MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Jamur dan hama masih menjadi ancaman petani, terlebih saat ini Kabupaten Malang mengalami fenomena kemarau basah, yaitu musim kemarau yang masih disertai hujan intensitas sedang hingga tinggi.
Selain dapat berdampak pada kesehatan, juga berdampak pada bidang pertanian. Misalnya petani jagung di Desa Rembun Kecamatan Dampit, kini mengantisipasi jamur yang menyerang.
Wilayah tersebut juga menjadi lokasi groundbreaking atau peletakan batu pertama pembangunan dapur SPPG Polri pada Rabu 6 Agustus 2025 lalu.
Kepala Desa (Kades) Rembun Kecamatan Dampit Ahmad Soleh mengatakan selama hujan tidak terus-menerus, tidak masalah. Petani jagung juga sudah mulai tanam ulang dari panen sebelumnya.
“Yang perlu diantisipasi masalah jamurnya. Jamurnya kalau menyerang buah nanti bisa mengurangi berat hasilnya,” kata Soleh kepada Malang Posco Media, Kamis (28/8) kemarin.
Cara mengantisipasinya, Soleh menjelaskan dengan fungisida untuk penanggulangan jamur. Kemudian jagung harus bersih dari gulma atau rumput liar.
“Rumput atau gulmanya harus bersih. Sehingga matahari walaupun sesaat sudah masuk ke akar tanaman. Sehingga jamur tidak bisa berkembang,” jelasnya.
Soleh menyebut sampai sekarang produksi pembibitan jagung masih stabil, tidak terkendala walaupun cuaca hujan. Ia mengatakan rentang panen jagung ini 110 sampai 115 hari dari mulai tanam.
“Produksi jagung satu hektarenya delapan sampai 10 ton. Kami terus continue dan stok panen bulan 11 ketika sudah beralih ke padi,” tambah Soleh seraya menyampaikan, penanaman jagung di lahan seluas 200 hektare.
Lebih lanjut, hama ulat dan tikus masih menjadi ancaman kendati kian mulai reda. Ulat dicegah menggunakan pestisida. Sedangkan tikus diracuni dan pelepasan burung hantu.
“Burung hantu efektif. Apalagi kalau sudah musim burung hantu, semalam bisa membunuh 10 sampai 15 ekor tikus,” pungkas Soleh. (den/jon)