spot_img
spot_img

Sistem Bubble, Siap Hadapi Jadwal Padat

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Liga 1 2022/2023 kini tinggal menunggu izin Polri untuk berlanjut. PT Liga Indonesia Baru (LIB) sebagai operator telah mengajukan rencana lanjutan kompetisi yang telah terhenti sejak 1 Oktober 2022 tersebut dengan sistem bubble. Meskipun padat, Arema FC siap dengan rencana tersebut.

Sistem bubble berarti kompetisi bakal berlanjut dalam satu wilayah di sisa putaran pertama. Rencananya, lima stadion di Jawa Tengah dan Yogyakarta sebagai venue. Yakni di Stadion Manahan Solo, Stadion Jatidiri Semarang, Stadion Moch Soebroto Magelang, Stadion Maguwoharjo Sleman dan Stadion Sultan Agung Bantul.

Sistem bubble sendiri pernah dijalani semua tim di musim 2021/2022 lalu. Hal ini menjadi pengalaman setiap tim untuk kembali melakoni hal yang sama. Sekalipun, besar kemungkinan sistem bubble kali ini harus dilalui dengan jadwal super padat. Bahkan, setiap tim bisa main 3-4 hari sekali atau seminggu dua kali.

Berita Lainnya:  Kepastian Kandang Bikin Lebih Tenang

Pelatih Arema FC, Javier Roca mengakui, memang setiap tim dan pemain memiliki pengalaman. Tapi, ada sisi positif dan negatifnya. “Tetap ada plus dan minusnya,” tegas dia, sekalipun tidak merinci apa saja kelebihan dan kekurangannya.

Namun dia menyampaikan, stamina pasti terpengaruh. Hal ini bisa jadi dinilai sebagai sisi minus dari sistem bubble tersebut. “Tapi jangan berharap performa tim bisa konsisten pada pertandingan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya. Itu karena recovery (waktu untuk pemulihan kondisi) yang kurang,” terangnya.

Dari rencana yang dipaparkan operator, sistem bubble akan membuat setiap tim menghadapi rentetan jadwal padat dan bermain antara 3 sampai 4 hari sekali. Alhasil, kecermatan menyusun program recovery maupun latihan diuji betul bagi semua pelatih. “Pemain kita dari kecil tidak disiapkan untuk menghadapi jadwal kompetisi seperti di Eropa. Minggu main, Rabu juga main, minggu main lagi, dan seterusnya,” ungkapnya.

Berita Lainnya:  Demi Aremania!

Klub pun harus mengantisipasi hal tersebut dengan pemberlakuan sistem bubble. Klub harus siap bila performa tim tak maksimal, tak terkecuali suporter, yang berharap idolanya bermain bagus dan menang terus. “Hampir pasti kritikan mengarah ke kita lagi. Ke pemain, ke pelatih, kok mainnya seperti ini, lambat tidak ada intensitas. Tetapi itu memang jadi risikonya,” tutup dia. (ley/bua)

BERITA LAINNYA