MALANG POSCO MEDIA – Kecewa dan kemarahan adalah dua hal yang berbahaya. Saat ini masyarakat kecewa sekaligus sangat marah setelah mencuatnya kasus mega korupsi terkait dugaan oplosan Pertamax dengan Pertalite. Kejagung mengungkap ada proses oplosan Pertamax dengan Pertalite dan sudah menahan beberapa tersangka yang merugikan negara ratusan triliun rupiah.
Sementara Pertamina saat dengan pendapat dengan DPR RI membantah adanya oplosan Pertamax dan Pertalite. Pertamina menjelaskan bahwa produk yang diterima sudah produk jadi. Baik Pertamax dan Pertalite. Tidak ada oplosan yang seperti ramai beredar di media. Pertamina juga meminta masyarakat tidak perlu khawatir dengan kualitas Pertamax dan Pertalite yang beredar di pasaran saat ini.
Dua kondisi yang kontra ini tak mudah dipahami oleh masyarakat. Terbongkarnya mega korupsi yang dibongkar Kejaksaan Agung dengan kerugian negara mencapat Rp 193,7 Triliun, bukan hanya mengagetkan. Tapi bikin emosi dan menyulut aksi. Betapa tidak, terungkapnya dugaan proses oplosan Pertamax dengan Pertalite membuat masyarakat menjadi korban.
Masyarakat di Indonesia, termasuk di Malang Raya pasti merasa kecewa. Semua merasa menjadi korban bertahun-tahun. Membeli Pertamax karena pilihan terbaik, ternyata belakangan mendapati kenyataan menyesakkan. Merasa dibohongi bertahun-tahun. Membeli Pertamax dan Pertalite dengan uang kerja keras, ternyata produknya dipermainkan.
Demi meredam kekecewaan dan keresahan masyarakat ini, Pertamina seharusnya tak hanya memberikan klarifikasi. Pertamina harus aktif turun ke SPBU-SPBU sebagai mitra bisnis Pertamina. Tak hanya memberikan edukasi dan klarifikasi, tapi juga memberikan semacam reward kepada masyarakat.
Ini penting dilakukan Pertamina untuk kembali meyakinkan masyarakat. Setidaknya dengan kehadiran Pertamina hadir di SPBU-SPBU, entah memberikan reward atau membuat gerakan Pertamax dan Pertalite gratis di SPBU-SPBU bagi masyarakat, maka pelan tapi pasti masyarakat bisa kembali percaya kepada Pertamina. Jangan berpikir rugi. Sebab saat ini masyarakat sudah merasa dirugikan. Dan itu bertahun-tahun. Kalau masyarakat menghitung, berapa kerugian yang ditanggung masyarakat akibat permainan produk oplosan Pertamax dan Pertalite? Bisa jadi setara dengan uang yang diduga dikorupsi oknum-oknum yang tak memiliki hati.(*)