spot_img
Sunday, July 14, 2024
spot_img

Rasakan Dahsyatnya Doa Ibu, Kini Aktif Syiar Melalui Nawak Hijrah

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Inspiring Ramadan

Pernah berada dalam masa lalu yang kelam, namun Muhammad Nofan akhirnya bisa berubah. Kata-kata sang ibu bahwa ‘separah-parahnya berada di dalam dunia yang kurang baik, suatu saat akan kembali’, dianggap sebagai doa mujarab yang membuatnya perlahan berubah.

MALANG POSCO MEDIA – Kini ia aktif syiar agama. Menumbuhkan karakter Islami melalui komunitas Nawak Hijrah. Nofan memilih menutup semua lembar kelam yang dulu menjadi dunianya sebelum berhijrah.
Sebab menurutnya, ketika seseorang sudah berniat berubah, berhijrah, maka hal-hal dosa dan maksiat di masa lalu telah ditutup oleh Allah.

“Kalau kisah bagaimana berubah, saya siap berbagi. Karena masya Allah, bila bisa menjadi pengingat atau pelajaran, bagaimana akhirnya saya berubah sampai sekarang,” kata Nofan mengawali cerita.

Namun, pria asal Mergosono ini tak mengelak bila masa lalunya tidak baik, termasuk ketika dia sudah mengakhiri masa lajang di tahun 2009. Sampai-sampai ibunya sering berbicara kepada Nofan bila suatu saat pasti akan berubah.

“Saya menikah di tahun 2009, tapi masih belum bisa menemukan titik balik untuk hijrah. Waktu itu memang banyak tantangan dan saya merasa masih di dalam dunia seperti itu.

Namun suatu saat saya teringat kalimat doa yang disampaikan ibu saya “saknemen-nemenmu salah le awakmu mesti balik”. Maksudnya separah-parahnya kita di dalam dunia yang kurang baik pasti akan kembali. Karena apa, kita ini keturunan orang yang baik,” tutur dia.

Ia menganggap itu sebagai doa yang dahsyat dan mengubahnya. Meskipun tidak sebentar terlantun, tapi akhirnya Nofan mulai berubah di tahun 2015.
Itu pun dengan cara yang tidak terduga baginya. Nofan mendapatkan tantangan dari tetua di kampungnya. Dia yang aktif di kegiatan Karang Taruna, diminta mengadakan kegiatan yang bernuansa agama seperti pengajian.

Kebetulan, ia dapat amanah dari Allah untuk jadi penggeraknya anak-anak kampung dan sempat jadi ketua Karang Taruna karena sejak lulus SMA aktif kehidupan sosial. Juga aktif berorganisasi.

“Nah di tahun 2015 dapat semacam tantangan dari orang kampung yang notabene ustad dan pemuka agama di sini. Katanya masak anak muda bisanya cuma membuat band-band-an, karnaval dan tontonan yang khusus anak zaman sekarang,” kenangnya.

“Kami ditantang membuat pengajian, kajian atau kegiatan ibadah yang lain untuk umum dan skalanya besar,” sambung pria berusia 36 tahun ini.

Mereka menerima tantangan tersebut. Kebetulan, di daerahnya sempat lama tidak ada pengajian akbar. “Waktu itu memang sudah agak lama gak ada pengajian akbar yang sampai menutup jalan, ada panggung begitu. Dan salah satu teman saya menyarankan ada Da’i muda yg mungkin cocok untuk area Mergosono, yang banyak juga anak mudanya,” tambah dia.

Akhirnya tersebutlah nama Habib Muhammad Bin Anies Shahab yang kerap dikenal Habib Anies Lawang. Dia dan sejumlah temannya pun sowan ke rumah Sang Habib dengan tujuan mengundang untuk menjadi pengisi acara.

“Ya mungkin itu jadi titik balik. Beliau akhirnya jadi pengisi acara, dan ceramah Beliau kena semua. Maksudnya itu sesuai dengan keadaan kami banget. Sekalipun, Beliau menyatakan support organisasi-organisasi sosial dan anak muda seperti karang taruna, asalkan gak dibuat yang aneh-aneh apalagi bermaksiat ,” urainya.

Setelah agenda tersebut, Nofan mengakui jatuh hati dengan ajaran dan syiar Habib Muhammad, mulai mengikuti majelis taklim di Lawang, yang merupakan kediaman sang habib.
“Tahun 2016 saya coba istiqomah mengikuti taklim di Lawang. Waktu itu ba’da asar (setelah jam 3 sore), saya coba terus ya walaupun kadang sambil ngantuk-ngantuk. Alhamdulillah sampai sekarang,” katanya.

