spot_img
Thursday, May 23, 2024
spot_img

Sustainable Fashion Designer Peduli Lingkungan; Sulap Limbah Jeans Jadi Pakaian Kece, Disukai Mancanegara

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Limbah bisa disulap menjadi produk fashion bernilai jual tinggi. Produknya tak hanya diminati di Indonesia, tapi juga disukai pasaran Mancanegara.

Adalah Sustainable Fashion Designer asal Malang Feby Ayusta yang sukses menlorkan ide cerdasnya itu. Berawal dari keprihatinannya terhadap banyaknya limbah jeans yang ditemuinya. Betapa berbahayanya limbah tersebut bagi lingkungan dan kehidupan bila dibiarkan tak dikelola.

Itulah yang menggerakkan Feby Ayusta menjadi seorang Sustainable Fashion Designer muda yang terus berinovasi untuk dapat mengembangkan produk fashion hingga melahirkan produk Fashion Sustainable Jeans yang bernilai jual.

Kepada Malang Posco Media ia menceritakan, awal mula ia mulai fokus ke limbah fashion di tahun 2018 lalu. Sebagai seorang designer, ia mengelola sampah-sampah fashion yang kemudian disulapnya menjadi pakaian yang memiliki nilai seni dan jual.

Ia mulai menekuni dunia fashion setelah sempat bersekolah di Islamic Fashion Institute pada tahun 2016. Awalnya ia menekuni fashion muslim. Namun seiring waktu, gaya desain yang dibuatnya lebih umum.

“Tahun itu belum pakai jeans. Masih pakai limbah fashion dari designer. Kan biasanya designer itu kalau lihat bahan apa dibeli ya. Tapi akhirnya numpuk. Dari sana saya olah sampai tidak ada yang tersisa menjadi produk-produk fashion. Jadi di rumah itu tidak ada kain sisa yang mubazir itu,” terangnya bercerita.

Feby, panggilan akrab perempuan kelahiran asli Malang itu, terus ingin berinovasi dan menghasilkan produk yang berbeda dengan yang lainnya. Tujuannya itu ia dapatkan melalui sampah fashion dalam bentuk jeans yang memang menjadi salah satu limbah cukup banyak memberikan dampak bagi lingkungan.

“Saya mencari sampah fashion yang memang butuh concert lebih tinggi untuk diolah kembali agar tidak menumpuk. Akhirnya pilihan saya jatuh pada bahan jeans. Karena jeans secara pembuatan dan perawatan itu cukup memberikan dampak bagi lingkungan. bahan-bahan kimia yang terkandung di dalamnya, ditambah penyucian yang membutuhkan banyak air,” tutur alumni SMAN 4 Malang ini.

Menurutnya, dengan sustainable jeans dan tidak menggunakan hasil produksi jeans yang baru dapat memberikan dampak positif yang lebih baik. Mulai dari mengurangi karbon dan yang lainnya.

Feby mengumpulkan jeans-jeans bekas dari teman-teman sekitarnya. Bahkan ia juga memberikan garansi seumur hidup untuk produk desainnya bisa diolah kembali menjadi produk layak pakai seandainya sudah rusak atau tidak muat.

“Dapatnya dari temen-temen yang punya jeans dan nggak kepakai. Melalui instagram dan media sosial lainnya, saya membuat info terkait siapa-siapa saja yang punya jeans tidak dipakai model apapun saya beli. Tapi juga ada beberapa yang memberikan secara cuma-cuma. Jeans ini bisa terus di re-desain, jika bosan tinggal bawa, kita desain ulang dengan bahan yang tetap sama,” imbuhnya.

Saat ini, untuk memenuhi kebutuhan limbah jeans, biasanya ia mencari di pasar-pasar lokal yang menjual baju bekas. Feby bisa mendapatkan produk dengan harga yang terjangkau, mulai dari Rp 10 ribu sampai dengan Rp 15 ribu.

“Pakaian itu kemudian diolah lagi, dengan cara dicuci sampai bersih. Karena kan kebanyakan pakaian-pakaian thrifting itu asalnya dari luar. Baru setelah dicuci, kita desain sedemikian rupa hingga menghasilkan berbagai bentuk produk. Mulai dari outer, jaket dan juga vest,” tutur designer dengan style Japanese itu.

Ia juga menerima pembuatan produk fashion sustainable jeans dengan bahan dari konsumen. Tahun 2019 menjadi tahun pertama baginya menampilkan produk hasil olahannya di ajang fashion show. Bekerjasama dengan UMKM lain yang ada di Malang, ia membuat produk fashion yang mengkombinasikan antara pakaian nusantara dengan jeans.

Berbagai ajang fashion show sudah ia ikuti bahkan sebelum mengeluarkan produk terbarunya itu. Mulai dari Muffest 2017 dan 2020, Ciputra World Fashion Week 2018, PIC Avenue In Fashion 2018 Jakarta, Jogja Fashion Week 2018, Malang Fashion Week dari tahun 2019 sampai dengan tahun 2022.

“Dari sana mulai banyak yang bertanya, akhirnya saya buka bengkel sustainable. Jadi seperti bengkel recycle jeans. Siapapun yang punya jeans bekas, silahkan datang nanti saya buatkan desain dengan bentuk yang lebih fresh dan baru,” kata Feby.

Dipadukan dengan berbagai kain nusantara seperti batik, ecoprint, lurik dan masih banyak yang lainnya memberikan nilai seni yang lebih tinggi. Produknya kini sudah tersebar luas di kota-kota besar. Seperti Jakarta, Yogyakarta, Surabaya dan yang pasti Malang. Displaynya yang paling banyak ada di Mal Sarinah, Jakarta. 

Selain itu, produknya juga banyak diminati pasaran mancanegara seperti Malaysia, Maroko hingga Jepang.  “Setiap bulan kita pasti ikut pameran. Untuk produksi setiap bulannya bisa sampai 50 pcs. Itu cukup banyak, karena sustainable ini susah dicari dan produknya pasti limited edition. Karena satu desain dengan desain lainnya itu tidak akan sama. Satu kali produksi ya hanya itu saja, tidak bisa meniru dengan gaya yang sama persis,” ungkapnya

Hunting limbah jeans menjadi salah satu tantangan tersendiri baginya. Ia sama sekali tidak ingin menggunakan jeans dalam bentuk lembaran yang banyak dijual di pasaran. Kain yang digunakan benar-benar limbah dari pakaian jeans yang sudah tidak dipakai oleh pemiliknya.

Pemanfaatan jeans yang maksimal terlihat dari bengkel sustainablenya yang tidak memiliki sampah jeans. Semuanya dimanfaatkan secara maksimal untuk meminimalisir penumpukan limbah fashion. Produk-produk fashion hasil olahannya juga sejalan dengan tren yang sedang berlangsung.

“Saya punya tim yang memang khusus untuk research terkait dengan tren-tren yang sedang berlangsung. Kebetulan juga tergabung di Indonesian Fashion Chamber, jadi bisa lebih awal tahu terkait dengan fashion seperti apa yang sedang tren,” pungkas perempuan yang juga suka jeans tersebut. (adam malik/lim)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img