MALANG POSCO MEDIA – “Selamat datang, adik-adik peserta didik baru. Tenang saja, di sini nggak ada senioritas, nggak ada drama!” Kalimat sambutan ini menggema dari atas panggung aula sekolah, membuka MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) tahun ajaran 2025/2026. Sekilas terdengar ringan dan jenaka, namun justru itulah kekuatannya.
Menyuarakan semangat baru yang ingin ditanamkan bahwa sekolah bukan ruang tekanan, melainkan ruang pertumbuhan. Hari pertama bukan tentang hierarki dan ketakutan, tetapi tentang menyambut dan menguatkan. MPLS bukan ajang adu kuasa, melainkan awal dari sebuah perjalanan belajar yang menyenangkan dan memanusiakan.
Pergeseran cara pandang ini tidak muncul begitu saja. Ia lahir dari transformasi besar dalam sistem pendidikan kita. Berdasarkan Surat Edaran Mendikdasmen No. 10 Tahun 2025, pemerintah menegaskan bahwa MPLS harus menjadi pengalaman belajar yang edukatif, ramah, dan membentuk karakter positif.
Tak ada lagi tempat bagi praktik-praktik senioritas yang berkedok tradisi. Terlebih lagi, segala bentuk kekerasan yang dibungkus dalih “pembinaan mental” yang sejatinya merendahkan dan menakut-nakuti bukanlah bagian dari pendidikan. Itu adalah kekerasan terselubung yang kini harus dihentikan.
Mendikdasmen Abdul Mu’ti menegaskan bahwa MPLS bukan ruang gelap penuh intimidasi, melainkan ruang terang yang dipenuhi empati dan penghargaan terhadap kemanusiaan.
Kepala sekolah dan dinas pendidikan diberi tanggung jawab penuh untuk menjamin bahwa setiap pelaksanaan MPLS berjalan sesuai prinsip perlindungan dan pemberdayaan. Sanksi tegas pun diberlakukan bagi siapa pun yang melanggarnya, baik secara fisik, verbal, maupun psikologis.
Perubahan ini menjadi semakin penting karena peserta didik baru merupakan bagian dari Generasi Z. Kelompok muda yang tumbuh dalam ekosistem digital yang serba cepat, visual, dan partisipatif. Mereka lebih antusias terhadap pendekatan kolaboratif ketimbang metode satu arah.
Maka, desain MPLS pun perlu mengikuti pola pikir mereka modern, dinamis, dan otentik. Di sinilah titik temu antara kebutuhan siswa dan visi pendidikan masa kini terbentuk. Yaitu pendidikan yang menumbuhkan deep learning pembelajaran mendalam. Tidak sekadar menanamkan pengetahuan, tapi juga menggugah kesadaran, makna, dan refleksi diri.
Dalam semangat deep learning, MPLS tidak lagi sekadar mengenalkan denah sekolah dan jadwal pelajaran. Tapi memberikan pengalaman belajar yang menyentuh aspek kognitif, afektif, dan sosial secara utuh. Media sosial seperti TikTok, Instagram Story, dan vlog YouTube menjadi jembatan komunikasi yang relevan dan efektif.
Siswa baru tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga pelaku aktif yang terlibat langsung. Mereka membuat testimoni, vlog behind the scene, hingga mengikuti tantangan kreatif bersama wali kelas. Pelaksanaan nilai-nilai tersebut terwujud dalam hal-hal sederhana namun berdampak besar.
Setiap pagi, wali kelas menyambut siswa secara personal. Di kelas, ada forum berbagi harapan yang memantik keberanian untuk bersuara dan saling mendengarkan. Proyek kolaboratif dirancang untuk menumbuhkan empati dan membangun komunikasi sehat antarsiswa.
Sebagai pelengkap, sekolah juga menghadirkan berbagai pihak eksternal seperti Polres, tenaga psikolog, relawan pendidikan, hingga tokoh masyarakat untuk memberikan sesi inspiratif dan edukatif. Dengan pendekatan yang profesional dan inklusif, para narasumber ini membantu siswa memahami nilai tanggung jawab, keberanian, serta pentingnya hidup dalam harmoni sosial. Dari sini, siswa belajar bahwa kepemimpinan tidak selalu tentang kuasa, tetapi tentang melayani dan memberi dampak.
Data UNICEF Indonesia (2023) menunjukkan pentingnya pengalaman hari pertama terhadap perkembangan psikologis siswa. Dampak nyatanya, pengalaman hari-hari pertama di sekolah sangat menentukan pembentukan kepercayaan diri, keterikatan sosial, dan kesiapan belajar siswa.
MPLS yang hangat dan menyenangkan dapat membentuk fondasi psikologis yang sehat. Di sinilah MPLS Ramah memainkan peran penting menjadi jembatan transisi yang lembut namun kuat, bukan ruang tekanan yang membebani.
Sebagai guru, penulis menyaksikan langsung bagaimana perubahan ini membentuk ekosistem sekolah yang lebih sehat dan manusiawi. Guru menjadi lebih sadar akan kebutuhan psikologis siswa. Pembelajaran tidak lagi dimulai dari rasa takut, melainkan dari rasa ingin tahu. Siswa datang bukan untuk patuh, tapi untuk tumbuh.
Dari situlah deep learning sebenarnya dimulai saat siswa belajar bukan hanya untuk tahu, tetapi untuk menjadi pribadi utuh. Lebih dari itu, budaya MPLS Ramah adalah gerbang awal menuju pendidikan yang transformatif. Pendidikan yang tak sekadar mengejar capaian akademik, tetapi juga membentuk manusia yang utuh kritis, empatik, kolaboratif, dan tangguh. Di sinilah nilai-nilai joyful learning, meaningful learning, dan mindful learning menyatu. Menjadikan sekolah sebagai ruang yang memerdekakan pikiran, emosi, dan kemanusiaan.
Akhirnya, tulisan ini bukan hanya soal MPLS. Ini tentang arah pendidikan yang ingin kita bangun bersama. Apakah kita masih percaya bahwa kekerasan dan senioritas bisa membentuk ketangguhan? Ataukah kita mulai menyadari bahwa rasa aman, keberanian bersuara, dan relasi yang sehat justru menjadi fondasi sejati pendidikan.
MPLS yang ramah bukan sekadar acara tahunan. Ia adalah cermin dari harapan kolektif bahwa sekolah adalah rumah kedua yang merangkul, membimbing, dan menumbuhkan. Tanpa senioritas, tanpa drama, tapi penuh makna. Dan di sanalah, pembelajaran sejati bermula.(*)