spot_img
Friday, July 19, 2024
spot_img

SAATNYA MENJADI PROFESIONAL

Berita Lainnya

Berita Terbaru

“Mencari pekerjaan itu sulit, tidak semudah membalik telapak tangan.” Sebuah pernyataan yang sering kita dengar atau kita ucapkan. Hal ini sebenarnya merupakan hal yang wajar dan logis, karena semua jenis pekerjaan profesional dipastikan mempunyai standar yang mapan dan terukur untuk menetapkan posisi atau penjenjangan karier bagi para pegawainya.

Tetapi kenyataan yang kita temui di lapangan adalah banyak orang yang telah mempunyai posisi (pekerjaan tetap dan mapan) justru bekerja secara tidak profesional. Tentu saja hal ini sangat disayangkan, apalagi jika ternyata bidang pekerjaan tersebut sangat tidak kompeten dengan kualifikasi diri yang dimiliki oleh yang bersangkutan.

- Advertisement -

Kasus seperti ini sering terjadi di sekitar kita. Secara spesifik hal ini lebih banyak terjadi di kalangan menengah ke atas yang bekerja berdasarkan ijazah atau lingkungan pekerjaan jasa. Seperti dalam bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan umum, dan masih banyak lagi.

Jarang atau bahkan tidak terjadi pada masyarakat kalangan bawah yang bekerja mengandalkan tenaga seperti tukang becak atau kuli-kuli bangunan. Dapat dikatakan kasus seperti ini bisa terjadi pada diri siapa pun yang mempunyai penghasilan tetap yang dibayar tanpa memperhatikan kualitas kinerjanya.

Jika sekarang mulai digalakkan sistem kontrak sebagaimana perekrutan ASN dalam bentuk Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), hal ini sebenarnya merupakan upaya untuk meminimalkan terjadinya kasus-kasus tersebut.

Sebagai contoh dalam bidang pendidikan, adalah diangkatnya guru PPPK yang bisa diperpanjang masa kontraknya sesuai kebutuhan dan berdasarkan penilaian kinerja yang berarti harus mempunyai kualitas kerja dan kredibilitas yang bagus.

Seharusnya dengan munculnya sistem kontrak ini membuat kita prihatin, karena hal tersebut menunjukkan fenomena bahwa kita hanya ingin mendapatkan pendapatan (income) dalam jumlah yang besar tanpa mau dan mampu bekerja keras.

Sering terjadi demonstrasi menuntut kenaikan gaji, kesejahteraan, atau upah minimum regional (UMR). Di satu sisi tuntutan yang dilakukan tersebut dapat dibenarkan jika memang sesuai dengan kondisi. Namun, jarang terjadi sebuah introspeksi. Bahkan pada akhirnya jika benar-benar tuntutan tersebut dipenuhi, juga belum bisa dipastikan adanya jaminan peningkatan kinerja berdasarkan tuntunan profesionalismenya.

Pekerja profesional tentu sudah menguasai kompetensi teknis sesuai dengan bidangnya. Dia dengan mudah menemukan unsur seni dalam aktivitasnya. Dia akan mampu menghayati estetika, mata hatinya terbuka melihat kekayaan dan keindahan profesi yang dijalaninya. Sehingga akan memicu motivasi untuk kreatif, berdaya cipta, dan inovatif (Santoso, 2010:) dalam (Sarah, Siti, dkk., 2021: 22).

Memang setiap orang mempunyai kemampuan, kewibawaan, dan performansi yang berbeda. Tetapi sebaiknya kita senantiasa mencoba meningkatkan kualitas diri, kualitas pelayanan pada semua orang (siswa, kalau kita seorang guru).

Tidak hanya diam untuk menerima apa adanya diri kita. Pepatah Jawa yang menyatakan bahwa “nrimo ing pandum” (menerima apa adanya) itu memang benar di satu sisi, namun sebaiknya kita harus mengejar prestasi dan meningkatkan prestise.

Bukankah Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu umat jika umat tersebut tidak berusaha mengubahnya sendiri? Maka tentu saja sangat disayangkan jika masih terdapat sikap apatis dan cuek terhadap lingkungan kerja, sulit menerima perubahan, serta bekerja tidak profesional sementara gaji tetap didapatkan secara utuh/ penuh.

Mengapa hal seperti ini harus terjadi? Ada banyak jawaban. ‘’Pimpinan/ atasan tidak menegur kok, kan nggak masalah’’ atau ‘’kerja secara profesional atau amatiran toh penghasilan juga tidak berubah, jadi kenapa harus ngoyo (bersusah payah).’’ Masih banyak jawaban serupa yang sangat menyakitkan bagi seseorang yang memiliki idealisme tinggi.  

Tentu saja hal tersebut bukan merupakan jawaban yang menunjukkan sikap intelek seseorang. Sebaiknya kita kembali pada ajaran agama bahwa nafkah yang kita berikan pada keluarga kita harus merupakan nafkah yang halal dan barokah. Memang nafkah kita halal, tetapi benarkah menjadi nafkah yang berkah kalau kita mendapatkannya dengan cara seperti di atas?  Hanya Tuhan dan diri kita sendiri yang mengetahuinya.

Menyikapi hal tersebut seharusnya kita kembali pada jati diri kita sebagai manusia yang memiliki dedikasi, intelektual, prestasi, prestise, dan loyalitas yang tinggi pada pekerjaan yang telah diamanatkan pada diri kita. Sikap intelek sudah sepatutnya selalu kita tanamkan sedalam-dalamnya dalam diri kita. Cara bersikap yang tepat akan menunjukkan profesionalisme seseorang.

Seorang yang profesional selalu akan berusaha meningkatkan dedikasi, prestasi, dan prestise diri. Selanjutnya masalah loyalitas sudah barang tentu merupakan imbas dari profesional atau tidak profesionalnya seseorang. Semakin profesional seseorang semakin terdongkrak dedikasi dan loyalitas kerjanya. Pendek kata kinerja yang bagus akan dihasilkan oleh orang yang profesional di bidangnya.

Seiring dengan perkembangan teknologi, fasilitas layanan dalam bentuk yang tidak terbatas, dewasa ini sudah menjamur. Tinggal kita mampu atau tidak untuk memanfaatkan fasilitas tersebut. Jika tidak mampu memanfaatkan fasilitas layanan tersebut kemungkinan-kemungkinan yang terjadi adalah kita akan tergilas oleh lajunya modernisasi.

Semakin tertinggal oleh perubahan, maka kita akan semakin terpuruk. Masalahnya adalah bagaimana kita bisa profesional selaras dengan arus perubahan zaman dengan tetap mempertahankan eksistensi kepribadian bangsa pada umumnya dan idealisme diri sendiri secara khusus.

Untuk semua hal tersebut kita harus berani mencoba walaupun dengan risiko kesalahan (trial and error). Selama kita tidak berani mengambil sebuah risiko maka selama itu pula kita berjalan di tempat, tidak meraih perubahan apa pun. Penawaran solusi dari masalah-masalah tersebut adalah berani menerima perubahan dan berani mengubah diri menjadi lebih baik dalam segala hal.

Memang diperlukan keberanian untuk berani berubah dan kemampuan untuk mengalahkan diri sendiri. Masalah utama yang kita hadapi adalah kemalasan dan tidak siap untuk bersaing dengan orang lain. Merasa takut kalah dan tidak bernilai di hadapan banyak orang akan semakin merendahkan kualitas kemandirian dalam mengejar karier dan profesi.(*)

- Advertisement -spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img