spot_img
Thursday, February 22, 2024
spot_img

Dinkes Klaim Prevalensi Stunting Turun

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, KOTA BATU – Dinkes Kota Batu klaim prevalensi stunting turun mengalami penurunan setiap tahunnya. Pihaknya mencatat penurun prevalensi stunting terjadi sejak tahun 2018-2021.

Dari data Dinkes Kota Batu, prevalensi stunting di Kota Batu tahun 2018 mencapai 28,33 persen. Kemudian tahun 2019 turun menjadi 25,4 persen. Serta tahun 2020 hingga 2022 pihaknya mencatat penurunan prevalensi stunting 14 persen.

“Namun jika dibandingkan hasil prevalensi stunting tahun 2021 dengan tahun 2022 ada kenaikan 1 persen. Yakni dari 13,80 persen menjadi 14,60 persen. Kenaikan dikarenakan beberapa faktor,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu Drg Kartika Tri Sulandari dalam giat Rembuk Stunting Kota Batu di Graha Bina Praja Rabu (24/8) kemarin.

Lebih lanjut Ia menerangkan jika kenaikan prevalensi stunting karena kenaikan jumlah balita. Di tahun 2021 ada 8.850 balita dan 2022 ada 10.352 balita. Sehingga ada kenaikan sekitar 2.000 balita.

“Jadi salah satu faktornya karena kenaikan jumlah balita. Sehingga membuat prevalensi stunting juga naik,” bebernya.

Menurutnya untuk mengatasi stunting dibutuhkan intervensi program dari SKPD lainnya. Karena dengan adanya intervensi program dari SKPD lainnya mampu mengurangi angka stunting di Kota Batu.

“Perbaikan di luar sektor kesehatan kami nilai lebih memberikan kontribusi sebanyak 70 persen. Contohnya pembangunan jamban hingga penyediaan air bersih bagi rumah tangga,” paparnya.

Sedangkan untuk intervensi dari sektor kesehatan seperti pemberian makanan tambahan ibu dan bayi, imunisasi dan monitoring mampu memberikan kontribusi sebanyak 30 persen. Sehingga butuh sinergi melalui lintas SKPD dalam menangani stunting.

Sebelumnya dipaparkan Fifi Salma Safitri, selaku Satgas Stunting BKKBN Jatim yang ditempatkan sebagai Technical Assistant (TA) Kota Batu di DP3AP2KB bahwa pendataan keluarga yang beresiko stunting berdasarkan delapan kategori skrining. Diantaranya akses terhadap air bersih, akses terhadap jamban sehat, akses terhadap sumber pangan termasuk ibu dengan resiko tinggi melahirkan.

Untuk ibu melahirkan terbagi terbagi menjadi : terlalu muda, terlalu tua usia melahirkan, terlalu banyak melahirkan dan terlalu dekat jarak kelahiran anaknya. 

“Berdasarkan pendataan keluarga (PK) 2021, di Kota Batu terdapat sejumlah 16.771 keluarga beresiko stunting, dari total 58.508 keluarga. Ini berarti 25 persen keluarga di Kota Batu beresiko stunting,” imbuhnya.

Dari catatan prevelensi stunting hasil bulan Februari 2022. Pihaknya mencatat ada tiga desa dengan prevelensi stunting cukup tinggi. Yakni Desa Tulungrejo dengan jumlah balita stunting sebanyak 92 balita dari tota 446 balita atau prevelensi stunting 20,6 persen.

“Kemudian Desa Giripurno sebanyak 152 balita dari total 725 balita atau prevelensi stunting 21 persen. Serta Sumberbrantas dengan 73 balita mengalami stunting dari total 264 balita atau prevalensi stunting 27,7 persen,” pungkasnya. (eri)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img