Sulaiman Sulang Penggerak Lingkungan Asal Sukun Kota Malang
Berbuat baik tidak selamanya disambut dan didukung dengan baik oleh seseorang. Istilah seperti itu tidak bisa dilupakan oleh peraih penghargaan Kalpataru Provinsi Jawa Timur 2024 Sulaiman Sulang. Sebab ia memang sudah berkali kali mengalaminya. Cibiran dan ejekan ia terima di awal-awal dirinya menekuni dan peduli lingkungan.
MALANG POSCO MEDIA – [M1] Pria yang akrab disapa Sule ini bahkan mengaku sempat merasakan sakit hati dan hampir saja menyurutkan niatnya untuk mencurahkan hidupnya untuk melestarikan lingkungan. Apalagi yang disayangkan Sule saat itu, cibiran tersebut terlontar dari rekan seprofesinya.
“Pengalaman pertama yang saya rasakan ketika menggagas Bank Sampah. Ada teman itu bilang; SMKN 6 itu sekolah besar kok kamu malah mengajari siswa untuk memulung sampah. Secara pribadi sakit hati, tapi secara organisasi tidak sakit hati karena saya didukung penuh oleh sekolah,” ungkap Sule kepada Malang Posco Media.
Diketahui, Sule merupakan staf tenaga pendidik di SMKN 6 Malang yang sebelumnya sempat mengajar beberapa mata pelajaran. Sule mulai aktif berkiprah pada kegiatan pelestarian lingkungan sejak 2012 ketika dirinya dipindah menjadi staf. Saat itu, Sule menggagas adanya Bank Sampah yang mempunyai program cukup inovatif.
Keberadaan Bank Sampah terbukti menjadi solusi karena para siswa bisa membayar SPP dengan menukarkan sampah plastik. Alhasil, para siswa ketika itu mengumpulkan sampah plastik sebanyak banyaknya untuk kemudian ditukar menjadi uang dan dibayarkan kembali sebagai SPP-nya.
“Karena sempat ada cibiran, saya sampaikan ke Kepala Sekolah. Beruntung beliau bilang ke saya; biarkan saja, mereka kan memang tidak tahu dan terlibat langsung. Apalagi saya terbukti melakukan aksi ini dan berhasil. Akhirnya mereka pun menyadari ternyata yang saya lakukan memang bisa bermanfaat bagi lingkungan,” lanjut alumnus Magister di STIA Malang ini.
Tidak hanya omongan itu saja, warga Jalan Terusan Tanjung Putra Yudha V/14.A Kecamatan Sukun Kota Malang ini juga pernah dicibir melakukan aksi pelestarian lingkungan selama beberapa tahun ini sebagai pencitraan. Mendengar omongan itu, Sule tidak memasukkannya dalam hati dan terus menjalankan aksi-aksi kepada lingkungan, khususnya menanam pohon di lahan kritis.
Sule bahkan dituding terlibat dalam kegiatan politik karena dalam salah satu aksinya, yakni penanaman pohon, Sule mendapatkan bibit pohonnya dari Wakil Wali Kota Malang Sofyan Edi Jarwoko yang ketika itu merupakan pimpinan partai politik. Padahal, aksi itu murni untuk kelestarian lingkungan dan sama sekali tidak ada nuansa politik.
“Saat itu Wakil Wali Kota Malang punya program penanaman pohon 11 ribu Pohon Pule. Lalu diberikan sebagian ke kami. Karena yang memberi bibit adalah beliau, ya tentu beliau diundang. Saya bilang kalau walikota yang kasih, ya pasti saya undang juga,” beber Sule.
“Makanya saya pesan, jangan lalu dihubungkan politik. Toh kami berbuat ini untuk kebaikan masyarakat, generasi dan bumi kita. Itu pun tidak menggoyahkan saya untuk berhenti sehingga puncaknya saya dapat penghargaan,” sambungnya.
Sule sendiri pantas mendapatkan penghargaan Kalpataru tingkat Provinsi Jawa Timur 2024 karena kiprahnya yang luar biasa dalam kelestarian lingkungan. Selain telah membentuk Bank Sampah yang kemudian direplikasi banyak sekolah, ia sukses mengantarkan banyak sekolah di berbagai daerah menjadi sekolah Adiwiyata.
