spot_img
Thursday, June 20, 2024
spot_img

Dinkes Gencarkan Imunisasi, Cabut KLB Difteri

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Hingga saat ini, Kota Malang masuk dalam status Kejadian Luar Biasa (KLB) untuk penyakit Difteri pasca ditemukan kasus meninggal dunia pada akhir bulan Juli lalu. Pasca temuan kasus yang menimpa seorang anak asal Kedungkandang itu, Dinas Kesehatan Kota Malang telah menggencarkan imunisasi, khususnya di Kelurahan Kedungkandang.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Malang dr. Husnul Muarif menyampaikan hal ini merupakan bagian dari Outbreak Respon Imunisasi (ORI) yang dilakukan pada populasi atau daerah terjangkit.”Pemberian vaksin Difteri kepada sasaran usia 1 hingga 5 tahun di wilayah Kecamatan Kedungkandang dengan jumlah sasaran sekitar 43 ribu orang,” ujar Husnul, Selasa (5/9) kemarin.

Berdasarkan pengamatannya, dengan adanya ORI seperti ini, diharapkan kasus Difteri bisa dicegah agar tidak terjadi lagi. Melalui ORI pula, ia memperkirakan status KLB Difteri ini bisa segera berakhir atau dicabut, setidaknya pada akhir bulan September ini. “Ya.Kami rencanakan pada 23 September 2023 dicabut,” tegasnya.

Terpisah, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Kota Malang, Meifta Eti Winindar, menekankan, meski penyakit ini ditetapkan sebagai KLB, namun ia menyampaikan masyarakat tidak perlu panik. “Upaya protokol kesehatan tetap kita sarankan, memakai masker dan sebagainya. Yang terpenting adalah imunisasi ORI, diberikan mulai anak usia 1 hingga 15 tahun. Jenis imunisasi yang diberikan untuk usia 1-5 tahu mendapatkan DPT-HB-Hib, usia 5-7 tahun mendapat DT, dan usia 7-15 tahun mendapatkan imunisasi Td (Tetanus Difteria),” sebutnya.

‘’Pemberian imunisasi rutin lengkap diberikan pada bayi usia 0-11 bulan sesuai dengan jadwal imuniasi lengkap, usia baduta 18-24 bulan diberikan booster berupa MR dan DPT-HB-Hib, kemudian dilanjutkan imunisasi booster pada anak usia sekolah yang diberikan untuk kelas 1, 2, dan 5,” sambung Meifta.

Menurut Meifta, perlu dipahami juga bahwa imunisasi bukan hanya tanggungjawab sekolah. Tapi juga tanggung jawab keluarga. Kewaspadaan dan tindakan tepat dapat mencegah penyebaran lebih lanjut dan melindungi lebih banyak orang dari risiko salah satu penyakit menular ini. “Perlu dipahami juga akibat dari kita tidak melaksanakan imunisasi secara lengkap, itu akan berakibat fatal. Bukan hanya untuk yang bersangkutan saja, tapi juga untuk komunitasnya beresiko tertular. Kemudian adanya kekebalan komunitas yang tidak terpenuhi,” tutupnya. (ian/nug)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img