spot_img
Monday, July 22, 2024
spot_img

Dulu Hidup di Jalanan, Kini Aktif di Majelis Taklim

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Inspiring Ramadan

Ramadan tahun ini terasa sangat spesial bagi Rizal Kurniawan. Kini warga Jalan Kolonel Sugiono Kelurahan Mergosono Kota Malang ini tekun beribadah. Itu setelah tahun-tahun sebelumnya hidup menjadi anak jalanan. Waktunya diisi dengan mengamen, alkohol dan lainnya.

Wawan sejak kecil, memang kurang mendapatkan perhatian orang tuanya. Diketahui kedua orangtuanya sudah berpisah sejak lama dan berada di luar negeri. Ia hanya tinggal bersama nenek serta kakaknya. Karena kurangnya perhatian, Wawan akhirnya lebih banyak menghabiskan waktunya bersama dengan teman-temannya. Saat itu, teman-teman Wawan justru banyak yang hidupnya menjadi anak jalanan.

- Advertisement -

“Saya sejak SMP ikut teman-teman ngamen di jalanan. Jadi istilahnya ya ‘katut-katutan’ (ikut ikutan). Saya sejak SMP itu sampai ke luar kota ngamennya. Iya pernah semua, minum miras, narkoba. Insya Allah sekarang tidak, amin,” cerita Wawan ditemui di rumahnya, Selasa (12/3) kemarin.

Ia mengakui, pergaulan sejak kecilnya memang kurang benar. Sejak SMP atau sekitar usia 13 tahun, Wawan bahkan sudah memiliki tato di tangan kirinya. Tato itu terus bertambah hingga memenuhi hampir seluruh wajahnya. Tampak telinganya pun juga sudah berlubang yang menandakan pernah ditindik dengan ukuran yang besar.

Pergaulan Wawan yang negatif ini sebenarnya sudah sempat diingatkan sebelumnya oleh neneknya. Juga oleh kakak-kakaknya.

“Emak (nenek, red) ya tentu memarahi waktu itu. Tapi mungkin ya waktu itu mau bagaimana lagi, sudah terlanjur begitu. Apalagi yang tato itu, ya sudah tidak bisa dihapus. Saya sangat jarang pulang ke Malang. Hanya pas waktu tertentu saja, itu pun kalau mood atau kondisinya bagus saja,” beber pria berusia 24 tahun ini.

Wawan bepergian dan berpindah-pindah ke luar kota. Seperti ke Blitar atau ke Tulungagung. Biasanya ia hanya pergi berdua atau bertiga dengan temannya. Karena tidak mau pulang pergi ke Malang, ia pun menginap di berbagai tempat. Ia memilih untuk menyewa kos-kosan.

Misalnya di Blitar, ia memilih ngekos di Kampung Seng, Sukorejo Kota Blitar. Per bulan biayanya  Rp 250 ribuan.  “Itu sudah termasuk air dan listrik. Kalau dari hasil ngamen lumayan, sehari Rp 100 ribu sampai Rp 120 ribu dibagi dua orang,” sebut Wawan.

Selain untuk bayar kos, uang yang didapat Wawan diakui juga digunakan untuk  beli  minuman keras (miras). Bahkan juga terkadang narkoba. Sehari-hari Wawan, hanya itu saja yang dikerjakan dan berulang di hari selanjutnya.

Merasa lelah dengan keadaan tersebut, di suatu waktu Wawan akhirnya merasa tersadarkan. Ia seolah mendapatkan ‘bisikan hati’ ingin memperbaiki hidupnya. Tidak ada yang memengaruhinya, semua berasal dari dalam dirinya

“Saya capek, terus ‘aras-arasen’ (bosan, red) juga. Hidup tidak menentu, tidak jelas. Dalam diri saya ingin jadi orang yang lebih baik, akhirnya saya putuskan pulang ke Malang. Kira- kira awal tahun kemarin. Masih sempat komunikasi dengan teman dulu, tapi sudah banyak saya biarkan. Saya berusaha tidak ikuti ajakan mereka,” cerita Wawan. 

Gayung bersambut, niat baik Wawan pun didukung oleh tetangga dan kawan -kawan dekatnya yang dahulu. Oleh salah satu kawannya, ia diajak mengikuti majelis taklim atau pengajian. Lokasinya di Masjid Miftahul Jannah Mergosono.

Kini tiap Rabu dan Jumat ia rutin berangkat ke majelis taklim. Di tempat kajian itu, Wawan mengaku seakan ‘hidup’ lagi dan ingin menekuni ilmu agama lebih dalam. Di Mergosono, ia banyak mengikuti pengajian dari Ustadz Jamal dan Habib Syarif.

“Ya biasanya salawatan, terus terbangan, ngaji. Sekarang lebih plong, tidak seperti dulu. Kalau dulu benar-benar kayak tidak jelas sama sekali. Sekarang merasa lebih tenang, santai dan juga semangat ikut ngaji. Lalu komunikasi saya sama emak dan mbak sudah enak, sudah bagus lagi seperti dulu,” syukur Wawan.

Sejak saat itu, Wawan pun bisa beribadah kembali. Ketika di jalanan dulu, Wawan tidak pernah sekalipun salat maupun puasa. Namun saat ini, Wawan berikhtiar rutin salat lima waktu dan juga puasa. “Makanya ini hari pertama saya puasa. Lebih terasa semangat untuk ibadah. Ya semoga bisa terus-terusan (konsisten, red),” tambahnya.

“Kadang saya juga ajak teman-teman lain untuk ngaji, puasa. Tapi mau atau tidaknya kan tergantung mereka. Yang penting saya sudah mengajak,” sambung Wawan.

Setelah kembali ke jalan yang lurus ini, Wawan mengaku ingin menjalani hidup seperti umumnya masyarakat. Kini ia bekerja serabutan di salah satu vulkanisir ban yang ada di Gadang. Ia tidak muluk-muluk memasang target kedepannya. Dia nantinya ingin membangun rumah tangga yang sakinah bersama pasangannya kelak.

“Iya pasti kepengen (menikah). Memang sempat kepikiran apa ada (perempuan) yang mau sama yang tatoan. Tapi saya serahkan yang di atas. Lihat kedepannya nanti saja. Sekarang fokus kerja dulu,” pungkas  alumnus SMP Muhammadiyah 3 ini. (ian/van)

- Advertisement -spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img