spot_img
Saturday, July 13, 2024
spot_img

Puncak Haji Wukuf di Arafah, Malam Mabit di Muzdalifah

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Malang Posco Media — Seluruh jemaah haji dari penjuru dunia berkumpul di Arafah untuk menjalani wukuf, Sabtu (15/6) siang. Termasuk semua jemaah haji Indonesia wukuf di Arafah. Berkumpul di tenda-tenda yang telah disediakan Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi. Ada sebanyak 1.169 tenda di Arafah untuk jemaah haji Indonesia. Tenda ini menampung 213.275 jemaah haji Indonesia yang melaksanakan wukuf di Arafah.


“Setiap maktab memiliki ukuran yang bervariasi. Mulai dari tenda yang berkapasitas 100 orang sampai dengan 300 jemaah,” ujar Sekretaris Satuan Tugas (Satgas) Arafah, Abduh Dhiya’ur Rahman saat melakukan pengecekan di maktab. “Listrik dan AC menyala dengan baik, air juga tersedia,” lanjutnya.


Selama wukuf di Arafah, para petugas juga berjaga di setiap maktab, guna memastikan tenda yang digunakan oleh jemaah Indonesia tidak ditempati oleh jemaah dari negara lain. Meski ada saja, ditemui jemaah dari negara lain yang masuk di maktab jemaah haji Indonesia.


Sementara itu, prosesi wukuf dimulai saat matahari tergelincir hingga jelang terbenam. Setelah mendengar khutbah wukuf serta melaksanakan salat Zuhur dan Asar secara jamak taqdim qashar, semua jemaah mendekatkan diri kepada Allah SWT melalui berbagai ritual yang bisa mereka jalankan, mulai dari zikir, salawat, serta bermunajat. Momen ini begitu sakral. Sebab, di fase inilah, para jemaah haji diajak untuk berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta di waktu dan tempat yang sangat mustajab.


Bahkan, prosesi inilah yang disebut sebagai inti haji. “Sebab, Al Hajju Arafah. Haji itu Arafah,” kata pembimbing ibadah (PPIH) Arab Saudi Daker Madinah, Aswadi di Arafah.
Menurut guru besar UIN Sunan Ampel Surabaya asal Gresik itu, keutamaan wukuf tak lepas dari makna yang begitu mendalam dari prosesi ini.


Pertama, wukuf adalah sebuah simbol kebulatan tekad manusia untuk menghentikan semua keburukan yang pernah dia buat agar jangan dilakukan lagi. Juga sebagai momen mengabadikan nilai kebaikan sehingga menjadikannya bibit yang berkembang.


“Ibarat tanah yang subur lalu ditanami hal-hal yang baik. Sehingga menjadikan manusia menjadi lebih baik,” katanya.


Makna kedua wukuf terletak pada waktu pelaksanannya yang dimulai pada ba’da zawal atau setelah matahari mulai tergelincir. Ini memiliki makna bawa sinar matahari ibarat mata hati kita yang berusaha untuk menghilangkan semua keburukan, serta selalu menumbuhkan hal-hal baik demi selalu bisa mendekat kepada Sang Pencipta.


“Bagaikan matahari yang tengah condong dan mendekat pada kebaikannya, kecondongan untuk selalu mendekat,” katanya.


Jika itu terwujud, tujuan utama wukuf sebagiai puncak kesadaran untuk selalu berbuat kebajikan itu muncul, baik untuk diri agar bertakwa, untuk sesama, dan alam semesta.

Demi kesempurnaan wukuf, selain mendekatkan diri kepada Sang Khalik, jamaah juga tak boleh melakukan larangan wukuf. “Seperti memotong tanaman di Arafah, menyiksa hewan dan lainnya. Ini sebagai latihan agar kesadaran diri terbentuk,” katanya.


Dilaporkan wartawan Malang Posco Media, Buari dari Arafah, seluruh jemaah usai menjalani wukuf di Arafah, secara bergelombang diangkut bus menuju Muzdalifah, Sabtu (15/6) malam. Jemaah mabit di Muzdalifah dan sebagian lagi menjalani skema murur bagi jemaah haji risiko tinggi, lanjut usia, disabilitas, pengguna kursi roda, dan para pendampingnya di Muzdalifah.


Mabit di Muzdalifah dengan cara murur adalah mabit yang dilakukan dengan cara melintas di Muzdalifah usai menjalani wukuf di Arafah. Jemaah saat melewati kawasan Muzdalifah, tetap berada di atas bus (tidak turun dari kendaraan), lalu bus langsung membawa mereka menuju tenda Mina.


Selain jemaah risiko tinggi, lansia dan disabilitas, pergerakan jemaah ke Muzdalifah dilakukan dengan sistem taraddudi (shuttle) yang mengantar jemaah dari Arafah menuju Muzdalifah.


Selama melaksanakan mabit (menginap), jemaah dapat istirahat dan berzikir, menyelingi zikir dengan berdoa kepada Allah, sebab Muzdalifah termasuk tempat mustajab. Tidak ada ibadah khusus selama mabit di Muzdalifah.


Jemaah diimbau mempertahankan kondisi kebugaran fisiknya dengan beristirahat atau tidur, menghindari kelelahan, mengonsumsi bekal yang dibawa, minum obat dan menghubungi dokter jika merasa tidak sehat. (bua/aim)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img