Beberapa bulan lalu, ramai tagar #IndonesiaGelap. Simbol gerakan protes terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai kurang sesuai dengan kepentingan masyarakat. Mulai efisiensi anggaran hingga Makanan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak berjalan sesuai harapan di lapangan. Makin diperparah dengan munculnya tagar #kaburajadulu.
Gerakan yang muncul di media sosial itu beranggapan hidup di luar negeri adalah solusi paling ampuh jika ingin mendapatkan kesejahteraan hidup. Mengutip website Kemenkumham tahun 2023 menyebutkan Warga Negara Indonesia (WNI) yang telah pindah kewarganegaraan tahun 2019-2022 mencapai 3.912 menjadi warga negara Singapura.
Kondisi ini sangat mengkhawatirkan karena warga negera merupakan aset negara yang berharga. Guna menjaga aset negara dan bangsa, maka warga negara harus mendapatkan akses pendidikan yang baik dan merata. Fasilitas dan infrastruktur pendidikan pun harus menjadi prioritas utama.
Pendidikan yang baik memiliki ciri yaitu dengan mengembangkan potensi yang ada pada peserta didik. Pengembangan potensi yang dimaksud harus lebih dari sekedar aktivitas akademik, cara berpikir kritis, kepedulian terhadap lingkungan, serta juga membentuk karakter.
Di lain sisi, pemerintah kita juga berulang kali menggalakkan Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang berfokus pada literasi baca tulis, numerasi sains, digital, finansial, dan budaya dan kewarganegaraan. Salah satunya mengasah berpikir kritis yaitu dengan memberdayakan literasi sains.
Dikutip dari buku Kementerian Pendidikan dan Budaya bahwasannya Literasi Sains Nasional merupakan kunci utama yang dapat digunakan untuk menghadapi tantangan pada abad 21. Yaitu mencakup kebutuhan air, pangan, pengendalian penyakit, serta ketersediaan energi.
Litersi sains terbagi menjadi dua tingkatan. Mulai dari tingkatan yang terendah dan tingkat tinggi. Tingkat rendah yaitu literasi sains praktis, yang merujuk pada kemampuan seseorang untuk dapat hidup sehari-hari yang dihubungkan pada kebutuhan dasar manusia, seperti makanan, perumahan, dan Kesehatan.
Adapun literasi sains tingkat tinggi, yaitu seseorang mampu dan ikut serta dalam pengambilan keputusan dan menggunakannya secara bijak yaitu berkaitan dengan isu politik, ekonomi, social, lingkungan, dan budaya. Kedua kemampuan literasi sains tersebut yang harus dikembangkan oleh oleh para pendidik.
Individu yang sudah literat mengenai sains nantinya diharapkan lebih bijak dalam mengambil keputusan. Mereka yang sudah literat sains nantinya paham mengenai teknologi adalah sumber solusi. Oleh karena itu, mereka harus mampu mempertimbangkan manfaat potensial dan risiko penggunaan sains dan teknologi untuk diri sendiri dan masyarakat.
Di Indonesia literasi sains dalam pembelajaran di Indonesia dipersepsikan hanya dalam pembelajaran IPA. Pembelajaran IPA pun sebagian besar terbatas pada buku ajar/ teks. Hal ini disebabkan oleh adanya interprestasi sempit terkait dengan PP No. 13 Tahun 2015 Pasal I ayat 23 yang menjelaskan bahwa “buku teks pelajaran adalah sumber pembelajaran utama untuk mencapai kompetensi dasar dan kompetensi inti.”
Sebagian besar memahami bahwa buku teks pelajaran menjadi satu-satunya bahan ajar sehingga pembelajaran IPA belum menerapkan pendekatan saintifik dan inkuiri. Jika dalam konteks pelajaran IPA saja, literasi sains belum diterapkan secara tepat dan komprehensif, penerapannya dalam pembelajaran lain pun perlu dipertanyakan.
Fakta ini membuat banyak orang Indonesia tidak terbiasa mencari beragam sumber. Strategi utama dari literasi sains nasional yaitu melalui pendekatan lintas kurikulum yang ada di sekolah. Pendekatan lintas kurikulum di sini pendekatan yang bertujuan untuk penerapan sains secara menyeluruh untuk pengembangan Literasi Sains.
Penerapannya tidak hanya berfokus dalam bidang mata pelajaran saja tetapi, juga di luar mata pelajaran. Siswa bisa diberi beberapa kesempatan untuk menggunakan pendekatan sains di berbagai situasi. Berhasilnya Gerakan Literasi Sains juga didukung oleh sekolah yang mendukung adanya ekstrakurikuler KIR (Karya Ilmiah Remaja), klub lingkungan dan Project Based Learning.
Dengan adanya tiga hal tersebut bisa mendorong siswa untuk keterampilan sains lintas kurikulum, memperkaya pembelajaran bidang studi lainnya dan memberikan kontribusi dalam memperluas dan memperdalam pemahaman sains.
Selain melalui siswa, literasi sains juga dimunculkan di dalam lingkungan sekolah oleh staf nonguru dan kegiatan-kegiatan rutin yang terjadi di sekolah. Kegiatan yang memberikan kesempatan nyata bagi peserta didik untuk mempraktikkan keterampilan literasi sains mereka.
Sudah saatnya kita sebagai pendidik menyadari bahwa “gelapnya” Indonesia bukan hanya karena krisis energi atau buruknya kebijakan, tetapi karena masih lemahnya kesadaran akan pentingnya literasi. Khususnya literasi sains dalam membentuk warga negara yang cerdas, bijak, dan berdaya.
Gerakan #IndonesiaGelap seharusnya menjadi momen refleksi bahwa cahaya sejati datang dari manusia yang tercerahkan oleh pengetahuan dan nilai-nilai. Harapannya, literasi sains dapat menjadi kekuatan tandingan yang konkret terhadap gelombang pesimisme tersebut.
Dengan membekali warga negara terutama generasi muda dengan kemampuan berpikir ilmiah dan bertindak rasional, maka kita tidak hanya menjawab tantangan abad 21. Tetapi juga membangun harapan kolektif akan masa depan yang lebih cerah.
Ketika warga negara sudah melek sains, mereka tak lagi mudah apatis atau memilih “kabur.” Tetapi justru menjadi pelita menerangi masa depan bangsa dengan pengetahuan dan kepedulian.(*)