spot_img
Monday, June 24, 2024
spot_img

Pilkada Kontestasi Pemuda Sat Set

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Tahun 2024 tak ubahnya sebagai pesta demokrasi terakbar di Indonesia. Betapa tidak, pasca perhelatan akbar Pemilu Serentak di 14 Februari lalu, kini merujuk pada Peraturan KPU Nomor 2 Tahun 2024 tentang Tahapan dan Jadwal Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, serta Walikota dan Wakil Walikota Tahun 2024, tanggal 27 November 2024 juga akan dihelat Pilkada Serentak. Artinya, selain Pileg dan Pilpres, tahun 2024 ini juga akan diselenggarakan Pilkada Serentak, tak terkecuali di wilayah Malang Raya, yaitu Kota Batu, Kota Malang dan Kabupaten Malang.

          Selain menyoal keunikan penyelenggaraan Pilkada Serentak, yang tidak boleh luput dari perhatian masyarakat adalah munculnya figur-figur muda. Boleh dikatakan, Pilkada Serentak kali ini bisa menjadi gelanggang adu ide dan gagasan para politisi muda. Baik yang sudah tergabung dalam parpol atau biasa disebut kader parpol, maupun individu potensial non-parpol. Malang Raya sendiri mampu menyedot animo cukup banyak kader muda, sebab sudah banyak nama-nama muda potensial yang meramaikan bursa kontestasi Pilkada.

          Nama-nama muda yang cukup beken di Malang Raya, seperti Gamal Albinsaid (PKS), Kresna Dewanata Phrosakh (Nasdem) hingga Moreno Soeprapto (Gerindra) bisa saja saat ini masih diam-diam dan belum muncul di bursa kontestasi Pilkada. Namun, bukan tidak mungkin, beberapa nama tersebut di detik-detik akhir akan muncul dan maju dalam duet Pilkada Malang Raya.

          Mereka bisa saja menyusul Rizky Boncel (Cawawali Kota Malang jalur independen bersama Sam HC). Selebgram dengan nama asli Rizky Wahyu Utomo tersebut sejauh ini berhasil meninggalkan pasangan jalur independen lain, Briyan Cahya Putra dan Ahmad Yani, yang gagal lolos persyaratan dokumen Bacawali dan Bacawawali Kota Malang jalur independen.

          Masuknya Rizky Boncel, yang merupakan alumni UMM, di luar prediksi banyak orang. Namun, melihat popularitas dan hasil dari Pemilu tanggal 14 Februari lalu, nama artis seperti Alfiansyah “Komeng” yang berhasil meraup suara tertinggi dalam pemilihan anggota DPD dapil Jawa Barat, tentu peluang Rizky Boncel sangat terbuka lebar untuk memenangi kontestasi Pilkada kali ini.

          Lantas, bagaimana peluang dan tantangan para anak muda dalam kontestasi Pilkada kali ini? Pertama, anak muda identik dengan inovasi. Generasi muda yang kali ini diwakili oleh Milenial dan Gen-Z, memiliki kecenderungan akan ide dan gagasan kreatif. Sat set menjadi daya tawar anak muda.

          Terbukti, Gibran Rakabuming Raka berhasil menjadi Wapres RI di usia 36 tahun pada bulan Oktober mendatang. Di Jawa Timur sendiri, masuknya Emil Dardak sebagai pasangan Khofifah dalam PilGub Jatim beberapa tahun lalu, menjadi vote getter yang cukup efektif karena ide dan gagasan yang ditawarkan.

          Bahkan, banyak pengamat politik memprediksi, Khofifah-Emil jilid 2 akan melawan kotak kosong karena parpol lain tidak berani berspekulasi melawan pasangan incumbent tersebut. di tingkat Kabupaten/Kota, ada pula nama Aditya Halindra Faridzky yang menjadi Bupati Tuban di usia 29 tahun (saat dilantik tahun 2021 lalu). Inovasi dan gagasan mereka, terlepas dari parpol dan pengusungnya, bisa jadi ditunggu-tunggu oleh masyarakat dan calon voters.

          Kedua, anak muda aktif di medsos. Pemilu 2024 mungkin terasa amat berbeda dengan pemilu-pemilu sebelumnya. Apalagi, bagi yang telah mengalami pemilu di beberapa era sebelumnya. Pada era pasca reformasi, pemilu identik dengan kampanye dengan kaos partai serta bendera yang menghiasi lokasi kampanye. Stiker di tempel dimana-mana, konvoi dan bising knalpot menjadi nada sendu di setiap musim kampanye.

          Kini, model kampanye jaman old tersebut sudah berganti. Pemenang kampanye 2024 justru dari ide joget gemoy, dengan animasi dan Ai yang mendominasi. Medsos menjadi arena kampanye yang efektif dan efisien. Di sinilah anak muda menjadi pemeran utamanya.

          Maka kandidat muda dalam Pilkada, akan memiliki engagement yang kuat dibandingkan rentang usia lainnya. Mereka biasa membuat konten di medsos, paham cara membuat konten trending, fyp dan beragam istilah kekinian lainnya.

          Ketiga, anak muda cenderung memilih anak muda juga. Ceruk pemilih muda dalam kontestasi Pilkada sangat besar. Mereka memiliki kecenderungan untuk memilih anak muda juga. Entah, karena bahasa kampanyenya yang nyambung, atau hanya soal pride generasi saja. Tapi tren ini tidak terbantahkan.

          Beragam lembaga survey, memotret bahwa generasi muda cenderung memilih paslon yang muda juga. Sehingga, paslon yang diisi oleh pemuda/i, bisa berpotensi meraup suara tinggi dibandingkan yang hanya satu generasi.

          Keempat, anak muda jawaban akan kebutuhan zaman. Kolaborasi paslon tua-muda, bisa menjadi anti-thesis dalam perhelatan Pilkada kali ini. Sebab kolaborasi antar generasi diharapkan menjadi katalis dalam pembangunan. Generasi old, kuat secara leadership dan pengalaman.

          Sementara generasi muda, paham akan kebutuhan zaman, inovatif dan kreatif. Kolaborasi yang ampuh untuk menjadi vote getter tangguh. Apalagi, didukung oleh mode good-looking dari kandidat muda. Tentu, ini merupakan jurus ampuh. Zaman sudah berubah, perang gagasan dan ide bisa saja dibarengi dengan perang penampilan. Maka memilih pasangan muda, bisa menjadi kunci kemenangan dalam Pilkada.

          Kelima, anak muda merdeka finansial. Salah satu tantangan dalam Pilkada adalah soal kampanye. Maka kandidat muda yang bertajuk crazy rich, bisa saja meramaikan kontestasi Pilkada. Sebab mereka bisa menyediakan logistik kampanye yang memadai, sebut saja beberapa nama beken crazy rich Malang Raya, seperti Gilang Widya Pramana “Juragan99”, Nicola Reza Samudra “Unggul FC” dan sederet nama lainnya.

          Terlepas, apakah kelima peluang dan tantangan tersebut benar atau tidak, namun patut kita tunggu bersama bahwa Pilkada Malang Raya akan diminati oleh banyak kandidat muda. Selebihnya, biar parpol dan masyarakat yang menilai, siapa yang layak jadi juaranya. Selagi yang muda memang kompeten dan bisa menjadi booster pembangunan berkelanjutan di wilayahnya, mengapa tidak kita usung mereka maju di Pilkada?(*)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img