spot_img
Thursday, July 25, 2024
spot_img

Buruh Pabrik Rokok di Sidorejo Pagelaran Berharap Kenaikan Upah

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Kesejahteraan buruh pabrik rokok masih menjadi keluhan. Buruh pelinting Sigaret Kretek Tangan (SKT) di Sidorejo, Pagelaran, Kabupaten Malang salah satunya. Mereka berharap adanya kenaikan upah yang lebih layak mengingat harga rokok dinilai terus naik. Para buruh juga menginginkan agar jam kerja bisa lebih ringan.

Senin kemarin (30/10), hal tersebut itu disampaikan di sela Wakil Ketua DPR RI Abdul Muhaimin Iskandar menemui para buruh rokok. Dimana Muhaimin dan jajaran pimpinan perusahaan PT. Indo Kretek Tobacco melakukan diskusi kewirausahaan pengusaha dan karyawan.

- Advertisement -

Diwawancarai Malang Posco Media, Rosyidah buruh linting asal Clumprit, Pagelaran menyampaikan bahwa ia masih berharap adanya peningkatan kesejahteraan melalui upah layak. Apalagi dengan harga eceran rokok yang naik menurutnya juga dapat meningkatkan pendapatan perusahaan dimana buruh bekerja.

“Sekarang gambarannya rokok saat ini mahal, satu bungkus mulai Rp16 ribu. Berangkat (kerja) juga lebih pagi. Harapannya upah bisa dinaikkan,” ujarnya.

Beberapa pekerja seperti dirinya juga mengharapkan hal yang sama. Apalagi dengan laju inflas yang mempengaruhi harga kebutuhan pokok yang naik dan tidak kurang stabil. Rosyidah mengaku bekerja untuk membantu pendapatan suaminya yang seorang kuli bangunan. Dalam sehari, ia mampu memproduksi lebih dari 2.000 batang rokok.

“Tidak ada target, sehari biasanya 2.500. Dan setiap 1000 batang bayarannya Rp35 ribu,” terangnya.

Dirinya biasa mendapatkan upah setiap sepekan sekali dengan rentang Rp500-550 ribu. Sedangkan buruh lain bisa mendapatkan lebih tergantung dari seberapa besar produksi. Diketahui perusahaan yang berdiri lebih dari 14 tahun itu mempekerjakan sekitar 400 orang dengan sasaran pasar lebih banyak lokal.

Rosyidah mengaku belum ada serikat pekerja atau organisasi pekerja yang menghimpun para buruh. Untuk urusan jaminan sosial kesehatan, sejauh ini dilakukan dengan mendatangkan pemeriksaan gratis setiap sebulan sekali. Sedangkan untuk jaminan resmi seperti BPJS Ketenagakerjaan belum didapat.

“Setiap bulan ada pemeriksaan gratis, dicek karyawannya. Karyawan kerja setiap hari jam 6 pagi sampai jam 4 sore. Istirahat jam 11.30,” kata dia. “Ya, harapannya lebih baik lagi,” imbuhnya.

Sementara Wakil Ketua DPR RI Abdul Muhaimin Iskandar atau biasa dipanggil Cak Imin menyampaikan telah berdiskusi dan menerima apa masalah para pekerja pabrik rokok. Ia juga menyoroti kenaikan biaya cukai yang tinggi belum berdampak langsung maupun tidak langsung pada kesejahteraan pekerja.

“Ada problem pekerja pada umumnya, peningkatan pendapatan, peningkatan daya beli, dan di sisi lain kebutuhan pokok yang terjangkau. Tapi pada dasarnya berharap kesejahteraan pekerja, dimana kesejahteraan buruh harus meningkat,” kata Cak Imin.

Terlebih sudah tak ada larangan bagi produk SKT dalam Undang-undang Kesehatan meski harus dengan pengawasan ketat. Di sisi lain, kontribusi pajak terbesar di Indonesia adalah pabrik rokok. Hal itu jika dibanding sumber pajak lainnya. Baginya, buruh rokok sudah berjasa bagi negara.

Muhaimin menyinggung bahwa SKT memiliki beban berat di pajak Bea dan Cukai. Dirinya berharap cukai pada pabrik mesin atau SKM yang disorot dan harus dinaikkan, namun pada sektor  padat karya SKT, harus mendapatkan afirmasi dari pemerintah. “Sehingga mereka buruh atau pekerja rokok SKT ini benar-benar harus mendapatkan perhatian,” tambahnya. (tyo/bua)

- Advertisement - Pengumuman
- Advertisement -spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img