spot_img
Thursday, May 23, 2024
spot_img

Petualangan Tahunan Sambut Hari Jadi Provinsi Jawa Timur 2023

Pokja Grahadi Nikmati Sensasi Adventure Bukit Jengkoang

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Menakjubkan !! Itu kata-kata tulus yang terlempar dari mulut 60 anggota Kelompok Kerja (Pokja) Wartawan Grahadi saat berada di puncak Bukit Jengkoang di Desa Bumiaji, Kota Batu. Sebuah bukit yang menawarkan keindahan alam pedesaan di lereng Gunung Arjuno dan Gunung Panderman.

Selepas mata memandang ke seluruh penjuru Bukit Jengkoang, kita disuguhi hijaunya perbukitan. Hijaunya aneka tanaman sayuran yang ditanam petani setempat. Seledry, slada juga aneka bunga-bunga yang memiliki nilai ekonomis cukup tinggi. Pendek kata, inilah secuil surga yang dihempaskan Yang Maha Kuasa di Kota Batu.

Untuk mencapai Bukit Jengkoang, bukanlah pekerjaan mudah. Kita harus berjibaku dengan   merasakan terjal, berkelok dan kerasnya sisi utara alam Desa Bumiaji. Karena puncak Bukit Jengkoang yang dituju berada diketinggian 1.200 MDPL (Meter Diatas Permukaan Laut). Tapi beruntung rencana rombongan Pokjaprov Wartawan Grahadi ke puncak Bukit Jengkoang dikawal kawan-kawan Bumiaji Amazing Jeep Adventure (BAJA).

BAJA sebuah komunitas penyedia layanan adventure yang dimiliki warga kota Batu. Dikomandani Abah Rommy, rombongan kami disiapkan 20 unit jeep beraneka warna. Tidak seperti Jeep pada umumnya. Jeep milik BAJA sudah dimodifikasi sedemikian rupa sehingga cocok untuk mengarungi terjal dan kerasnya jalan menuju puncak Bukit Jengkoang.

‘’Meski cuman Jeep biasa, tapi harganya lumayan mahal. Yang mahal biaya modifikasinya. Rata-rata bisa mencapai Rp 100 juta per unit,’’ tutur Abah Rommy sembari menunjukkan aneka kreasi dan modifikasi Jeep milik anggotanya.

Dan yang bikin mereka bangga, salah satu Jeep pernah ditumpangi Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa. ‘’Betul. Juni lalu bu gubernur bersama keluarga berkunjung ke sini. Menikmati keindahan Bukit Jengkoang. Ibu Khofifah pilih Jeep warna kuning itu,’’ kata Abah Rommy sambil tersenyum.

Sekira pukul 08.00 WIB, 60 anggota Pokja Grahadi telah bersiap di depan Aston Inn, Batu. Di depan jalanan hotel itu telah berjejar 20 unit Jeep milik BAJA. Setiap Jeep diisi tiga orang tamu, plus driver. Khusus penumpang yang duduk di belakang harus menggunakan helm yang sudah disiapkan. Tujuannya untuk keselamatan.

Bagi wisatawan baik lokal (asal Jatim) atau luar daerah, untuk menikmati jasa Jeep dikenakan biaya Rp 175.000 per orang untuk long way (perjalanan panjang). Atau cukup dengan perjalanan trip pendek biayanya cukup Rp 125.000 per orang. ‘’Tidak mahal. Sangat terjangkau,’’ kilah Abah Rommy.

Bisnis adventure ala BAJA sebenarnya sudah cukup lama dirintis. Tetapi, harus terhenti akibat pandemi Covid-19. Baru setelah pandemi Covid-19, BAJA dan juga komunitas Jeep lainnya di Batu mulai bangkit kembali. Jumlah Jeep yang bisa disewa untuk melayani wisata adventure cukup banyak. Sekitar 200 unit. Tidak hanya ke Bukti Jengkoang saja. Tapi bisa memilih trip lainnya.

‘’Alhamdulillah, tiap hari, selalu isi (jalan). Kalau rejeki bisa dua kali trip per hari. Lumayang, pulang ke rumah bisa mengantongi setidaknya Rp 450 ribu per Jeep,’’ rinci Abah Rommy.

Sekitar 15 menit bergerak dari hotel, rombongan sudah berada di mulut ‘hutan’ kecil menuju puncak Bukit Jengkoang. Di sinilah petualangan seru dimulai. Jalan terjal dan bergelombang, menggoyang 4 roda jeep, berikut seluruh penumpang di atasnya. Penumpang merasakan dikocok-kocok, meski pun laju Jeep tidak begitu kencang.

‘’Kalau hujan lebih parah lagi. Genangan air bisa menenggelamkan roda Jeep. Airnya, bisa muncrat menghantam muka kita. Lebih serulah pokoknya. Ini lumayan, jalanan kering. Cuman digoyang-goyang,’’ cerita Abah Rommy sembari memegang kemudi Jeep berplat nomor DK miliknya.

Selain serunya adventure, sepanjang perjalanan menuju puncak Bukit Jengkoang, mata disuguhi hijaunya hutan kecil milik Perhutani. Selain tanaman kopi, tampak boleh batok-batok kecil menempel di batang pohon pinus. Batok-batok itu sengaja dipasang warga sekitar hutan desa untuk menyadap karet pohon pinus.

Ratusan jumlahnya. Setiap pohon bisa mencapai 10-15 buah batok yang ditempelkan persis di bawah aliran getah karet yang jatuh dari pohon Pinus. Secara fisik, hutan milik Perhutani ini sangat terawat. Masyakarat diberikan konsesi 11 hektar dari Perhutani melalui progam LMDH (Lembaga Masyarakar Daerah Hutan).

Setelah menempuh perjalanan kurang lebih 5 km di dalam hutan, sampailah rombongan Pokjaprov Jatim di puncak Bukit Jengkoang. Di sini telah menunggu aneka hidangan kopi dan gorengan. Di gubug berukuran 4 x 10 meter ini, kami bisa menikmati panasnya aneka minuman sambil melempar pandangan ke arah bukit Jengkoang.

Sebuah pemandangan yang belum tentu bisa dinikmati di daerah lain. Persis di sebelah kami rehat, berdiri sebuah bangunan tua, Pos Pantau. Tidak seperti pos pantau yang biasa berdiri di sisi laut, Pos Pantau yang kondisinya sudah tidak bagus ini konon dibangun untuk mengawasi petani bekerja.

‘’Saya akan ajak keluarga ke sini. Keindahannya di sini, tidak kami dapatkan di Surabaya. Kesejukannya belum tentu bisa didapatkan di daerah lain di Jatim,’’ kata Rahardi Anto Sukarno yang memang dikenal gemar adventure bersama keluarganya.

Setelah rehat secukupnya, kami dan rombongan pun melanjutkan perjalan ke Coban Talun. Di sinilah, aksi seru kembali terjadi. Jika sebelumnya menikmati keseruan adventure di dalam hutan, tidak demikian di Coban Talun ini. Setiap Jeep berikut penumpangnya diwajibkan melintasi sungai kecil yang airnya cukup jernih dari mata air di Coban Talun. (has)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img