spot_img
Monday, June 17, 2024
spot_img

Mobil Listrik Tipe Jeep karya SMKN 10 Malang, Lolos Uji Coba Cuaca Ekstrem, Terjauh 18 Kilometer

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Eletric Vehicle atau kendaraan listrik, belakangan makin berkembang pesat, terutama mobil listrik. Tak hanya industri mobil, sekolah-sekolah juga bersaing membuat dan mengembangkan mobil listrik.

Salah satunya seperti yang dilakukan oleh Rahmat Teja Yan Kumara, S.Pd., guru di SMKN 10 Malang yang sukses membuat sebuah mobil listrik, dengan tipe Jeep. Dibantu guru dan siswa siswinya, Jeep listrik ini sukses melewati fase uji coba di jalanan perkotaan. Bahkan dalam kondisi cuaca yang ekstrem, yakni di Surabaya beberapa waktu lalu.

“Sebelumnya tidak pernah bikin kendaraan listrik dari nol. Kalau konversi, dari BBM jadi listrik, itu pernah. Tapi Jeep ini, benar benar merakit dari nol dan ini baru pertama,” tegas Teja sapaannya kepada Malang Posco Media.

Teja menggagas pembuatan mobil listrik ini lantaran tidak ingin siswanya ketinggalan dengan industri mobil listrik yang saat ini berkembang. Dari gagasan tersebut, pihak sekolah pun kemudian mendukung dengan memberikan konsep mobil Jeep. Sebab, mobil listrik dengan konsep Jeep, sangat sangat jarang di Indonesia. Dari konsep yang cukup menantang inilah, Teja kemudian makin bersemangat mewujudkannya.

Untuk pembuatan mobil listrik, tentu yang pertama dilakukan adalah membuat gambar desainnya terlebih dulu. Bagaimana desain konsepnya, bagaimana bentuknya hingga seperti apa jenis kendaraannya. Setelah itu, barulah kemudian menentukan tenaga atau power yang akan dimiliki oleh kendaraan listrik tersebut.

Kemudian menentukan seberapa besar daya dan kemampuan baterainya. Jika sudah ditentukan, selanjutnya akan dilakukan penyesuaian desain keseluruhannya hingga kemudian tahap pengerjaan.

“Tapi Jeep kalau dibuat listrik, kalau dikonversi tenaganya, itu butuh minimal 20 kilowatt. Jeep kami kebetulan masih sama dengan mobil biasa, 5 kilowatt dayanya. Kendaraan lainnya kira kira 2 kilowatt atau 2.000 Watt. Terus terang kalau dayanya semakin tinggi, harganya semakin tinggi juga. Yang 5 kilowatt saja sudah menembus Rp 30 juta untuk motornya saja, belum lain-lain,” ungkap Teja yang berdomisili di Sumbersuko Tajinan ini.

Faktor biaya inilah satu satunya yang menjadi kendala dan tantangan tersendiri ketika pembuatan Jeep listrik tersebut. Selama riset dan pembuatan Jeep listrik itu saja, sudah menghabiskan dana sekitar Rp 100 juta. Uang sebanyak itu pun berasal dari dana swadaya.

Maka dari itu, Teja berkeyakinan, jika dalam hal pembiayaan ini bisa dimaksimalkan, maka pengembangan mobil listrik di SMKN 10 ini juga bisa terus ditingkatkan. Jeep listrik yang belum diberi nama ini menariknya sudah lolos uji coba di jalanan perkotaan dengan cuaca yang ekstrem.

“Kemarin jalan terjauh sekitar 18 kilometer tanpa ada kendala dan tanpa mengisi. Mengecasnya perlu 3 jam untuk 50 persen. Begitu 6 jam bisa 100 persen,” sebut pria kelahiran 22 Desember 1991 ini.

Untuk pembuatan Jeep listrik ini, Teja mengaku butuh waktu sedikitnya satu bulan penuh. Namun belum termasuk untuk lama waktu risetnya. Menurut Teja, untuk membuat mobil listrik ini tidak terlalu sulit teknologinya. Apalagi makin banyak part atau komponen yang bisa ditemukan dengan mudah, meski berasal dari luar negeri.

“Di mobil listrik ini yang sulit hanya pembentukan body dan desain. Ini rencananya mau dikembangkan di baterai. Lithium-ion bobotnya ringan dan kapasitas besar dan jarak tempuhnya jauh. Sementara ini hanya untuk media pembelajaran agar siswa tidak ketinggalan jauh dengan dunia mobil listrik. Tapi nanti kami akan terus kembangkan,” tegasnya.

Teja berkeyakinan meski sebenarnya mobil listrik belum menjadi materi wajib di sekolahnya, namun hal ini sudah sepatutnya untuk segera diketahui dan dipahami oleh siswa siswinya. Terutama untuk dasar-dasar dan prinsip kerja kendaraan listrik. Sebab ia menganalogikan, industri otomotif listrik saat ini sudah berjalan kencang dengan kecepatan 60 kilometer perjam. Sementara pendidikan di Indonesia tentang teknologi ini baru 40 kilometer per jam

“Makanya kami akan tetap sisipkan mobil listrik, minimal anak anak tahu bagaimana mekanisme kerjanya. Anak anak bisa tahu dan paham kalau ada medianya, jadi Jeep listrik ini juga penting untuk pembelajaran kami,” tutur alumnus Universitas Negeri Surabaya ini.

Sejatinya Jeep listrik ini bakal dijajal oleh Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Malang beberapa waktu lalu. Namun karena ada perubahan agenda kerja, Jokowi urung menjajal mobil tersebut. Kendati demikian, pria kelahiran Kediri ini mengaku tidak kecewa. Ia tetap bangga karena Jeep listrik ini hasil kerja keras juga dari guru lain dan siswanya.

“Ini menjadi sebuah kebanggaan, apalagi dari sekolah bisa membuat mobil listrik tipe Jeep seperti ini. Jadi ini kepuasan batin walaupun kami bikin ini hanya untuk dasar pembelajaran,” lanjutnya.

Lebih lagi, SMKN 10 Malang sendiri disebutnya sudah banyak menciptakan motor listrik. Tiga unit motor beragam jenis buatan sendiri dari nol. Lalu dua jenis lagi merupakan unit konversi atau pergantian BBM jadi motor listrik. Semuanya sudah dilakukan uji coba, hanya tinggal melengkapi sejumlah fitur dan kelengkapan berkendara standar seperti surat menyuratnya saja.

Ia pun berharap ke depan bisa terus mengembangkan teknologi listrik ini sehingga bisa bermanfaat untuk masyarakat luas, khususnya juga bagi siswa siswinya. “Yang jelas ke depan kita perlu riset dulu. Karena semua harus jelas perhitungan perhitungannya. Meskipun prototipe atau hanya satu sampel, misal sudah diuji atau layak jalan, kemudian itu nanti sekiranya bisa mendatangkan manfaat besar dan semuanya memungkinan, tentu tidak menutup kemungkinan akan diproduksi,” tandasnya.(ian)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img