spot_img
spot_img

Fajar Masuk Gate 10, Ditemukan Tergeletak

MALANG POSCO MEDIA, MEDIA – Duka mendalam masih dirasakan oleh keluarga Ahmad Fajar Khoiron. Pelajar berusia 15 tahun asal MTs Al-Ma’arif 2 Singosari, harus meregang nyawa saat Tragedi Kanjuruhan, Minggu (2/10) lalu.

Ibu korban Sumiati mengatakan, bahwa saat itu korban ini tidak seperti biasanya. Pagi di saat berangkat sekolah tampak lesu di pojok teras rumahnya.  “Saat itu saya tawarkan untuk diantar ke sekolah, tapi katanya nunggu temannya saja,” ceritanya kepada Malang Posco Media, Senin (3/10).

Pada hari tersebut, tiba-tiba HP korban rusak. Sehingga saat dirinya tiba ke Stadion Kanjuruhan Malang, tidak mengabari kakaknya. “Biasanya itu bilang kalau sudah sampai, tapi karena HP nya rusak jadi tidak menghubungi. Dan saya juga tidak ada firasat apapun, sampai kejadian itu,” ceritanya.

Berita Lainnya:  Tetap Kencang Usut Tuntas!

Sementara itu, teman korban Arya Catur Airlangga, 17, mengatakan korban ini berangkat dengannya bersepuluh. Mereka masuk Stadion Kanjuruhan melalui pintu gate 10. Pertandingan berjalan lancar, hingga laga berakhir. Sesaat setelahnya, beberapa suporter mulai memasuki lapangan.

“Nah saat itu memang sudah mulai ramai. Tapi kami hanya duduk dan menunggu di tribun, untuk antre keluar. Tapi tiba-tiba, ada petugas menembakkan gas air mata sebanyak tiga kali,” jelasnya.

Dirinya tidak mengetahui apa alasan petugas menembakkan gas air mata. Karena saat itu di tribun juga tidak ada ricuh. Karena tembakan itu, suporter yang berada di tribun selatan panik dan berhamburan keluar.

“Saat itu saya sempat tertindih dan sudah lemas. Namun saya disemangati dan dibantu suporter lain. Dan di saat itu, saya melihat ada satu petugas kepolisian sudah pingsan di tribun,” jelasnya.

Berita Lainnya:  Protes Mandeknya Penanganan Hukum, Massa Aremania Blokade Perempatan Exit Tol Singosari

Akhirnya berkat bantuan suporter lain, dirinya berhasil keluar. Meskipun sempat terpisah dengan rekan-rekanya saat kabur, mereka berhasil berkumpul di pintu keluar.

“Tapi saat itu kami tidak menemukan almarhum Fajar ini. Saat kami cari, ternyata almarhum sudah tergeletak di depan pintu keluar gate 10. Kemudian kami bawa ke ambulans, namun sepertinya meninggal saat perjalanan,” jelasnya.

Kejadian itu menjadi hal yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya oleh mereka. Karena niat hati yang ingin mendukung tim kebanggan, berubah menjadi pilu karena kehilangan sahabat.

“Kami tidak berharap banyak, kami hanya menyesalkan tindakan aparat. Kenapa menembakkan gas air mata ke tribun. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa,” pungkasnya. (rex/bua)



BERITA LAINNYA