spot_img
spot_img

Politisi Endorser

Walaupun pilpres masih jauh, tetapi upaya dukung mendukung kandidat presiden sudah mulai terasa. Presiden Jokowi sudah beberapa kali memberikan sinyal politik pada sosok tertentu. Tak hanya Jokowi, sejumlah politisi lain juga melakukan endorse pada figur pilihannya agar mendapat dukungan dan simpati masyarakat. Aksi para politisi endorser ini bisa menggiring dan mempengaruhi opini publik.

Sebelumnya sudah cukup dikenal istilah selebritis endorser. Mereka adalah sosok idola yang pada dirinya melekat promosi produk barang atau jasa tertentu. Para selebritis endorser ini berusaha merekomendasikan aneka brand yang dipromosikan kepada para pengikut (followers)-nya. Selebritis endorser sudah menjadi hal yang lumrah sejalan dengan masifnya penggunaan media sosial (medsos).

Ternyata endorser tak hanya digunakan untuk mendukung promosi barang dan jasa semata. Untuk urusan politik juga ada politisi endorser. Mereka adalah sosok politisi berpengaruh yang dapat memberikan rujukan kepada para pengikutnya tentang kandidat politisi yang layak menjadi calon presiden, calon wakil presiden, atau posisi politis yang lain. Serupa dengan selebritis endorser, sang politisi endorser diharapkan dapat membujuk, mempengaruhi, dan mengendalikan massanya.

Seperti diberitakan sejumlah media, dalam sebuah kesempatan, Presiden Jokowi menyatakan bahwa kalau cari pemimpin yang mau berkerja keras dan selalu memikirkan rakyatnya maka carilah orang yang berambut putih. Pernyataan Jokowi ini dinilai banyak pihak bahwa Jokowi mendukung (endorse) orang berambut putih alias Ganjar Pranowo. Endorse politik juga dilakukan Jokowi pada Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto pada acara peringatan Partai Perindo beberapa waktu silam. Jokowi menyatakan bahwa sosok presiden berikutnya adalah Prabowo Subianto.

Presiden Joko Widodo mengungkapkan ciri-ciri pemimpin yang memikirkan rakyat. Menurutnya, ciri pemimpin terlihat dari penampilan dan wajahnya. Jokowi mengungkapkan bahwa sosok pemimpin yang memikirkan rakyat itu kelihatan dari mukanya. Itu kelihatan dari penampilannya kata Jokowi di acara Nusantara Bersatu di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta, Sabtu (26/11). Mengutip pernyataan Jokowi, pemimpin yang memikirkan rakyat itu banyak kerutan di wajahnya. Selain itu, rambut pemimpin tersebut berwarna putih.

Berita Lainnya:  Kemitraan OrangTua dan Guru

Sesungguhnya tak hanya Presiden Jokowi yang mendukung salah satu kandidat dalam pemilihan calon presiden (capres) dan wakil presiden (cawapres). Sejumlah politisi lain juga saling endorse. Mereka para politisi endorser tak ubahnya dengan sosok influencer atau buzzer, yang biasa dikenal dengan istilah pendengung. Para pendengung inilah yang tak jarang dapat mempengaruhi opini publik.

Tak Selalu Negatif

            Di Indonesia munculnya endorser dikenal sejak Pemilu 2019. Saat itu politisi endorser dijadikan sebagai suatu jasa, yang selalu dikaitkan dengan upaya menyuarakan isu-isu politik, yang mengampanyekan tokoh atau kelompok politik untuk memenangkan kompetisi politik. Bahkan endorser bisa dijadikan sebagai jasa untuk menjatuhkan kredibilitas lawan dari partai politik lainnya. Sejumlah jasa penyedia endorser bermunculan untuk tujuan perang politik.

            Kini endorser muncul konotasi negatif karena dipengaruhi perpolitikan di Indonesia yang telah mengubah makna endorser menjadi negatif. Sejatinya endorser adalah seseorang yang menyuarakan suatu pendapat secara langsung dengan menggunakan identitas pribadi atau identitas yang anonim untuk menyatakan suatu kepentingan tertentu. Secara profesional endorser menjalankan peran mempromosikan, mengampanyekan, atau menyuarakan sesuatu. Pada dasarnya endorser digunakan sebagai sarana pemasaran dan strategi bisnis, politik, dan urusan yang lain.

            Kehadiran endorser sesungguhnya sah-sah saja dalam negara demokrasi. Cuma endorser yang dibutuhkan adalah para endorser yang mendengungkan kebaikan. Bukan orang yang suka mendengungkan narasi yang tak berdasar, menyerang kehormatan orang, menuduhkan suatu hal dan menyebarkan informasi dengan tujuan menimbulkan kebencian. Kalau endorser mendengungkan keburukan maka mereka bisa terjerat Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU-ITE).

Opini yang akan dibangun para endorser tak selamanya ampuh mengubah pilihan pendukung yang sudah fanatik. Bagi kelompok-kelompok pendukung fanatik (true believers) kandidat tertentu mereka pasti akan mendukung sosok yang mereka percaya. Kelompok ini tak mau ambil pusing dengan rekomendasi atau endorse dari politisi tertentu. Mereka tak akan bergeming dari pilihannya walaupun sosok pilihannya tidak direkomendasikan politisi yang berpengaruh besar.

Berita Lainnya:  Kemitraan OrangTua dan Guru

Endorser Effect

            Mengutip hasil survei Litbang Kompas pada Oktober 2022 menyatakan hanya 15,1 persen masyarakat yang yakin bakal memilih sosok capres yang didukung Jokowi. Sedangkan 30,1 persen responden tidak akan memilih bakal capres yang disarankan Jokowi. Selain itu, 35,7 persen memutuskan masih akan mempertimbangkan. Sisanya, 19,1 persen menjawab tidak tahu. Survei ini dilakukan secara tatap muka terhadap 1.200 responden pada 24 September hingga 7 Oktober 2022. Metode yang digunakan adalah pencuplikan sistematis bertingkat pada tingkat kepercayaan 95 persen dengan margin of error kurang lebih 2,8 persen.

            Saat pemilu silam, banyak endorser yang digerakkan oleh politisi tertentu untuk membangun simpati yang ujung-ujungnya untuk mendulang dukungan masyarakat. Dalam pemilu waktu itu bermunculan endorser dan buzzer bayaran yang bersiap menjadi pasukan siber demi berperang memenangkan kandidat yang membayar. Cara membangun opini tertentu melalui campur tangan pendengung terbukti cukup berhasil. Kontribusi para pendengung di medsos yang diorkestrasi telah menjadi bagian penting dalam politik.

            Memang tak semua perilaku pendengung itu buruk. Namun tak sedikit pula ternyata ulah sejumlah endorser yang bikin resah. Para pendengung tak jarang bikin gaduh suasana. Mereka hanya mendengungkan narasi-narasi sesuai permintaan pihak yang memesan. Tak sedikit pula pribadi, lembaga, politisi, dan sejumlah pihak lain yang menggunakan jasa endorser. Disiniah kemampuan literasi digital dan literasi politik masyarakat akan mempengaruhi bagaimana mereka menghadapi aksi para politisi endorser.

Kemampuan literasi digital masyarakat harus ditingkatkan agar mereka tak mudah diorkestrasi oleh orang-orang yang punya kepentingan jahat. Kekuatan para endorser yang netral bisa menjadi alat perlawanan untuk menandingi kekuatan para pendengung narasi agitatif. Semoga kekuatan yang dimiliki para endorser bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang positif dan produkstif demi kemajuan dan pembangunan bangsa. (*)

BERITA LAINNYA