MALANG POSCO MEDIA, MALANG– Meski tahun ajaran baru sudah berjalan beberapa minggu, namun para penjahit masih kebanjiran orderan pembuatan seragam sekolah. Sejumlah penjahit mengaku pesanan meningkat drastis sejak awal Juli 2025.
Bahkan, beberapa pelanggan harus rela masuk daftar tunggu. Lilik, 45, salah satu penjahit yang membuka kios jahit di rumahnya, Desa Karangwidoro, Dau mengaku dalam sehari bisa menerima hingga 10 pesanan seragam.
“Biasanya paling dua atau tiga potong sehari. Sekarang bisa 10. Mayoritas seragam SD dan SMP,” ujarnya kepada Malang Posco Media. Musim masuk sekolah, kata dia, memang menjadi momen “panen raya” bagi penjahit.
Tarif jahitan pun bervariasi, tergantung model dan ukuran. Untuk seragam sekolah dasar, tarif jahit berkisar Rp 60 ribu hingga Rp 75 ribu per stel, lalu seragam SMP dan SMA bisa mencapai Rp 80 ribu sampai Rp 100 ribu.
“Kalau modelnya standar, tanpa variasi, tarifnya Rp 60 ribuan. Tapi kalau minta rok lipit, bordir nama, dan lain-lain, bisa sampai Rp 100 ribu lebih,” jelas ibu satu anak ini lagi. Kondisi serupa dialami Sutikno, penjahit di kawasan Dinoyo.
Ia bahkan menolak beberapa pesanan karena antrean terlalu panjang. “Sudah tidak sanggup kalau terus ditambah. Kami sudah batasi maksimal lima stel per hari agar tetap rapi hasilnya,” kata dia.
Para orang tua siswa pun terpaksa datang lebih awal agar kebagian slot jahitan. “Orderan seragam sekolah itu mulai bulan Juli. Rata-rata lebih suka menjahit daripada beli jadi karena lebih enak dipakai,” ucapnya.
Para penjahit berharap kondisi ini bisa membantu meningkatkan pendapatan mereka yang sempat lesu usai Idul Fitri beberapa waktu lalu. “Alhamdulillah, ini rezeki anak-anak sekolah. Semoga jahitan kami bisa bermanfaat,” tambah dia.
Informasi yang dihimpun Malang Posco Media, pelanggan terbanyak adalah orang tua yang anaknya masuk ke jenjang SMA. “Di SMA tidak ada pembagian seragam ataupun beli di sekolah, sejak daftar ulang sampai sekarang,” kata Lia, orang tua siswa asal Sawojajar.
“Sama sekali tidak ada pengumuman terkait seragam sekolah di grup WA sekolah. Jadi daripada kebingungan nanti, apalagi sudah ada teman anak saya pakai seragam SMA baru, ya saya pilih segera menjahitkan,” tambah dia. (mar/lim)