spot_img
Monday, July 15, 2024
spot_img

Kisah Mike Ragnar Pekerjakan Penyandang Disabilitas

Penuh Kesabaran, Ingin Kaum Difabel Tak Dipandang Sebelah Mata

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA – Sore itu kedai usaha makanan Mike Ragnar  dikunjungi pembeli silih berganti berdatangan. Karyawan kedai yang merupakan para penyandang disabilitas mengenakan seragam serba hijau. Mereka  sibuk mengantarkan pembeli ke tempat duduk masing-masing.

“Sekitar 11 penyandang disabilitas. Rata-rata mereka mengalami grahita (cacat mental). Ada juga yang down syndrome,” kata Mike,  sapaan Mike Ragnar. 

Ia mulai mempekerjakan penyandang disabilitas sejak tahun 2015. Di antara mereka ada yang belum bisa membaca.  

“Menaruh gelas dan menyapu masih keliru meskipun sudah tiga tahun bekerja. Pernah juga saat tiga hari libur bekerja, pas masuk mereka lupa pekerjaannya,” cerita Mike.

“Jadi saya mikir nasib penyandang disabilitas ini dan harapannya,” sambungnya. Penyandang disabilitas yang dipekerjakan rentang usia 23 tahun sampai 36 tahun. Yang usia 36 tahun ini masih suka membeli permen layaknya anak-anak.

Mike memperkerjakan penyandang disabilitas rata-rata dari wilayah Kecamatan Kedungkandang dan sekolah-sekolah. Salah satunya SDLB Sumber Dharma Kota Malang. Mike mengaku tidak mudah untuk mengawasi mereka saat berada di dapur. Dengan penuh  kesabaran sudah pasti.

Namun di samping itu, perempuan berusia 43 tahun  ini memiliki cara tersendiri untuk memberikan pengarahan bagi karyawan yang membantunya supaya bekerja secara tepat.

 Para penyandang disabilitas menyapa Mike dengan sebutan bunda. Mike sudah menganggap mereka sebagai anak-anaknya. Kedekatan Mike dengan penyandang disabilitas memang nampak begitu dekat.

 “Pola asuh mereka berbeda dengan lainnya. Kalau sedang bekerja harus menurut petunjuk sama bunda,” ujarnya. Mike juga selalu berkomunikasi dengan orang tua penyandang disabilitas untuk mengetahui cara agar dapat mengaturnya selama bekerja.

Lulusan Fakultas Hukum Universitas Widyagama Malang tersebut mengawali usaha makanan pada tahun 2002. Butuh waktu tujuh tahun untuk berjuang hingga kedai yang dinamakan Burger Buto itu ramai dikunjungi dan dikenal masyarakat luas. Karyawan penyandang disabilitas ditandai dengan pin berwarna kuning nyantol di pakaiannya saat bekerja.

Burger Buto telah menoreh penghargaan dari berbagai instansi. Di antaranya dari Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang, dan Kementerian Ketenagakerjaan RI pada tahun 2022 lalu. Penghargaan  diberikan karena sukses memperkerjakan penyandang disabilitas.

“Saya kuliah hukum, dulu kepinginnya jadi notaris, duduk di kantor. Tapi papa saya tidak memperbolehkan. Karena saya sekolah di SMK 3 Kota Malang jurusan memasak (tata boga.red), akhirnya saya meyakini ibu dan papa saya untuk sukses buat usaha Burger Buto ini,” kenang Mike.

Banyak tantangan yang dilalui Mike selama tujuh tahun. Bahkan ia sempat frustasi ketika ayahnya meninggal. Namun ibunya selalu mendukung di balik Mike menjalankan usahanya. Semua menu makanan pernah ia coba untuk menemukan makanan yang pas.

Ia juga sempat mengalami kecelakaan kerja. Tiga jari tangan kiri Mike sempat terpotong pisau sebelum tersambung kembali setelah menjalani perawatan oleh dokter. Kecelakaan itu terjadi saat Mike membuat makanan. Ia sendiri juga pernah didiagnosa kanker.

“Kini, semua ujian itu membuat saya bekerja semakin disiplin dan tegas,” lanjut Mike. Ia pun berharap agar pengusaha atau perusahaan untuk memperhatikan taraf hidup penyandang disabilitas, terutama grahita.

 “Penyandang disabilitas agar tidak dipandang sebelah mata. Asal kita mampu mereka juga mampu. Paling tidak mereka berguna untuk diri mereka sendiri untuk masa depannya,” tutupnya. (den/van)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img