spot_img
Monday, April 15, 2024
spot_img

Safari Jurnalistik Malang Posco Media di SMA Nasional Malang; Tumbuhkan Mental Jurnalis, Siswa Bijak Bermedia Sosial

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Antusias sekali siswa-siswi SMA Nasional Malang menyimak materi dari Wakil Direktur Malang Posco Media, Abdul Halim. Di acara Pesantren Ramadan, Rabu (27/3) kemarin, Malang Posco Media berkolaborasi dengan SMA Nasional. Salah satu sesi pesantren ramadan kali ini berisi seminar tentang Bijak Bermedia Sosial. Tema ini disajikan oleh Redaksi Malang Posco Media.

MENARIK: Wakil Direktur Malang Posco Media, Abdul Halim menyampaikan materi bijak bermedia sosial kepada siswa SMA Nasional Malang, Rabu (27/3) kemarin

Di awal materinya, Wakil Direktur Malang Posco Media Abdul Halim menjelaskan tentang perbedaan Media Pers dengan Media Sosial. Para siswa tampak memperhatikan dengan seksama. Kegiatan ini digelar di Aula SMA Nasional.

ANTUSIAS: Beberapa guru SMA Nasional juga tampak antusias menyimak materi

“Media Pers itu sebuah perusahaan berbadan hukum. Pekerjaannya menyebarkan karya jurnalistik berdasarkan Undang-undang pers dan kode etik jurnalistik. Artinya pekerjaan pers oleh jurnalis atau wartawan itu dilindungi undang-undang,” katanya.

TERTIB: Para siswa tampak menyimak materi dengan seksama

Sebaliknya, kata Halim, media sosial adalah produk yang siapapun dapat terlibat dan aktif. Semua informasi yang tersebar dan terposting di media sosial di luar tanggung jawab undang-undang.

Media sosial sifatnya bebas tidak berbadan hukum. Viralitas menjadi yang utama. Isinya informasi dan hiburan, namun rawan hoax. Konten yang dinilai merugikan satu pihak bisa dilaporkan ke polisi, karena melanggar undang-undang nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Karena itu, Halim menegaskan, untuk hati-hati menggunakan media sosial. Apapun jenisnya. Karena tidak menutup kemungkinan pengguna media sosial berurusan dengan hukum sebab merugikan pihak lain.

“Kita memang bebas untuk berekspresi. Tetapi kebebasan berekspresi itu tidak mutlak. Karena harus mematuhi undang-undang ITE yang mengikat. Maka hindari menyebarkan berita bohong atau hoax. Karena ada sanksi pidananya,” terang Halim.

Abdul Halim juga menghimbau kepada siswa SMA Nasional untuk memiliki mental jurnalis. Utamanya saat menggunakan media sosial. Mereka harus check and recheck lebih dulu sebelum posting.

Harus ada tahap konfirmasi atau mencari kebenaran informasi yang didapat sebelumnya disebarkan. Bila perlu konfirmasi langsung pada yang bersangkutan. “Mau bikin konten apa saja harus by data. Konfirmasi dulu. Gunakan mental jurnalis, yang kalau mau bikin berita ada proses wawancara,” ungkapnya.

Di akhir materinya, Abdul Halim berharap siswa-siswi SMA Nasional memiliki karakter seperti ikan di laut. Asinnya air laut tak membuat ikan yang hidup didalamnya ikut asin.

“Artinya jangan suka ikut-ikut berkomentar di media sosial jika belum jelas kebenarannya. Apalagi isinya menghujat, provokasi dan semacamnya. Tak perlu ambisi untuk viral, utamakan akal sehat,” tegasnya.

Menurutnya, jejak digital tidak akan hilang. Rekam jejak seseorang yang tidak baik akan berpengaruh pada masa depan mereka. Terutama saat akan memasuki dunia kerja.

Karena pihak perusahaan akan mencari tahu latar belakang calon karyawannya sebelum direkrut kerja. Salah satunya melalui media digital. “Sebaiknya, cantumkan yang baik-baik saja. Justru akan mendukung pada kariri,” tambahnya.

Di era merdeka belajar peran digital sangat besar. Maka pelajar masa kini juga tidak boleh gagap teknologi. Harus juga aktif mengambil peran di dunia maya.

Hanya saja kebijaksanaan dan ilmu pengetahuan tidak boleh dikesampingkan. Supaya siswa SMA Nasional tetap dalam koridor yang benar dalam berselancar di dunia digital. “Gunakan medsos pada fungsinya. Tapi kalau tidak siap lebih baik tidak usah menggunakan,” kata dia.

Ketua BDI Badan Dakwah Islam (BDI) SMA Nasional Malang, Sivana Naura Arimbi, merasa senang mendapat materi ini. Menurutnya, sebuah kesempatan emas dapat menyimak materi bijak bermedia sosial. “Karena materi ini sangat relevan dalam kehidupan kami sebagai generasi muda yang hampir tidak bisa lepas dari media sosial. Kami beruntung mendapat wawasan ini,” katanya kepada Malang Posco Media.

Waka Kesiswaan SMA Nasional Malang, Gilang Agung Prabowo, S.H menyampaikan apresiasi kepada tim redaksi Malang Posco Media yang berkenan sharing ilmu kepada anak didiknya. “Menurut kami materinya menarik. Sangat penting diketahui anak-anak kami. Karena menjelaskan tentang etika dan undang-undang bermedia digital,” ungkapnya. (sir/imm)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img