spot_img
Thursday, July 25, 2024
spot_img

PEMIMPINAN TRANSFORMASIONAL

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA – Seorang ekonom berkebangsaan India, peraih Nobel dalam bidang ekonomi Amartya Sen, 1 dari 18 elite profesor dari Harvard University ini menjadi terkenal setelah karyanya tentang kelaparan, teori perkembangan manusia, ekonomi kesejahteraan, mekanisme dasar dari kemiskinan, dan liberalisme politik.

Ia juga merupakan orang yang meraih penghargaan “Lifetime Achievment Award” atau penghargaan keberhasilan seumur hidup yang diberikan oleh kamar dagang india.

- Advertisement -

Pada tahun 1981 Sen menerbitkan sebuah buku yang berjudul ‘Poverty and Famines: An Essay on Entitlement and Deprivation’ dimana buku tersebut menjelaskan pada khalayak umum bahwa, kelaparan terjadi tidak hanya disebabkan karena kekurangan bahan pangan, akan tetapi karena adanya ketidaksetaraan dalam membangun mekanisme distribusi makanan.

Menurutnya Orang-orang dilaparkan, orang-orang dimiskinkan, oleh sistem yang tidak adil, Amartya Sen kemudian menyatakan bahwa pada saat itu di India masih tersedia cukup suplai bahan makanan. Tapi yang terjadi adalah adanya hambatan yang menyebabkan beberapa kelompok masyarakat dalam hal ini adalah buruh pedesaan kehilangan pekerjaannya sehingga mengakibatkan hilangnya kemampuan untuk mendapatkan bahan pangan.

Amartya Sen dengan gagasannya “Development As Freedom” menyebutkan bahwa kemiskinan secara utuh akan bisa dihilangkan sesuai dengan seberapa luas kebebasan yang diberikan di sebuah negara. Menurutnya kebebasanlah yang akan membuat seseorang dapat membuat pilihan yang memungkinkan mereka untuk membantu diri mereka sendiri ataupun orang lain. Menurutnya kebebasan dapat didefinisikan sebagai; Pertama, Kebebasan politik dan hak-hak sipil. Kedua, kebebasan ekonomi, termasuk kesempatan untuk mendapatkan kredit. Ketiga,Kebebasan sosial, perawatan kesehatan, pendidikan dan layanan sosial lainnya.

Keempat, Jaminan transparansi, interaksi dengan orang lain, termasuk dengan pemerintah, tentang apa yang ditawarkan dan apa yang di harapkan. Kelima, Perlindungan keamanan, termasuk tunjangan terhadap pengangguran, kelaparan dan bantuan darurat dan keselamatan umum.

Prestasi penanggulangan kemiskinan yang ada di negeri ini patut untuk kita apresiasi bersama, hal ini ditunjukkan dengan angkanya yang cenderung turun secara signifikan dari zaman orde lama, orde baru hingga saat ini. Ada banyak program yang sudah digelontorkan oleh pemerintah untuk penanggulangan kemiskinan ini. Namun yang menjadi catatan adalah angkanya yang cenderung stagnan dan cenderung belum mampu menanggulangi masalah kemiskinan secara utuh.

Bisa jadi hal ini disebabkan karena strategi penanggulangan kemiskinan yang ditawarkan oleh pemerintah belum menjawab akar persoalan kemiskinan. Kebijakan yang ada hanya merespon dampak yang ditimbulkan dari persoalan kemiskinan. Hal ini diperuncing dengan cara pandang yang beranggapan bahwa penyebab kemiskinan hanya berasal dari kaum miskin itu sendiri dan masalah ekonomi.

“Kepemimpinan transformasional” bukanlah sebuah hal baru. Istilah ini diciptakan oleh James MacGregor Burns pada tahun 1978, namun baru dikenal luas dalam beberapa tahun terakhir.  Transformational leadership adalah sebuah gaya kepemimpinan yang mengidentifikasi perubahan, menyusun visi dan melaksanakan rencana yang diperlukan agar perubahan tersebut terjadi.