Sampai saat ini, hampir tiap hari, ada saja yang menghubungi dan meminta bantuan kepada Sule untuk membagikan ilmu dan pengalamannya selama ini. Tidak hanya itu, Sule juga sangat aktif dan masif dalam melakukan penanaman pohon. Baik melalui organisasi sekolah, melalui komunitas Himpunan Penggiat Adiwiyata Indoesia (HPAI), melalui pemerintah maupun secara pribadi. Luar biasanya, Sule kebanyakan selalu merogoh koceknya sendiri agar aksi-aksinya sukses. Tak jarang, ia sampai meminjang uang ke teman temannya.
“Saya sempat curhat ke teman saya namanya pak Jero Alit, itu beliau yang tahu betul perjalanan saya. Misalnya ketika penanaman pohon, ketika sudah tidak ada uang, saya pinjam uang dulu ke teman-teman. Adanya Rp 500 ribu saya pinjam, adanya Rp 1 juta ya saya pinjam. Ada kala rencana saya sempat terhenti, tapi itu tidak menggoyahkan semangat saya untuk gigih memperjuangkan hal itu,” tegas dia.
Sejak berkiprah pada 2017 lalu hingga saat ini, menariknya, Sule tidak pernah absen untuk mencatat aksi-aksi yang pernah ia lakoni. Setiap hal yang dilakukannya, ia susun menjadi sebuah buku dengan rapi dan apik. Bahkan tiap pemikiran dan pandangannya, ia tuangkan menjadi sebuah buku.
“Semua berdasarkan yang saya lakukan dan berdasarkan pengalaman saya. Dari situ ternyata akhirnya banyak yang beli dan luar biasa ternyata banyak juga yang meniru. Total dari awal sampai saat ini, saya sudah punya 35 judul buku dan Alhamdulillah semua ber-ISBN,” syukur Ketua Komunitas Aksi Tanam Pohon Indonesia Malang Raya ini.
Sule memahami tiap aksinya tentu tidak mudah dan banyak tantangan. Menurut Sule tantangan terberat justru dirinya sering berhadapan dengan temannya sendiri yang menilai dirinya sudah gila karena mau rugi waktu dan rugi tenaga. Namun tantangan itu selalu ia hadapi dengan baik dan pada akhirnya terbukti justru banyak orang yang kini mengikuti dirinya. Terbukti, banyak orang yang kini mulai membuat Bank Sampah sendiri, mulai banyak yang gencar melakukan penanaman pohon dan seterusnya.
“Karena aksi saya itu sudah jadi hobi, maka saya tidak terbebani. Mereka mereka yang tahu pribadi saya, akhirnya ya membantu saya, ada yang membantu bibit dan sebagainya. Banyak orang juga yang mulai meniru seperti saya. Tiap hari ada satu nomor tidak dikenal, ingin belajar, meminta materi ke saya. Alhamdulillah bisa berbagi dan memberi suatu hal yang manfaat,” lanjutnya.
Setelah penghargaan Kalpataru tingkat Provinsi Jawa Timur, masih ada penghargaan lebih tinggi. Yakni Kalpataru tingkat nasional. Namun begitu, Sule mengaku tidak pernah ada ambisi membidik penghargaan tersebut. Ia ingin mengalir saja dan apabila diajukan, ia mengaku siap untuk maju.
Sebaliknya, yang jelas ia ingin memperluas dampak aksinya kepada masyarakat luas. Terutama generasi muda yang bakal meneruskan dan menjaga kelestarian lingkungan kedepannya. Apalagi diakui Sule, aksi pelestarian lingkungan cukup berat dan membutuhkan komitmen yang kuat.
“Memang berat, tapi kalau dengan senang hati, semangat, semua akan dimudahkan oleh Allah. Asal kita semangat dan tanpa mendengar omongan orang, fitnah orang, semua insya Allah akan ada hasilnya,” pungkas ketua Forum Gerakan Sedekah Sampah Jawa Timur ini. (ian/aim)