spot_img
Friday, March 28, 2025
spot_img

Kolaborasi ITN Malang dan Balitbangda Kabupaten Malang, Kaji Mitigasi Bencana Tanah Bergerak

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG- Institut Teknologi Nasional Malang (ITN Malang) digandeng Pemerintah Kabupaten Malang untuk melakukan kajian mitigasi bencana gerakan tanah di wilayah Kabupaten Malang. Dalam hal ini yang berkompeten adalah Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) berkolaborasi ITN Malang dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Balitbangda).

Kajian dilakukan sebagai tindak lanjut BPBD Kabupaten Malang mengenai terjadinya gerakan tanah di Kecamatan Tirtoyudo dan Donomulyo, yang berpotensi merusak infrastruktur, lingkungan, dan keselamatan masyarakat. Hasil awal kajian dilaporkan dalam Seminar Laporan Pendahuluan Kajian Mitigasi Bencana Tanah Bergerak di Malang Selatan, yang diadakan di Kampus 2 ITN Malang pada Rabu (12/3) lalu.

-Advertisement- Satu Harga Tiga Media

Wakil Rektor 3, ITN Malang, Dr. Hardianto, ST., MT., dalam sambutannya menyatakan kajian ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama antara ITN Malang dengan Pemerintah Kabupaten Malang melalui penandatanganan perjanjian kerja sama (PKS) antara LPPM ITN Malang dan Balitbangda Kabupaten Malang.

Dia menyampaikan bahwa ITN Malang memiliki program studi S2, dan S3 Doktor Manajemen Rekayasa yang dapat mendukung kerja sama. Program studi tersebut tidak hanya fokus pada teknik murni, tetapi juga pada aspek manajemen rekayasa. “Kerja sama ini semoga dapat memberikan kontribusi nyata bagi Kabupaten Malang dalam upaya mitigasi bencana dan pengembangan wilayah,” katanya.

Sementara itu Kepala Bidang Ekonomi dan Pembangunan Balitbangda, Kinta Ramayanti, S.Sos., MM., menjelaskan, paparan pendahuluan diadakan untuk mendapatkan masukan, saran, kritik, dan data awal yang akan memperkuat pelaksanaan kajian. Diharapkan, forum ini dapat memberikan kontribusi bagi Kabupaten Malang dalam mitigasi tanah bergerak.

“Kami menggandeng ITN Malang untuk melakukan sebuah kajian mitigasi bencana gerakan tanah. Kajian ini sangat penting dan diperlukan untuk pembangunan di Kabupaten Malang, serta untuk melengkapi dokumen kebencanaan BPBD Kabupaten Malang,” ujarnya.

Sebagai narasumber yang membedah kajian adalah tenaga ahli ITN Malang, Ratri Andinisari, S.Si., M.Si., Ph.D. Menurutnya kecamatan Tirtoyudo dan Donomulyo dipilih karena menurut BPBD yang paling parah. Kabupaten Malang memiliki 33 kecamatan dan sangat luas, sehingga tim bersepakat bersama-sama akan terlebih dahulu mengkaji secara teori. Nantinya akan ada beberapa lokasi yang dikunjungi langsung, dan ada beberapa lokasi yang datanya diambil dari laporan BPBD.

“Tahun pertama diawali di dua kecamatan. Jika metode pemetaan yang kami usulkan di tahun pertama terbukti efektif, maka direncanakan identifikasi kawasan rawan bencana tanah bergerak akan dilakukan di 31 kecamatan lainya di Kabupaten Malang. Tahun berikutnya, ketika data sudah terkumpul akan dibuat rekomendasi kegiatan mitigasi bencana tanah yang diawali dengan penyusunan Peta Kawasan Rawan bencana,” jelas Ratri yang juga Wakil Bidang Penelitian LPPM ITN Malang. (imm/udi)

-Advertisement-

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img