Dalam situasi VUCA seperti sekarang, transformational leadership sangat dibutuhkan. Hal ini disebabkan karena adanya “gap” antara kondisi zaman yang semakin cepat berubah dengan habbit SDM di dalam bisnis atau organisasi kita.

Menurut Terry Anderson ada enam ciri atau sikap lahiriah yang harus dimiliki oleh seorang “pemimpin transformasional.” Pertama, Well – defined sense of mission, purpose, value, goals. Seorang transforming leader harus bisa mendefinisikan dengan baik misi, harapan, nilai unggul dan tujuan akhir yg ingin dicapai dalam bisnis dan organisasinya kepada semua orang yang ada di dalam organisasinya.

Kedua, Exceptional Physical Health. Seorang transforming leader harus memiliki kesehatan fisik yang luar biasa. Gestur fisiknya harus mempresentasikan sosok pemimpin yang layak untuk diikuti segala arahannya oleh bawahannya, kehadiran fisiknya selalu memancarkan energi optimisme bagi bawahannya.

Ketiga, Excercise Self – Mastery. Seorang transforming leader harus memiliki kemampuan dan melatih untuk bisa menguasai dirinya. Dia harus tetap memiliki fokus untuk memberikan dampak perubahan dalam sepanjang kepemimpinannya.

Keempat, Result Oriented. Seorang transforming leader selalu berorientasi pada hasil yang ingin capai. Dia akan terus mencari cara agar tujuannya bisa tercapai atau terwujud. Sebagaimana Sultan Al-Fatih  yang mengangkut 70 kapalnya naik ke atas gunung agar bisa menyeberang selat golden horn dari jalur lain, sebagaimana Khalifah Umar Bin Abdul aziz yang merombak seluruh gubernur untuk meningkatkan performance wilayah dalam meningkatkan perolehan pendapatan negara serta layanan kepada masyarakatnya.

Kelima, Manages Change. Seorang transforming Leader harus piawai dalam memanajemen perubahan dalam organisasinya ataupun perubahan yang terjadi di luar. Performa team dalam sebuah organisasi akan selalu berbanding lurus dengan dinamika yang terjadi.

Maka dibutuhkan kompetensi untuk menghandle dan menyelesaikan ketidaksetujuan, perbedaan pendapat, kekecewaan, targetan-target yang sulit, tindakan-tindakan yang berbahaya dan permainan-permainan yang kotor. Sebagai Khalifah Umar Bin Abdul Aziz yang harus mengambil risiko sebuah kebijakan wajib zakat bagi para pejabat dan orang kaya saat itu, atau ketika beliau mengganti semua gubernur agar pemerintahan lebih bagus, banyak pejabat-pejabat lama yang melakukan protes. Skill leadership yang dimiliki beliau sangat cukup efektif untuk memanajemen perubahan itu.

Keenam, Develops team to accomplish result. Seorang transforming leader harus memiliki kemampuan untuk terus mengembangkan dan menumbuhkan team demi mencapai targetnya. Dia harus berpikir secara terus menerus dan mencarikan kegiatan agar teamnya bisa bertumbuh dan selalu bergairah dalam memenuhi target.

Sebagaimana Thariq Bin Ziyad yang membakar kapalnya setelah bala tentara kaum muslimin berhasil menyeberang selat Gibraltar dan yang berujung pada kemenangan Thariq saat itu. Sebagaimana Elon Musk yang mampu mendevelops teamnya untuk terus melaunching produk barunya yang lebih kreatif, inovatif dan kompetitif di pasar.

Develops team ini sangat penting sekali karena sumber kekuatan sebuah bisnis atau organisasi adalah pada team yang bisa bekerja dengan baik, benar dan tuntas. Mindset Transforming Leadership sangat dibutuhkan dalam konsepsi kepemimpinan bisnis, sosial kemasyarakatan dan politik, agar terjadi perubahan dari kemelaratan menjadi kemakmuran, dari ancaman menjadi peluang dan dari keterbatasan menjadi keberlimpahan.(*)

- Advertisement - Pengumuman
- Advertisement -spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img