spot_img
Monday, July 22, 2024
spot_img

Kepala Dinas Kominfo Kota Malang, Muhammad Nur Widianto, S.Sos; Suka Bertemu Banyak Orang

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG- Hampir 30 tahun, Muhammad Nur Widianto, S.Sos menjadi seorang Aparatur Sipil Negara (ASN). Pria yang akrab disapa Wiwid ini, telah mengabdi kepada negara sejak 1995. Perjalanan karirnya tentu tidak mudah.

Namun sejak awal karirnya menjadi ASN hingga saat ini menjabat sebagai Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Malang, ia merasa pekerjaannya selalu sesuai dengan passion atau ketertarikannya. Sebab, ia selalu ditempatkan di posisi yang notabene bisa bertemu banyak orang.

- Advertisement -

Wiwid menceritakan perjalanan karirnya kepada Malang Posco Media. Berikut wawancara ringan bersama Wiwid saat ditemui di Balai Kota Malang.

MPM: “Sejak awal karir hingga saat ini, bagaimana lika liku perjalanan karir sebagai ASN?”

Wiwid: “Karir saya memang banyak di humas. Jadi humas-keluar, humas-keluar, balik lagi ke humas, sekarang di Kominfo. Semua saya nikmati. Rasa syukur saya itu tetap akan kekal karena selalu ada di pekerjaan yang berinteraksi dengan banyak orang. Bersyukurnya dapat mengkayakan pikiran, hati, karena makin banyak karakter yang ditemui, saya makin banyak belajar.

Di kelurahan dulu juga ketemu banyak orang karena makin komplek masalahnya. Dulu anggaran terbatas, survive dengan segala hal. Dispenda penagihan juga saya banyak keluar ketemu orang”.

MPM: “Saat ini, dipercaya sebagai pemimpin di Diskominfo dengan segala dinamikanya. Posisi sekarang lebih menantang atau lebih nyaman?”

Wiwid: “Kalau dengan teman-teman, selalu saya posisikan kita adalah keluarga. Kalaupun labeling yang melekat saat ini, hanya baju bagi saya. Dalam satu entitas, saya posisikan tidak bisa kerja sendiri. Jadi tidak ada sekarang posisi ‘wah’, biasa saja”.

MPM: “Sebagai Kadiskominfo, lalu dulu lama menjadi humas, tentu sering mendampingi kerja walikota di berbagai acara di luar kota bahkan luar negeri. Apakah sempat terpikir ini sebuah beban tersendiri atau kesempatan berharga?”.

Wiwid: “Ini mandat saja. Lalu tugas dan fungsinya mengamanatkan seperti itu. Ya bersyukurnya lagi, kok prosesnya sejak dulu dibangun dari humas yang memang melekat sekali seperti itu. Di sini juga ada kemiripan. Relatif adaptasinya mudah. Kehadiran saya harus menerjemahkan dari yang disampaikan pak walikota. Ya disyukuri saja, meski harus melekat dimana saja”.

MPM: “Dengan perjalanan karir yang relatif memiliki kemiripan seperti ini, bagaimana suka duka yang dirasakan?”

Wiwid: “Secara manusiawi, kadang saat saya diam itu merefleksi dan mengevaluasi diri. Ada kalanya merasa bersalah tidak bisa selalu mendampingi anak. Sebab itu, tiap kesempatan bersama keluarga adalah sangat berharga bagi saya”.

MPM: “Dibawah kepemimpinan Pak Wid, Diskominfo sering mendapatkan apresiasi dan penghargaan. Apa trik dan tipsnya agar Diskominfo bisa terus berkembang seperti saat ini?”.

Wiwid: “Saya ini sederhana saja. Kita itu satu keluarga. Tidak bisa sendiri-sendiri. Bisa jadi dalam satu waktu memang masuk ‘kamarnya’ sendiri sendiri untuk ‘me-time’. Tapi pada beberapa titik tertentu keluarga harus bergerak bersama, menyatu, harus ngobrol dan lain sebagainya. Tidak bisa tidak. Tidak ada pribadi yang hebat sendiri. Hebat pasti karena ada yang lain, saling melengkapi”.

MPM: “Apa yang kini tengah dilakukan dan dibangun di Diskominfo?”

Wiwid: “Secara kelembagaan, Kominfo tentu harus menjadi bagian support system. Harus mampu menge-goal-kan visi misi yang diprogramkan pimpinan. Masih banyak pekerjaan, apalagi sekarang Menpan-RB mengharuskan ada integrasi system”.

MPM: “Apa harapan untuk Diskominfo kedepannya?”

Wiwid: “Harus semakin maju semakin baik. Masih banyak PR terkait infrastruktur, kalau komunikasi digital berkaitan dengan sumber daya digital itu menjadi PR tersendiri. Termasuk membangun litrasi digital, kita digempur dengan ragam informasi yang masuk. Itu juga PR tersendiri, bagaimana mulai bangun sampai tidur kita dicekoki informasi yang belum tentu semuanya memiliki akurasi tingkat kebenaran”. (ian/mar)

- Advertisement -spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img