spot_img
Monday, June 24, 2024
spot_img

Diabetes Melitus Ancaman Penyakit Generasi Z

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Oleh: Wandi,  Moh. Zainol Rachman, Tavip Dwi Wahyuni, (Dosen Promosi Kesehatan Poltekkes Kemenkes Malang) wandi@poltekkes-malang.ac.id


KEMAJUAN teknologi informasi dan transportasi yang semakin pesat pada era sekarang ini telah banyak merubah perilaku masyarakat. Penggunaan teknologi informasi yang berlebihan dapat menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental seperti gangguan tidur, ketegangan otot, serta gangguan konsentrasi dan stres. Teknologi informasi yang sangat berkembang seperti internet dan media sosial telah menyebabkan aktifitas fisik masyarakat jauh berkurang dari awalnya yang menuntut manusia untuk memenuhi kebutuhannya dengan aktifitas fisik yang tinggi berubah menjadi aktifitas yang sangat kurang.

Suatu contoh misalnya dalam aktifitas bermain anak-anak zaman dahulu berkumpul untuk melakukan permainan tradisional yang tinggi dan berat aktifitas fisik seperti sepak bola, petak umpet, berenang di sungai dan sebagainya. Tetapi pada era sekarang ini permaian anak lebih banyak kepada permainan pasif tanpa aktifitas fisik seperti  game yang ada di media online atau di gatget. Demikian pula kemajuan transportasi yang pesat saat ini menyebabkan aktifitas fisik berkurang karena untuk keperluan-keperluan mobilisasi jarak dekat saja masyarakat sudah tidak mau berjalan kaki. Karena adanya perilaku “mager” (malas gerak) dari masyarakat ini akan dapat menyebabkan pembakaran kalori yang kurang sehingga terjadi penumpukan kalori pada tubuhnya yang akan memicu terjadi kegemukan (obesitas). Yang lebih memprihatinkan lagi bahwa perilaku “mager” ini banyak dilakukan oleh anak-anak muda atau generasi Z. Istilah “Generasi Z” merujuk pada kelompok orang yang lahir sekitar pertengahan 1990-an hingga awal 2010-an. Sehingga risiko terjadinya obesitas pada generasi Z ini akan semakin tinggi.

Obesitas merupakan salah satu faktor risiko untuk terjadinya penyakit diabetes melitus atau kencing manis. Diabetes melitus adalah kondisi kronis yang terjadi ketika tubuh tidak dapat menghasilkan cukup insulin atau tidak mampu menggunakan insulin secara efektif. Insulin adalah hormon yang diproduksi oleh pankreas dan berperan penting dalam mengatur kadar gula darah dalam tubuh. Diabetes melitus ada dua tipe yaitu tipe 1 dan tipe 2. Penyebab utama diabetes tipe 1 adalah kerusakan sel-sel beta di pankreas yang menyebabkan produksi insulin menurun atau bahkan berhenti sama sekali.

Faktor risiko untuk diabetes tipe 1 termasuk faktor genetik dan lingkungan, meskipun penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami. Diabetes tipe 2 sering kali berkembang sebagai hasil dari kombinasi faktor genetik dan gaya hidup yang tidak sehat. Faktor risiko yang berkontribusi pada diabetes tipe 2 meliputi obesitas, pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta faktor genetik dan usia. Selain itu, terdapat faktor risiko tambahan yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengembangkan diabetes melitus, seperti riwayat keluarga dengan diabetes, kegemukan, tekanan darah tinggi, kadar kolesterol yang tidak seimbang, dan sindrom ovarium polikistik pada wanita.

Gejala diabetes melitus ditandai dengan: sering merasa haus dan kebutuhan untuk minum air secara berlebihan; sering buang air kecil, terutama pada malam hari karena ginjal mereka mencoba untuk menghilangkan kelebihan gula dalam darah melalui buang air kecil; sering merasa lapar, meskipun sudah makan karena sel-sel tubuh kekurangan gula; beberapa orang dengan diabetes tipe 1 mengalami penurunan berat badan yang tidak disengaja karena tubuh tidak dapat menggunakan glukosa dengan baik untuk energi dan mulai membakar lemak dan otot; kelelahan yang tidak dapat dijelaskan dengan mudah atau perasaan lemah dan letih secara terus-menerus; perubahan tiba-tiba dalam penglihatan atau penglihatan kabur dapat terjadi sebagai akibat dari perubahan kadar glukosa dalam darah yang cepat; risiko lebih tinggi untuk mengalami infeksi, dan infeksi bisa lebih lambat sembuh; kulit yang kering dan gatal terutama pada bagian kaki; sensasi kesemutan atau mati rasa, terutama pada kaki dan tangan, luka atau lecet yang lambat sembuh, terutama pada kaki, karena diabetes dapat mempengaruhi kemampuan tubuh untuk menyembuhkan diri sendiri. Jika mengalami gejala-gejala ini, penting segera berkonsultasi dengan dokter untuk evaluasi lebih lanjut.

Komplikasi dari diabetes melitus bisa sangat bervariasi, baik jangka pendek maupun jangka panjang, dan dapat mempengaruhi berbagai sistem tubuh. Berikut beberapa komplikasi umum dari diabetes melitus: Kerusakan pada saraf yang disebabkan oleh kadar glukosa darah yang tinggi, ini dapat menyebabkan kesemutan, mati rasa, atau nyeri, terutama pada kaki dan tangan; kerusakan pada pembuluh darah di mata yang dapat menyebabkan kehilangan penglihatan atau bahkan kebutaan jika tidak diobati; kerusakan pada ginjal akibat tingginya kadar gula darah, ini dapat mengarah pada gagal ginjal dan memerlukan cuci darah atau transplantasi ginjal; memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami penyakit jantung, stroke, dan penyakit pembuluh darah lainnya; luka pada kaki karena berkurangnya sensitivitas dan peredaran darah yang buruk, jika tidak diobati luka ini bisa menjadi serius dan memerlukan amputasi; gangguan pada sistem pencernaan seperti gastroparesis, di mana pergerakan makanan melalui lambung menjadi lambat, menyebabkan mual, muntah, dan masalah pencernaan lainnya, jika kadar glukosa darah sangat tinggi, tubuh bisa masuk ke dalam kondisi yang disebut ketoasidosis diabetik, yang dapat menyebabkan koma diabetik jika tidak diobati; risiko lebih tinggi untuk mengalami infeksi, terutama infeksi jamur pada kulit dan kuku, infeksi saluran kemih, dan infeksi gigi dan mulut, disfungsi ereksi (impoten) pada pria, sementara wanita bisa mengalami masalah seperti nyeri saat berhubungan seksual atau penurunan gairah seksual.

Pencegahan diabetes melitus melibatkan serangkaian langkah-langkah gaya hidup sehat yang dapat membantu mengurangi risiko terkena penyakit ini. Berikut adalah beberapa tips pencegahan yang bisa membantu: pilih makanan dengan kandungan nutrisi yang baik;jaga berat badan  tetap stabil; lakukan olahraga secara teratur; pantau kadar gula darah secara teratur; hindari minum alkohol; jangan merokok; hindari stres; lakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur, tidur yang cukup dan berkualitas. Dengan menerapkan langkah-langkah ini dalam gaya hidup sehari-hari dapat membantu mengurangi risiko terkena diabetes melitus. Jika Anda memiliki riwayat keluarga dengan diabetes atau memiliki faktor risiko lainnya, penting untuk berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan saran yang lebih spesifik. (*)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img