spot_img
spot_img

Dari Jatim Rebut Kembali Suara PPP

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU) KH. Yahya Cholil Staquf berharap kepada PPP menjadi partai Islam yang bergulat untuk menyumbangkan khidmat demi terwujudnya peradaban baru yang damai, adil, berdasarkan akhlakul karimah. Semua itu didasarkan atas penghormatan serta kesetaran hak dan martabat sesama manusia.

“Saya yakin PPP dengan Ketua Pak Suharso Monoarfa, ini mampu bergulat mengkhtiarkan masa depan, siapapun yang ingin jadi aktor signifikan, dia harus punya dua karakter utama, keluwesan dan keuletan,” ujar Gus Yahya pada puncak Harlah ke-49 Partai Persatuan Pembangunan (PPP) di Pondok Pesantren Al-Hikam, Kota Malang Minggu (27/3) kemarin.

Kehadiran ketua ormas Islam terbesar di Indonesia ini menandai kali pertama dalam kunjungannya ke sebuah acara partai politik.

Gus Yahya mengatakan Islam adalah peradaban. Bila berpikir Islam tentang peradaban, maka berpikirnya adalah tentang seluruh bangunan kehidupan kemasyarakatan. Mulai kehidupan budaya, ekonomi, sosial hingga politiknya. Bangunan peradaban yang terbentuk, sebagai hasil dari pergulatan Islam dan bisa tumbuh dengan model yang berbeda dari zaman ke zaman.

Berita Lainnya:  MWC NU Sukun Usung Tiga Program Kuat

Peradaban inilah yang dikatakan Gus Yahya perlu dikedepankan.  Dengan begitu, PPP diharapkan menjadi partai yang mempersatukan masyarakat untuk membangun bersama-sama peradaban masa depan.

“Saya sangat harap PPP nanti bisa menjadi elemen strategis dalam senyawa energi bangsa dan negara Republik Indonesia, untuk membangun peradaban masa depan bagi seluruh umat manusia,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Umum DPP PPP Suharso Monoarfa mengatakan, PPP sangat erat hubungannya dengan NU. Meski sejarah mencatat demikian, namun ia menegaskan PPP tidak bisa serta merta mengklaim bahwa NU adalah milik PPP. Pasalnya, seperti yang pernah disampaikan pula oleh Gus Yahya, NU milik semuanya.

Berita Lainnya:  Alokasikan Rp 1 M Bebaskan Lahan Cucian Mobil Depan Exit Tol Madyoapuro

“NU adalah aset negara kita. Kalau dihitung secara elektoral pemilih, itu sekitar 87 jutaan. Kira-kira 75 persen dari seluruh pemilih di Indonesia. Jadi wajar saya kira kalau semua mencoba mengklaim, tapi saya senang bahwa yang disampaikan Gus Yahya saat itu membuat hati kita ‘jembar’,” ujar Suharso.

Terlepas dari itu, pada momen harlah ini, Suharso berharap PPP dapat memperoleh suara terbanyak meski elektoral pemilih sangat ketat. Namun demikian, dari Jawa Timur inilah tanda perjuangan itu dimulai

“Elektoral ke depan ketat sekali. Laga itu akan kita mulai dengan meniup terompet dan menabuh genderang di Harlah ke-49 ini dari Jawa Timur. Kita ingin merebut kembali, memulangkan kembali suara PPP yang dipinjam yang dibawa pergi dan nanti dibawa kembali juga. Mudah-mudahan dengan kesungguhan dan cara cerdas, kita meraih cita-cita itu,” tegasnya. (ian/aim)



BERITA LAINNYA