spot_img
Saturday, July 20, 2024
spot_img

Pena de Portugal

Menikmati Seixal Splash, Makan-Makan ala Indonesia

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Warga Eropa tidak akan kehabisan ide untuk menikmati waktu liburan panjang. Khususnya liburan musim panas. Apalagi kalau bukan menikmati makanan dingin atau berendam di air dingin. Segeer rasanya. Aktivitas yang tepat dilakukan agar suhu tubuh tidak terlalu panas.

- Advertisement -

Seixal Splash adalah salah satu agenda rutin tahunan yang diadakan khusus saat summer. Terletak di daerah Seixal, Lisbon. Dari Cascais tempat tinggal kami harus menyeberang ‘Jembatan Suramadu ala Lisbon’ hehe.

Seixal salah satu kota di distrik Setubal, masih termasuk area Lisbon. Untuk menuju kesana harus melewati jembatan panjang di atas Sungai Tagus (Tagus River) yang arus lalu lintasnya cenderung padat setiap harinya. Dengan area seluas 94 kilometer persegi, jumlah penduduk di Seixal mencapai 184 ribu orang. Sejatinya kota besar Lisbon terdiri dari dua area yaitu utara dan selatan yang terpisahkan Tagus River. Tersedia dua jembatan yang menghubungkan wilayah, yaitu Ponte 25 de Abril dan Ponte Vasco da Gama.

Panjang Ponte 25 de Abril, 2.277 meter atau 2,2 kilometer. Jembatan ini diresmikan tahun 1966. Memiliki dua jalur tingkat. Jalur atas dilalui mobil, bus  dan truk sebanyak enam lajur. Sedangkan jalur bawah dilewati dua lajur kereta api. Sudah biasa warga lokal memanfaatkan transportasi kereta untuk mobile dari satu sisi Lisbon ke sisi lainnya. Ada lagi transportasi air yaitu menggunakan kapal menyebrang Sungai Tagus. Bisa menyebrang dengan atau tanpa membawa kendaraan. Seperti menyebrang Ketapang – Gilimanuk Banyuwangi – Bali. 

Di lain sisi ada Ponte Vasco da Gama sepanjang 17 kilometer. Jembatan Vasco da Gama dinobatkan sebagai jembatan terpanjang di Eropa. Kami belum pernah mengunjungi ke sana. Lain waktu ingin berpetualang. Hayoo kalau Jembatan Suramadu berapa kilometer ya panjangnya? Hampir dua kali  dari Jembatan 25 April, yaitu 5,4 kilometer. Jembatan terpanjang di Indonesia. 

Di bawah Ponte 25 de Abril terdapat suatu daerah bernama Docas atau Dock. Ini merupakan titik awal untuk naik kapal. Selain itu banyak sekali restoran dan kafe yang menghidangkan aneka seafood dan steak. Pengunjung disuguhi pemandangan indah jembatan dari bawah. Dinner bersama keluarga dengan melihat indahnya sunset. Sungguh keindahan dari Sang Maha Pencipta.

Berangkat dari Cascais harus pagi, sekitar pukul 9.30 WEST (Western European Summer Time) supaya menghindari macet. Antrean macet menuju jembatan kadang-kadang bisa mencapai 4 kilometer.  

Butuh waktu hampir 45 menit untuk tiba di Seixal Splash. Wahana bermain air ini buka dari pukul 10.00 – 19.00 WEST. Untuk paket keluarga dua dewasa dan satu anak dikenakan biaya 33 Euro. 1 Euro : Rp  15.000. Anak usia dibawah 2 tahun masih gratis. Banyak aneka seluncuran, kolam besar, kolam anak-anak  dan biang lala mini. 

