga berupa bid’ah hasanah yaitu pembukuan Alqur’an yang dilaksanakan di zaman Khalifah Utsman bin Affan. Kita tahu bahwa jerih payah pembukuan Alqur’an tidak diperintahkan langsung oleh Rasulullah akan tetapi manfaatnya bisa dirasakan hingga hari ini.

Begitu juga dengan perayaan Maulid Nabi yang telah terbukti sejak dahulu berdampak positif bagi kelangsungan kehidupan masyarakat luas dalam membangun budaya dan peradaban. (*)



BERITA LAINNYA

MALANG, SEPENGGAL FIRDAUS INDONESIA

Nalar Mendidik Guru yang Terkoyak

Dato Anwar

Selalu Ada si Kuda Hitam!

Ketulusan

Sepak Bola dan Kuasa Televisi

Diferensiasi Kurikulum di Madrasah

LA’EEB

Stadion Layak Anak, Mengapa Tidak?

PEMIMPIN BERDAMPAK

Sihir Qatar dan Piala Dunia 2022

Muhammadiyah