spot_img
Thursday, May 23, 2024
spot_img

Chaos El Nino

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Oleh: Farizky Hisyam

Mahasiswa Universitas Brawijaya

          Sejarawan meyakini adanya kaitan antara stabilitas suatu bangsa dengan alam lingkungannya. Penggalian di situs arkeologi Huanchaquito-Las Llamas, Chan Chan, sebuah kota pesisir di utara Peru, sepanjang tahun 2011-2018 menemukan hal yang mengejutkan.

          Setidaknya 269 kerangka anak-anak dan 466 bayi llama yang diperkirakan berasal dari tahun 1450 Masehi ditemukan dalam penggalian tersebut. Fakta yang memprihatinkan, anak-anak dan bayi llama itu merupakan korban ritual bangsa Chimu.

          Jejak kaki llama di dalam endapan lumpur tebal yang mengering mengungkap alasan pengorbanan anak-anak tersebut. Selama ini pesisir Peru dikenal sebagai daerah yang kering. Hanya ada satu kemungkinan yang terjadi bila pesisir Peru diguyur hujan lebat, yakni peristiwa El Nino.

          Pada tahun 1450 bangsa Chimu dilanda ketidakstabilan politik dan ekonomi akibat banjir bandang dampak El Nino. Dalam suasana penuh keputusasaan, bangsa Chimu mengorbankan harta paling berharga, anak-anak, untuk membujuk agar dewa menghentikan hujan yang telah merusak lahan pertanian. Akhirnya, tepat tahun 1470 bangsa Chimu ditaklukkan oleh bangsa Inca.

          El Nino hebat juga pernah terjadi di akhir abad ke-18. El Nino tahun 1787-1788 menyebabkan musim dingin berkepanjangan yang ekstrem di wilayah Eropa. Hujan es yang turun di musim semi 1789 merusak tanaman panen. Akibatnya, di tahun 1789 harga roti naik dua kali lipat. Tak lama berselang, pada tanggal 14 Juli 1789 Revolusi Prancis meletus. Empat tahun kemudian, sebagai bentuk kemarahan rakyat, Raja Louis XVI dieksekusi dengan pisau guillotine.

          Selang seabad kemudian, El Nino membuat angin muson di India tak menurunkan hujan. Kekeringan tahun 1877 menyebabkan 18,5 juta penduduk India saat itu mati kelaparan. Bencana kelaparan menjelang abad ke-20 yang ditengarai akibat El Nino juga memicu pemberontakan Boxer di Tiongkok tahun 1901. Dari serangkaian peristiwa tersebut, sebagian konflik yang pernah terjadi dalam sejarah manusia terkait dengan El Nino.

          Hsiang dkk. dalam artikelnya, “Civil conflicts are associated with the global climate”, yang dimuat dalam jurnal Nature tahun 2011 menyebutkan, risiko terjadinya konflik kemanusiaan di tahun El Nino akan meningkat dua kali lipat bila dibandingkan dengan tahun La Nina. Dalam penelitiannya, Hsiang melakukan tinjauan terhadap negara-negara tropis yang paling terdampak El Nino dalam rentang tahun 1950-2004.

          Hsiang dkk. menemukan fakta, umumnya konflik akibat El Nino lebih berpeluang terjadi di negara-negara pendapatan menengah ke bawah yang perekonomiannya rentan terhadap perubahan iklim. Konflik hingga perang saudara di tahun El Nino tercatat pada tahun 1957 di Burma (Myanmar) dan Oman; 1965 di Burundi, Chad, Republik Dominika, Indonesia, dan Peru; 1997 di Komoro, Kongo, Eritrea, Niger, dan Rwanda.

          Di dalam negeri, berakhirnya Orde Baru didahului dengan kenaikan harga beras akibat El Nino tahun 1997. Hal itu diperparah dengan krisis finansial sehingga harga beras melambung di akhir tahun 1997.

          El Nino merupakan penyimpangan kondisi perairan Samudera Pasifik di bagian ekuator sebagai akibat interaksi antara atmosfer dan air laut. Pada saat terjadi El Nino, angin yang berhembus di ekuator Pasifik melemah sehingga menyebabkan perairan ekuator Pasifik bagian Tengah dan Timur lebih panas dari biasanya.

          Akibatnya, pesisir barat Amerika Selatan (Peru) mengalami hujan lebat, banjir, dan tanah longsor. Nelayan Peru mengamati fenomena ini terjadi sekitar Natal sehingga mereka menyebutnya dengan El Nino (bocah laki-laki, merujuk pada Kristus).

          Sebaliknya, saat terjadi El Nino, Indonesia, Australia, dan India akan mengalami penurunan curah hujan yang memicu kekeringan. Bersama dengan La Nina (kebalikan dari El Nino), El Nino akan membentuk suatu siklus yang dikenal sebagai ENSO (El Niño Southern Oscillation) yang memiliki periode 2-7 tahun. Kendati El Nino bersiklus, intensitas dan dampaknya tidak akan seragam.

          Setelah Bumi mengalami tiga kali La Nina berturut-turut tahun 2020, 2021, dan 2022, bulan Juli lalu Badan Meteorologi Dunia (WMO) mendeklarasikan El Nino dengan intensitas minimal moderat akan terjadi setidaknya hingga akhir tahun 2023.

          WMO telah memberikan peringatan dini mengingat El Nino akan mengubah pola cuaca dan badai di beberapa wilayah dunia, tidak terkecuali Indonesia. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim penghujan baru akan turun bulan November 2023.

          Tiga tahun La Nina beruntun menyebabkan suhu perairan Pasifik lebih dingin sehingga mengerem laju pemanasan global. Dengan terjadinya El Nino 2023, para pakar yakin rekor suhu terpanas Bumi tahun 2016 akan pecah tahun ini.

          Kita menyaksikan sejumlah kawasan hutan Jawa Timur mengalami kebakaran – yang hingga saat ini petugas berjuang untuk memadamkan kobaran api. Sebagian wilayah Pulau Jawa juga mengalami kekurangan air bersih. Dengan berlangsungnya El Nino, waktu tanam padi di sebagian besar wilayah Indonesia akan mundur.       Data inflasi bulanan Indonesia menunjukkan kontribusi kenaikan harga beras sebesar 0,05 persen terhadap inflasi bulan Agustus 2023. Berbagai upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menyiasati dampak El Nino kali ini, baik secara adaptasi maupun mitigasi.        Misalnya, percepatan waktu tanam padi, pemenuhan persediaan beras dalam negeri, hingga pembuatan hujan buatan. Posisi Indonesia sebagai  negara kelas menengah atas (upper middle class), pengalaman Indonesia dalam El Nino kuat tahun 1965, 1983, 1997, dan 2016, serta kemajuan IPTEK sudah sepatutnya membuat kita tidak gagap dalam menghadapi El Nino kali ini. Tentu saja, tren pemanasan global perlu kita waspadai dampaknya terhadap intensitas El Nino yang semakin ekstrem.     

          El Nino dan kekeringan merupakan dua hal yang berkelindan. Menjaga kestabilan harga pangan, khususnya beras, saat El Nino merupakan sebuah keniscayaan—bila tidak ingin kekacauan seperti yang pernah tercatat dalam sejarah.

          Mengutip pemenang Nobel Perdamaian 2020, World Food Programme, “Where there is conflict, there is hunger. And where there is hunger, there is often conflict. Today is a reminder that food security, peace and stability go together.” (*)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img