Monday, September 1, 2025

‘One Piece’: Kritik Ala Budaya Pop

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA – Tiba-tiba bendera bajak laut One Piece dikibarkan di sejumlah tempat. Ada yang memasangnya di bak-bak truk, ada pula yang menempatkannya di bawah bendera Merah Putih dalam satu tiang. Aksi pemasangan bendera One Piece ini merebak jelang perayaan Hari Kemerdekaan RI yang ke-80 tahun. Kemunculan aksi ini bisa dibaca sebagai aksi kritik ala budaya populer (pop).

          Fenomena ini menuai kontroversi. Sejumlah pejabat mengecam, sementara yang lain menganggapnya hal yang wajar sebagai bentuk kritik. Pihak yang mengecamnya menilai hal ini sebagai bentuk pelecehan terhadap simbol negara. Sebagian yang lain membelanya sebagai bentuk ekspresi budaya populer masyarakat yang sedang mencari cara baru dalam memaknai kemerdekaan.

          Pengibaran bendera One Piece bukan semata-mata tindakan iseng atau tren viral. Ia adalah representasi dari semangat nasionalisme yang telah berubah wujud. Jika dulu nasionalisme diukur dari seberapa fasih kita menghafal teks proklamasi, kini ia dinilai dari seberapa sadar kita terhadap ketidakadilan di sekitar dan bagaimana menanggapinya meski hanya lewat simbol.

          Bendera Jolly Roger milik kelompok bajak laut Topi Jerami dari anime One Piece tak hanya jadi simbol bagi penggemar (fandom), tetapi juga lambang perlawanan terhadap ketidakadilan, solidaritas kelompok, dan semangat petualangan. Tokoh Luffy dan krunya sering dilihat sebagai simbol keberanian, kebebasan, dan loyalitas nilai-nilai yang secara tak langsung pararel dengan semangat perjuangan kemerdekaan RI.

Bahasa Perlawanan

          Bendera berwarna hitam dengan simbol tengkorak bertopi jerami, milik kelompok bajak laut Topi Jerami yang dipimpin oleh Monkey D. Luffy sesungguhnya tak sekadar cerita bajak laut. Di balik aksi laga dan petualangan, anime ini sarat nilai-nilai tentang keberanian, kesetiaan, solidaritas, dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Luffy dan krunya bukan bajak laut jahat, tapi pemberontak yang melawan sistem dunia yang korup, feodal, dan sewenang-wenang.

          Penggemar One Piece cukup banyak di Indonesia. Tak sedikit orang yang terhubung secara emosional dengan semangat Monkey D. Luffy. Di tengah realitas sosial yang penuh ketimpangan, birokrasi yang rumit, dan ketidakpastian masa depan, tokoh fiksi Luffy jadi simbol harapan. Mereka melihat dalam cerita fiksi ini sesuatu yang tak ditemukan dalam kehidupan nyata yakni sosok pemimpin yang jujur, berani, dan membela yang lemah.

          Munculnya pengibaran bendera Topi Jerami bisa dipandang sebagai bentuk simbolik dari perlawanan. Bukan dalam arti fisik, melainkan protes budaya. Sebuah cara menyuarakan keresahan terhadap situasi sosial, politik, dan ekonomi saat ini. Protes tanpa turun ke jalan, bukan berorasi, tapi mengibarkan simbol sebagai sebuah bentuk protes yang estetis, senyap, tapi menggugah.

          Bagi generasi digital, budaya pop bisa jadi bahasa baru untuk berbicara tentang keadilan, mimpi, dan masa depan. Di sinilah terjadi hibridisasi budaya yakni dengan menggunakan bendera One Piece yang lahir dari budaya Jepang yang diadopsi untuk menyuarakan perasaan sendiri. Ini bukan pengkhianatan terhadap budaya lokal, tapi bentuk adaptasi dan ekspresi dari zaman yang sudah berubah.

Budaya Pop Simbol Kritik

          Kita hidup di era globalisasi dan digitalisasi, di mana batas antara budaya lokal dan budaya global menjadi kabur. Telah terjadi proses percampuran antara elemen budaya lokal dan global yang menghasilkan bentuk ekspresi baru. Banyak anak bangsa ini tumbuh bersama anime, K-Pop, dan budaya pop lainnya bukan berarti mereka kehilangan nasionalisme, melainkan membentuk ulang cara mereka memaknai nasionalisme tersebut.

          Dengan mengibarkan bendera One Piece, mereka sedang menciptakan ruang simbolik baru yang memadukan semangat kemerdekaan Indonesia dengan imajinasi pop yang mereka hayati. Ini adalah wujud budaya pop sebagai media ekspresi identitas bukan semata bentuk pelarian atau westernisasi. Pengibaran bendera One Piece sebagai simbol resistensi lunak, bukan protes yang marah, melainkan satir, ironi, dan bentuk harapan.

          Aksi pemasangan bendera One Piece menandakan bahwa anak bangsa ini tak kehilangan semangat. Mereka hanya sedang mencari cara baru untuk menyampaikannya. Mereka bukan tak cinta tanah air, tapi sedang mencoba menjelaskan cinta itu dengan bahasa mereka. Mari kita lihat aksi ini bukan sebagai ancaman tetapi sebagai ajakan berdiskusi. Tentang masa depan Indonesia dan tentang bagaimana impian-impian besar masih terus hidup.

          Tokoh Luffy sang bajak laut digemari karena tak sedikit tokoh publik dan pemimpin negeri ini tak mampu menginspirasi. Ketika banyak pemimpin sibuk memperkaya diri dan janji-janji pembangunan hanya tinggal jargon, banyak yang mencari panutan di tempat lain. Dalam diri Luffy, tergambar figur pemimpin yang jujur, tak gila kuasa, dan selalu berdiri di pihak yang lemah. Sosok yang berani menentang sistem yang korup dan tak kehilangan empati.

          Maraknya bendera One Piece adalah cermin bagaimana budaya populer hari ini telah menjadi bagian integral dari identitas masyarakat. Mereka hidup di antara dua dunia yakni dunia digital global dan realitas sosial lokal. Mengibarkan bendera Jolly Roger bukan berarti mereka lupa Merah Putih, tetapi sedang mencari cara baru dalam mencintai negeri ini dengan jalan mereka sendiri.(*)

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img