Nofan mengakui, perubahan yang dia jalani tentu saja penuh tantangan. Mulai dari mengubah kebiasaan buruk, lalu mengubah jam aktivitas hingga mendapatkan omongan atau sindiran dari teman-teman masa lalunya.

Salah satu contoh halangan itu meninggalkan kebiasaan untuk nongkrong dengan kegiatan yang macam-macam dan tidak penting. Lalu kebiasaan tidur setelah ashar dan mengubah itu karena dibuat taklim, ngaji. Banyak yang mencaci juga, dianggap gaya, sok alim.

“Tapi masya Allah karena waktu itu saya berubah secara perlahan. Saya diejek karena mulai sering sarungan, pakai baju-baju ibadah. Itu banyak yang mendebatkan apalagi orang kampung. Ada yang bilang ‘Mas Nofan kok saiki ngene tok, sampek ada yang manggil ustadz tapi itu sindiran. Ya karena sudah niat harus dihadapi, dan ini bagian hijrah. Selain harus istiqomah ngaji itu tadi, juga tetap membagi waktu dengan keluarga, yang alhamdulillah mereka mendukung,” tambah dia.

“Alhamdulillah sejak 2016 saya sudah berhenti merokok, padahal dulu ‘ngebes’ banget. Itu saja yang berani saya sebut, yang lainnya juga ada. Dan sekarang ada teman-teman dan keluarga yang ngajak sharing, bisa begini bagaiman caranya.

Lalu kalau cari guru yang tepat bagaimana. Dan sekarang sudah banyak yang komen baik dalam arti positif,” sambungnya.

Alhamdulillah hasilnya akan ada sendiri. “Yang kita lakukan baik, ganjaran dan pahala ada sendiri sesuai tingkat kesulitan berhijrah. Dari situ, ada pelajaran kalau saya bisa diubah oleh Allah maka saya yakin teman-teman yang ingin hijrah juga bisa menjadi insan yang lebih cinta kepada Allah dan rasul-Nya,” kata Bang Opan, sapaan akrabnya.

Dia mengakui, sejak istiqomah berhijrah dari 2016, kerap taklim dan menempuh perjalanan Mergosono – Lawang hampir setiap sore. Sampai pada 2017 berawal saat ayahnya sakit, ia meminta izin untuk tak bisa aktif di Lawang. Tapi justru setelah itu dia berpindah ikut pengajian di Masjid Sabilillah Malang.

“Karena ayah didiagnosa kanker, saya sering sibuk menjaga dan mengantar saat observasi dan pengobatan. Makanya saya izin ke Habib Muhammad, tapi justru beliau menyarankan ikut pengajian di Masjid Sabilillah, namanya Majelis Rasulullah SAW Malang. Waktunya setelah Isya (jam 7 malam), jadi lebih banyak waktu. Sampai di pertengahan 2017 saya ditawari jadi crew, bantu kegiatan-kegiatan majelis. Ya ada multimedia, parkir, menerima tamu dan lain-lain,” tutur dia.

Dia pun berpikiran ‘gaskan’ saja. Karena bisa semakin banyak belajar dengan sang guru. “Tapi pesannya yang ikhlas, niat bantu untuk Rasulullah SAW. Niat khidmah, sampai akhirnya 2018, Habib membuat komunitas pemuda hijrah, namanya ‘Kopi Hijrah’ karena dulu masih booming kafe dan tempat ngopi. Tapi namanya akhirnya berubah karena rasanya kurang Malang banget, dan diganti Nawak Hijrah,” urai Opan.

Dia mengatakan, melalui Nawak Hijrah bersama Habib Muhammad Bin Anies Shahab mencoba untuk membuat suasana baru di dunia dakwah. Melalui kajian di Nawak Hijrah, dakwah yang merangkul semua, untuk umum. “Entah mau pakai celana, kaos, pakek topi atau gak monggo, yang penting mau ikut kajian dulu. Yang penting gak malu ikut, gak malu masuk masjid. Kami membuat yang ikut itu enjoy, ngajinya santai, dan fleksibel dulu. Untuk nantinya, kami percaya itu urusan Allah,” sebutnya.

Kini, Nofan menuturkan bila Nawak Hijrah berkembang sampai sekarang. Sudah ada sub-sub kegiatan.
Di tahun 2024 ini sudah jadi yayasan Nawak Hijrah Malang. Di kegiatan ini, menurut dia, sekali kegiatan majelis taklim, bisa diikuti 700-1000 orang.

“Dengan progres dan tantangan yang Masya Allah, alhamdulillah bisa menyelenggarakan suatu kajian yang disukai pemuda Malang. Yang penting mau berusaha, hasil ditentukan Allah” pungkas dia. (ley/van)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img