MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Identitas mayat yang ditemukan di Sungai Brantas bawah jembatan Desa Kanigoro Kecamatan Pagelaran, Selasa (5/8) pagi lalu akhirnya terkuak. Teridentifikasi bernama Suroto, 47 tahun warga Desa/Kecamatan Tajinan.
Namun kematiannya masih menjadi teka teki. Sebelum ditemukan meninggal, Suroto berpamitan ke keluarganya untuk bertemu temannya di wilayah Kecamatan Kepanjen pada hari Sabtu (2/8). Ia memesan jasa ojek online (ojol). Saat ini kepolisian masih melakukan penyelidikan terhadap teman dan ojol itu.
“Waktu terakhir, dia (korban) keluar pamitan untuk pergi ke Kepanjen. Adiknya mendengar waktu itu pesan ojol,” kata KBO Satreskrim Polres Malang Ipda Dicka Ermantara saat ditemui Malang Posco Media di Mapolres Malang, Kamis (7/8) kemarin.
Namun Suroto ditemukan dalam kondisi tak bernyawa di Sungai Brantas bawah jembatan Desa Kanigoro Kecamatan Pagelaran, Selasa (5/8) pagi. Pria bertato di dada kiri, tangan kiri, dan paha kiri ini mengalami luka robek pada kepala.
Selain itu, lanjut Dicka, korban ditemukan tanpa busana serta mengalami luka-luka pada bagian tangan dan badan. Guna mengetahui penyebabnya, keluarga korban tidak berkenan dilakukan otopsi pada jenazah.
“Visum luar sudah dilakukan. Sedangkan untuk otopsi secara menyeluruh keluarga tidak berkenan. Keluarga anggap ini sebuah musibah yang dilengkapi dengan surat pernyataan dan video yang didapatkan penyidik,” jelas Dicka.
Mantan Kasihumas Polres Malang itu mengatakan, berdasarkan pemeriksaan saksi bahwa kontur dari Sungai Brantas yang mengalir memang banyak batu tajam. “Kemungkinan luka luar korban kena benturan-benturan di sungai,” imbuhnya.
Jenazah Suroto juga diindikasikan hanyut di Sungai Brantas selama tiga hari sejak dia berpamitan kepada keluarganya. Sebab, kepolisian menemukan pembengkakan pada organ tubuh.
Namun apakah Suroto terjatuh atau tidak, pihak kepolisian masih melakukan penyelidikan. “Kami harus mencari dulu ojolnya. Kemudian di handphone korban berkomunikasi dengan siapa saja, masih dalam penyelidikan,” paparnya.
Dicka menambahkan, bahwa Suroto merupakan seorang residivis. Ia dikenal tertutup. Kendati pihak keluarga tidak berkenan untuk otopsi, namun kepolisian tetap melakukan tindaklanjut, termasuk mencari tahu teman dan ojol yang mengantarkan Suroto ke wilayah Kepanjen. (den/jon)