spot_img
Wednesday, June 19, 2024
spot_img

Dipercaya Publisher Mancanegara, Punya Puluhan Ribu Pelanggan

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA- Pelaku ekonomi kreatif berkelas dunia banyak yang berasal dari Kota Malang. Salah satu yang cukup menarik perhatian adalah Ilham Hasymi Effendi, developer game yang produknya dipercaya oleh publisher luar negeri.

Produk yang dihasilkan Ilham yakni game berjudul Faerie Afterlight. Game yang bertema petualangan itu dirilis pada September 2023 lalu. Menariknya, saat rilis, puluhan ribu pelanggan sudah menantikan keluarnya game level premium tersebut.

“Itu produk premium pertama kami yang dirilis di Steam dan Nintendo Store. Kalau di Steam, wishlist (daftar permintaan) waktu rilis sudah 20 ribuan di Steam saja. Kalau di Nintendo kebetulan kami belum bisa dilihat,” ungkap Ilham kepada Malang Posco Media.

Perjalanan Ilham sampai bisa menghasilkan game Faerie Afterlight ini cukup berliku. Sebelum berada di bawah naungan Clay Game Studio yang ia dirikan, Ilham sebenarnya sempat membuat studio developer game pada 2015. Namun sayangnya hanya enam bulan sudah bubar karena tidak menghasilkan. Barulah pada 2019 ia mengajak faounder lain membuat Clay Game Studio dan tahun 2020 resmi menjadi sebuah PT.

Di Clay Game Studio ini ia membuat sejumlah proyek games. Gayung bersambut, pada 2020 ketika masa pandemi justru ia lolos mengikuti program inkubasi dari Telkom yakni Indigo Game Startup Incubation (IGSI).

“Dari inkubasi punya Telkom IGSI itu kami baru didanai untuk bikin game produk pribadi. Lalu pada 2022 kami bersyukur dapat publisher. Maksudnya publisher ini konsepnya mirip kalau di musik itu ada perusahaan label. Itu publisher dari Amerika, yaitu Mastiff Game,” cerita alumnus Teknik Informatika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.

Dari program inkubasi serta publisher, Ilham mendapatkan dana pengembangan hingga ratusan juta untuk membuat game. Singkat cerita, Ilham tidak menyia-nyiakan kesempatan dan akhirnya lahirlah game Faerie Afterlight. Game ini bergenre MetroVania atau (Metroid Castlevania).

Game Faerie Afterlight sendiri di pasaran dijual dengan harga asli US $20. Namun dengan regional price, di Indonesia harganya menjadi hanya Rp 119.999 saja. Dalam Faerie Afterlight, para pemain akan bermain sebagai Kimo dan Wispy yang saling berteman dan bekerja sama untuk mengumpulkan pecahan-pecahan cahaya yang tersebar di dunia bernama Lumina.

Dalam perjalanannya, mereka akan bertemu kawan dan lawan serta berbagai macam tantangan sebelum akhirnya mereka bertemu dengan Kradyrev, sang roh jahat yang menghancurkan cahaya dari Lumina.

Di dalam game ini, terdapat fitur yang unik yaitu pada banyak kesempatan, dapat mengendalikan musuh maupun lingkungan di sekitar untuk mengalahkan musuh maupun menyelesaikan puzzle pada suatu level.

“Ini gamenya petualangan. Karakter utamanya menyelamatkan dunia, gara-gara sumber energi diambil oleh penjahat. Ditemani peri putih, mereka berdua punya impact yang besar. Walaupun karakter kecil, dia melawan bos yang besar ceritanya,” jelas pria kelahiran 4 Mei 1991 ini.

Usai sukses Faerie Afterlight, Ilham mengaku saat ini tengah mengembangkan game baru. Yakni game berjudul Mirth Island yang dia buat lebih sederhana dan lebih mudah dibandingkan Faerie Afterlight. Ia menargetkan, pada tahun ini game tersebut bisa dirilis ke publik.

“Kalau Faerie Afterlight kan memang agak susah, butuh ketangkasan dan harus akurat. Kalau Mirth Island ini gamenya lebih kasual dan relaksing. Kebetulan untuk game ini belum ada publisher jadi pakai dana sendiri,” tambah dia.

Ilham bersyukur  bisa berkontribusi secara positif untuk Kota Malang. Ia berharap makin banyak masyarakat Kota Malang yang bisa membuat game dan meramaikan persaingan game di internasional.

Ilham yang kini bergabung dalam komunitas Game Developer Malang (GDM) ini yakin masih banyak pelaku ekonomi kreatif atau developer game yang berpotensial tinggi.

Ia yakin banyak developer game di Kota Malang yang belum terdata dan sudah berkiprah di kancah internasional. Bahkan omzetnya juga dimungkinkan lebih besar.

“Saya bukan satu satunya studio yang develop game. Saya yakin masih ada studio game lain yang omzetnya jauh lebih besar. Karena yang saya lihat, dari acara komunitas saja, tiap bikin acara itu selalu banyak. Artinya peminatnya dan potensinya besar,” yakin Ilham.

Ia pun berharap pemerintah bisa terus memberikan dukungan penuh terhadap gairah industri game di Kota Malang. Berkaca di sejumlah tempat yang ia kunjungi, di Indonesia yang dikenal oleh mancanegara dengan developer gamenya adalah Jakarta dan Bandung. Padahal kualitas di Kota Malang juga tidak kalah dengan keduanya, hanya saja kurang dikenal oleh publik mancanegara.

“Maka kalau misalnya banyak yang tahu, paling tidak proyekan game ini bisa mengalir ke kita. Bikin game menurutku susah-susah gampang. Usahakan bagi yang develop game jangan sendirian. Alangkah baiknya konek dengan game developer lain,” tutur Ilham. (ian/van)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img