MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Rangkaian Malang Raga Merdeka 2025 terus berlanjut dengan menghadirkan berbagai kegiatan olahraga, edukasi, hingga layanan publik bagi masyarakat. Salah satu yang menjadi sorotan adalah coaching clinic dan body contest yang digelar dengan melibatkan peserta dari berbagai kelompok usia, mulai 12 hingga 58 tahun.

Selain fokus pada olahraga, Malangraga Merdeka 2025 juga menghadirkan layanan cek kesehatan gratis hasil kerja sama dengan sejumlah rumah sakit. Sekda Kota Malang, Erik Setyo Santoso mengatakan sebanyak 400 paket pemeriksaan kesehatan disediakan, dengan rincian 200 paket di hari pertama dan 200 paket di hari kedua.
“Ini bagian dari kewajiban promotif dan preventif fasilitas kesehatan. Warga bisa tahu kondisi tubuh sejak dini, mendapatkan saran medis, serta penanganan awal sebelum terlambat. Harapannya indeks kesehatan masyarakat Kota Malang meningkat, begitu juga angka harapan hidup,” jelas panitia pelaksana.
Erik mengatakan, adanya kegiatan ini juga untuk melawan mitos tidak baik dari olahraga angkat besi dan angkat beban. Padahal olahraga ini, menurutnya sangat baik. Bisa meningkatkan produktivitas, memperbaiki pola pikir dan kinerja otak, serta membuat positive vibe pada diri.
“Kalau saya ini sudah olahraga angkat beban sejak lama. Karena dulu sukanya bela diri, tambah usia cari olahraga yang aman. Dan kalau yang saya rasakan itu jadi positive vibe, mindset lebih baik, tidak gampang sakit dan produktivitas kerja meningkat,” ujar pria pecinta olahraga sepeda ini.
Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang sosialisasi gaya hidup sehat, meningkatkan angka partisipasi olahraga, serta mendukung target pemerintah dalam menekan angka penyakit degeneratif, seperti diabetes militus, penyakit jantung, dan penyakit lainnya. Dengan antusiasme peserta, Malangraga Merdeka 2025 diharapkan menjadi ajang regenerasi atlet berprestasi sekaligus sarana memperkuat budaya hidup sehat di tengah masyarakat.
Wakil Ketua Pelaksana Malangraga Merdeka 2025, Faris Pamungkas Wicaksono menjelaskan, cabang olahraga angkat berat dan powerlifting mendapat perhatian khusus. Olahraga ini diharapkan semakin banyak digemari, dan bisa mendorong angka harapam hidup masyarakat Indonesia yang saat ini masih di usia 58 tahun.
“Kami turut edukasi masyarakat tentang penanganan cedera olahraga, pengenalan tiga jenis angkatan dalam powerlifting (squat, bench press, dan deadlift), serta jenjang karier atlet. Harapannya, pembibitan ini bisa melahirkan generasi atlet baru Kota Malang yang berprestasi,” ujarnya.
Tidak hanya itu, body contest juga terbagi dalam tiga kategori yakni pelajar U-23, dewasa usia 24–40 tahun, dan master di atas 41 tahun. Selain itu, di hari kedua Minggu (31/8), juga ada sesi coaching klinik dan konsultasi kesehatan, serta kompetisi angkat besi.
Untuk kategori angkat besi ada empat kelas untuk pelajar, empat kelas untuk usia dewasa dan satu kelas untuk kategori master. Saat ini, untuk body contest ada 101 orang dan untuk angkat besi ada 107 orang.
“Ini momentum yang baik untuk semua lapisan masyarakat. Dari pelajar hingga usia dewasa, semua bisa berpartisipasi. Bahkan yang tertua ikut di usia 58 tahun,” pungkasnya. (rex/nug)