spot_img
Thursday, February 22, 2024
spot_img

Politainment

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Ketika politic (politik) bertemu dengan entertainment (hiburan) jadilah politainment. Inilah yang kita saksikan akhir-akhir ini saat politik banyak berbalut dengan hiburan. Laku politik yang sering kaku dan keras itu berpadu dengan aneka gimik dan lelucon. Lihat saja dalam ajang kampanye politik lewat debat. Tak jarang debat politik jadi ajang serupa show (pertunjukan) yang di dalamnya sarat dengan unsur hiburan.

Politik sejatinya memang tak menabukan hiburan. Tetapi sejatinya antara politik dan hiburan itu dua entitas yang jelas pembedanya. Tak tepat kalau politik diidentikkan hanya sebagai hiburan semata. Atau tak cocok juga kalau politik itu dinilai sebagai sesuatu yang selalu menakutkan bahkan menyeramkan. Agar politik mencair memang tak diharamkan diselingi hiburan. Namun, politik tak boleh ambyar, justru hanya menghibur dan menihilkan esensi.

Relasi antara politik dan hiburan idealnya tak boleh membuai dan melenakan. Penonjolan sisi hiburan dalam politik hanya akan menjadikan politik berjalan miskin gagasan dan mengerdilkan sikap kritis. Bisa jadi politik lucu-lucuan memang menghibur dan menggembirakan banyak orang, namun hal ini dapat memalingkan orang pada esensi dari perjuangan lewat jalur politik.

Merujuk David Schultz (2012) dalam bukunya “Politainment the Ten Rules of Contemporary Politics” menyatakan bahwa kunci untuk memahami politik kontemporer saat ini dapat dilihat lewat dua konsep sederhana. Pertama adalah dunia politainment, di mana politik dan hiburan saling bertubrukan sehingga melahirkan dunia politainment baru yakni politik dan hiburan. Konsep kedua adalah bahwa politik adalah sebuah bisnis.

Menurut Schultz, banyak aksi politisi yang lebih menonjolkan hiburan. Bagaimana menggunakan media untuk menarik perhatian. Para politikus membalut diri dengan simbol selebritas, ketenaran, dan pesona demi mendapat popularitas khalayak. Sebaliknya, artis juga berlomba terlibat dalam politik, baik menjadi bagian dari pemerintahan maupun sekadar mendapat keuntungan ekonomi.

Hiburan Politik dan Politik yang Menghibur

Mengutip Nieland (2008), politainment diartikan dalam dua definisi yakni ”hiburan politik” yang mengemas topik politik dalam format hiburan dan ”politik yang menghibur”, yakni perilaku aktor politik yang mengapitalisasi ketenarannya dengan masuk ke program-program hiburan di media massa, terutama televisi.

Nieland mencontohkan bagaimana misalnya kandidat presiden Amerika, Richard Nixon yang muncul di acara komedi terlaris “Laugh-In” tahun 1968, dan Bill Clinton yang bermain saksofon di Arsenio Hall Show dan memukau khalayaknya.

Politik memang boleh dilakukan dengan riang gembira. Kalau memang benar politik dilakoni dengan riang gembira maka semestinya tak ada yang saling membenci. Politik riang gembira juga tak perlu saling menjatuhkan. Saling serang dan menjatuhkan di panggung debat misalnya, semestinya tak perlu terjadi kalau memang sepakat menjalankan politik riang gembira. Politik yang menghibur itu mestinya jauh dari semangat untuk saling menjatuhkan.

Politik yang menggembirakan memang tak cukup hanya sebatas slogan. Di layar televisi para kontestan politik itu saling senyum, bersalaman, dan berangkulan, sementara di belakang mereka saling hina dan menjatuhkan. Sikap paradok yang ditunjukkan oleh sejumlah politisi menjadikan politik tak menghibur dan picu perseteruan. Munculnya aneka sentimen negatif di media sosial mengindikasikan bahwa politik masih jauh dari suasana yang menggembirakan.

Politik yang menggembirakan itu semestinya menjunjung sikap jujur dan fair. Permainan politik yang menggembirakan selalu mengedepankan etika, norma, dan segala aturan hukum. Politik yang menggembirakan akan menghasilkan legitimasi yang kuat dari proses politik yang berlangsung. Hasil akhirnya menjadikan yang menang tak bakal jumawa dan yang kalah akan legawa.  

Hal Remeh-Temeh

Salah satu wujud dari politainment adalah dengan sering mempertontonkan hal yang remeh-temeh. Dalam mendukung aksi ini, media sosial (medsos) menjadi perangkat pendukung yang ampuh. Politainment di medsos biasanya berorientasi pada viralitas, hiburan, dan humor, dan menyederhanakan isu-isu politik kompleks menjadi narasi visual dan jargon politik dangkal yang manipulatif.

Medsos seperti TikTok menjadi salah satu platform paling efektif mereproduksi dan mendistribusikan konten karena memiliki fitur pendukung yang menyatu dengan aplikasi, seperti latar musik, grafis, dan teks. Karena sifat medianya yang lebih menonjolkan hiburan maka tak jarang pesan yang muncul cenderung hal yang receh dan tak substansial. Di sinilah politainment dinilai dapat memperburuk esensi politik yang sebenarnya.

Politik yang menghibur selama ini dinarasikan sebagai komunikasi politik untuk anak muda. Asumsinya banyak anak muda yang tak tertarik politik karena dianggap politik sebagai sesuatu yang terlalu serius. Tak jarang politik dianggap hanya sebagai urusan para orang tua. Pandangan inilah yang menjadikan alasan politik dijalankan dengan meramunya dengan unsur hiburan yang kental.

 Sejatinya tak diharamkan menjalankan politainment. Namun, praktik politainment hendaknya tak dimaksudkan untuk tujuan membuai masyarakat dan berpaling dari masalah yang esensial. Ingat, pelarian dari masalah penting dan mendasar sesungguhnya hanya akan melahirkan kekecewaan dan penyesalan kelak. Alhasil, politainment itu jadi sama sekali tak menghibur, justru masyarakat akan berlari kabur. (*)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img