spot_img
spot_img
Monday, April 15, 2024
spot_img
spot_img

Dosen ITN Malang, Raih Doktor Bidang Medical Technology; Ciptakan Sistem Deteksi Demam  Berdarah Berbasis AI

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Gelar doktor kembali dicapai oleh dosen Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang). Gelar akademik tertinggi ini diraih oleh Dr. Ahmad Fahrudi Setiawan, S.Kom., MT., dosen Teknik Informatika S-1. Dia memperoleh gelar doktor bidang Medical Technology.

Gelar ini diperolehnya setelah lulus doktoral dari Program Studi Doktor Ilmu Kedokteran, Minat Teknologi Kedokteran, Jurusan Ilmu Kedokteran, Fakultas Kedokteran, Universitas Brawijaya (UB) beberapa waktu lalu.

Fahrudi berhasil membuat inovasi untuk mendeteksi secara dini infeksi demam dengue atau demam berdarah (DBD). Inovasi inilah yang menjadi proyek penyelesaian tugas disertasinya yang berjudul : Deteksi Demam Dengue pada Anak Menggunakan Artificial Intelligence Berbasis Digital Image Processing pada Apusan Darah.

Fahrudi mengatakan, saat ini kasus kematian demam berdarah di Indonesia menduduki peringkat kedua setelah Brazil. Seharusnya, kata dia, kasus kematian ini bisa dihindari kalau deteksi dini DBD dapat dilakukan. “Jika diketahui dengan cepat dan pasti bahwa anak tersebut mengidap DBD, maka penanganan dan prognosis oleh tenaga kesehatan akan mudah dan lebih baik,” ungkap Fahrudi.

Sayangnya, lanjut dia, banyak anak dengan infeksi DBD tidak diketahui karena underdiagnosis atau diketahui tapi sudah masuk masa kritis. Kasus seperti ini karena pada umumnya dokter melakukan penegakan diagnosa DBD menggunakan bantuan hitung darah lengkap di laboratorium.

Cara ini murah dan mudah, akan tetapi harus pada hari ketiga keatas untuk mendapatkan kepastian. Padahal dihari demam keempat bisa jadi pasien sudah mengalami masa kritis yang dapat berujung kematian.

Hal ini menimbulkan keprihatinan Fahrudi untuk berinovasi menciptakan alat deteksi demam dengue yang bisa mendeteksi dihari keberapa pun demam. Memiliki keakuratan yang tinggi, dengan akurasi mendekati pemeriksaan NS1 anti dengue, serta harga terjangkau, dan dapat di implementasikan di seluruh layanan kesehatan di Indonesia.

Inovasi yang dilakukan dengan cara mengumpulkan ratusan sampel darah suspected demam dengue, ada yang positif ada yang negatif. Data ini di digitalisasi ke dalam komputer dan selanjutnya di extraksi fiturnya menggunakan beberapa algoritma dalam digital image processing seperti jumlah trombosit, jumlah leukosit, jumlah immature platelet, dan jumlah limfosit plasma biru. Fahrudi menjelaskan cara kerja sistemnya. Jika ada pasien baru suspected demam dengue cukup diambil darahnya dan dimasukkan ke dalam sistem deteksi dini demam dengue secara online.

Selanjutnya menggunakan artificial intelligence sistem akan mencari gambaran darah ini dekat dengan yang positif demam dengue, atau lebih dekat dengan yang negatif demam dengue. “Jika jumlah trombosit, leukosit, immmature platelets, dan limfosit plsma birunya dekat dengan gambaran demam dengue, maka dia positif demam dengue, begitu juga sebaliknya,” pungkasnya. (imm)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img