MALANG POSCO MEDIA– Dua gunungan kue apem diarak meriah oleh masyarakat Kelurahan Madyopuro Kecamatan Kedungkandang Kota Malang, Kamis (27/2) kemarin, dari Perum Bulan Terang Utama (BTU) menuju Kompleks Makam Ki Ageng Gribig. Meski cuaca mendung, antusiasme warga tak surut. Dari anak-anak hingga orang dewasa, semua ikut serta dalam prosesi yang menjadi tradisi tahunan menyambut bulan Ramadan ini.
Setibanya di pesarean Ki Ageng Gribig, gunungan apem didoakan bersama sebelum masyarakat dan para peziarah berlomba-lomba mengambilnya. Ritual ini dipercaya membawa berkah sekaligus menjadi simbol penyucian diri sebelum memasuki bulan suci.
Ketua Pokdarwis Pesarean Ki Ageng Gribig, Devi Nur Hadianto menjelaskan bahwa kirab gunungan apem sudah berlangsung turun-temurun. Apem dipilih karena memiliki makna filosofis yang mendalam, yakni sebagai simbol permohonan maaf dan kesiapan menyambut Ramadan dengan hati yang bersih.
“Kami meyakini bahwa konsep apem adalah bentuk permohonan maaf dan refleksi diri. Melalui tradisi ini, kami ingin menyongsong Ramadan dengan hati damai dan penuh kebersamaan,” ungkap Devi kepada Malang Posco Media.
Sebagai bagian dari kampung wisata religi, tradisi ini terus dijaga dan dikembangkan agar semakin dikenal luas. Kirab gunungan apem bukan sekadar ritual, tetapi juga bentuk syiar yang mengingatkan masyarakat akan datangnya bulan puasa.
“Konsep kirab ini adalah grebek, meramaikan suasana agar semua orang tahu dan bersiap untuk menyambut Ramadan,” tambahnya.
Tradisi Megengan ini juga mencerminkan nilai kebersamaan dan gotong royong. Masyarakat sekitar turut berkontribusi dalam pembuatan kue apem. Tahun ini, sekitar 15 kilogram bahan baku digunakan, menghasilkan lebih dari 1.000 kue apem. Tak hanya itu, banyak warga yang turut menyumbangkan apem sebagai bentuk rasa syukur.
“Kue apem ini harus habis dan tersebar ke semua masyarakat, pengunjung, dan peziarah. Ini adalah bentuk doa dan harapan agar Ramadan kali ini lebih baik dari sebelumnya,” tutur Devi.
Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Kota Malang, Baihaqi, mengapresiasi upaya masyarakat dalam melestarikan tradisi Megengan.
“Tradisi ini bukan hanya bagian dari budaya, tetapi juga memiliki nilai spiritual yang mendalam. Kami berharap masyarakat, khususnya umat Islam, terus menjaga dan meneruskan tradisi ini sebagai warisan kearifan lokal,” ujarnya.
Kirab gunungan apem di Madyopuro menjadi bukti bahwa tradisi dan nilai-nilai kebersamaan tetap hidup di tengah modernisasi. Dengan semangat kebersamaan, masyarakat bersiap menyambut Ramadan dengan hati yang bersih dan penuh keberkahan.
“Semoga masyarakat, utamanya umat Islam nantinya bisa terus menjaga dan melestarikan tradisi yang sangat baik ini dan kemudian menjalankan ibadah Ramadan dengan maksimal,” tandasnya. (ian/aim)