Kami tidak sendirian di sini. Sudah janjian dengan keluarga Mbak Roya dan Mbak Rindu. Enam balita berkumpul jadi satu, terbayang begitu ramai dan riwehnya. Hehe. Tiket sudah dibeli saat online sehingga tidak perlu mengantre. Efek liburan sekolah hampir berakhir, suasana di wahana tidak begitu ramai. Yeey. Anak-anak bisa puas bermain. Tidak perlu antre terlalu lama saat mencoba perosotan air. Cuaca sangat mendukung. Meskipun terik matahari menyengat, tapi udara sangat sejuk. Ditambah lagi pemandangan dekat dengan teluk yang terhubung dengan Sungai Tagus. 

Tak afdol kalau tidak piknik makan siang bersama. Dari Cascais sudah menyiapkan Nasi Goreng Daging, Indomie Goreng, dan Nugget. Dari Amadora (Mbak Roya) sudah membawa Nasi Putih, Ikan Goreng Telur, Sambal Kecap, buah dan kerupuk. Dari Almada (Mbak Rindu) membawa aneka camilan kesukaan anak-anak pastinya. Saking asiknya makan bersama sampai tidak ada yang foto momen seru ini. Karena masing-masing ayah dan ibu sudah menghandle anak yang kelaparan habis berenang, hahaha. 

Setelah kenyang lanjut lagi berenang. Mumpung sepi jadi nyaman sekali liburannya. Hingga ditutup dengan makan es krim tepat sebelum pulang sekitar pukul 17.00 WEST. Semakin sore ternyata pengunjung semakin ramai. Karena ada perbedaan harga tiket diatas pukul 15.00 WEST. Diskon dua euro per orang. Mungkin karena airnya sudah mulai keruh ya, jadi dikasih diskon. Tapi kami para ibu-ibu sepakat ambil jadwal pagi supaya mendapatkan air kolam yang masih fresh.

Selama perjalanan menuju Seixal kami terheran-heran dengan pemandangan pantai di sekitar situ. Permukaan air laut sangat surut. Area pantai terlihat luas namun seperti kekeringan. Warna air lautnya pun tidak begitu cantik. Ini pertama kalinya kami melihat kondisi seperti ini. Padahal area pinggir pantai sungguh nyaman ada tempat pejalan kaki yang difungsikan sebagai tempat jogging. 

Seperti yang sudah kita ketahui bahwa pasang surut air laut dipengaruhi gaya gravitasi bulan dan matahari terhadap bumi. Namun gravitasi bulan lebih berpengaruh karena jarak ke bumi lebih dekat. Saat gaya gravitasi bulan lebih tinggi dalam menarik air laut daripada gaya gravitasi bumi sendiri maka terjadilah pasang. Saat posisi bumi menghadap bulan purnama maka terjadi pasang tertinggi. Sedangkan yang membelakangi bulan akan terjadi surut terdalam. Pada suatu waktu pasang surut ini akan terjadi bergantian. Yang nantinya akan dimanfaatkan oleh manusia dalam pergi berlayar, menggerakkan generator pembangkit listrik, pengelola tambak garam dan wisata air.

Selain itu ada faktor global warming. Perubahan iklim menyebabkan suhu dan keasaman laut meningkat. Pemanasan global ini mendorong permukaan air laut meningkat karena adanya lapisan es yang mencair. Namun di lain pihak juga menyebabkan suhu permukaan air meningkat, semakin asam, kekurangan oksigen dan juga kekeringan. Belum lagi warna air laut akan berubah yang dipicu dengan pemutihan terumbu karang. Meningkatkan radiasi UV, kepunahan biota laut dan penurunan salinitas air laut. 

Alhamdulillah kita masih bisa menikmati air bersih setiap harinya. Menggunakan air bersih secara bijak karena cadangan air dari tahun ke tahun juga akan semakin sedikit. Kekeringan yang berkepanjangan juga menyebabkan sedikitnya jumlah air tanah. Bukan hanya manusia saja yang kebingungan, hewan dan tumbuhan pun juga merasakan hal yang sama. Kekeringan. Yuk, sayangi bumi kita dari sekarang mulai dari hal-hal terkecil disekitar kita. (opp/van)
 

- Advertisement -spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img