spot_img
spot_img
Monday, April 15, 2024
spot_img
spot_img

Tekan Tingginya Volatilitas Harga, Torongrejo Jadi Kawasan Pengembangan Bawang Merah

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, KOTA BATU – Pemerintah Kota Batu mengajukan Pengembangan Kawasan Bawang Merah di Desa Torongrejo Kecamatan Junrejo sebagai program unggulan dalam Evaluasi Kinerja Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kabupaten/ Kota se Indonesia Tahun 2023.

Penilaian dilakukan dengan mengisi data self assesment berdasarkan Surat Menteri Dalam Negeri Nomor 500.2.5/0088/Bangda tanggal 8 Januari 2024. Penilaian berlangsung mulai 15 Januari hingga 23 Februari 2024 oleh Kelompok Kerja Tim Pengendalian Inflasi Pusat bersama praktisi dan akademisi.

“Untuk itu tahun lalu kami mengajukan Desa Torongrejo sebagai pengembangan Kawasan Bawang Merah untuk menjawab tingginya volatilitas harga bawang merah yang selalu terjadi di setiap tahunnya dan menjadikan potensi inflasi yang tinggi. Dengan program ini, diharapkan akan menstabilkan harga bawang merah, terutama di tingkat konsumen, khususnya di Kota Batu,” ujar Pj Wali Kota Batu Aries Agung Paewai.

Ia menjelaskan dalam menjalankan program unggulan Kawasan Bawang Merah di Desa Torongrejo dilakukan kerjasama multi pihak dengan pemberdayaan Gapoktan Torong Makmur Desa Torongrejo melibatkan sebanyak 10 kelompok tani dan sekitar 400 petani.

Kerjasama yang dilakukan, lanjutnya, pertama untuk kerjasama pasca panen dilakukan dengan PT Tunas Kota Malang. PT Tunas akan menjamin penjualan hasil panen dari petani dengan harga menguntungkan. Kerjasama untuk penelitian dan pengembangan dilaksanakan bersama BRIN. BRIN memberikan pendampingan teknologi pengembangan bawang merah dari benih TSS (True Shallot Seed).

“Selain itu untuk ketersediaan benih, Kelompok Tani Torong Makmur juga melaksanakan kerjasama dengan Bank Indonesia Wilayah Kerja Malang dengan Hibah bantuan Benih Bawang Merah Varietas Tajuk sebanyak 4.000 kg benih bawang merah untuk ditanam petani,” bebernya.

Pengembangan Kawasan Bawang Merah Desa Torongrejo, lanjut dia, untuk menjamin ketersediaan pasokan bawang merah. Hal ini karena bawang merah menghasilkan daun bawang yang dipanen dua bulan sekali dan umbi bawang merah setiap empat bulan sekali.

Dari panen bawang merah, harga bawang merah secara rata-rata tahunan tumbuh sebesar -0,28 persen dengan pertumbuhan terendah pada bulan Maret 2023 sebesar -0,39 persen dan tertinggi sebesar 0,35 persen. Dari Pengembangan Kawasan Bawang Merah ini, Kota Batu menjamin ketersediaan komoditi bawang merah dan terbukti mampu menekan angka inflasi dengan besaran -0,28 persen secara rata-rata (periode Januari-November 2023).

Aries berharap progam unggulan Pengembangan Kawasan Bawang Merah di Desa Torongrejo akan mendapatkan penilaian yang maksimal, mengingat dampak yang ditimbulkan sangat signifikan. “Kita berharap hasil evaluasi kinerja TPID Kota Batu Tahun 2023 semakin meningkat dibanding Tahun 2022, kita diperingkat 9 dengan point 59,81 se Jawa Bali,” paparnya.

Lebih lanjut, Aries ingin kinerja TPID di Tahun 2024 akan semakin baik dan berdampak secara langsung di masyarakat. “Mudah-mudahan Kinerja TPID di Tahun 2024 semakin ditingkatkan inovasi dan kolaborasi sehingga dampaknya semakin dirasakan oleh masyarakat,” bebernya.

Selain itu Pemkot juga akan terus melanjutkan program unggulan TPID Tahun 2024. Yaitu mengangkat tanaman cabai sebagai salah satu komoditas yang sering kali memiliki andil pada kenaikan tingkat inflasi. Caranya melalui gerakan tanam di tiga Kecamatan di Kota Batu bekerjasama dengan Kelompok Wanita Tani (KWT).

“Penanaman cabai ini menjadi program yang komprehensif mulai dari hulu hingga hilir serta memerlukan sinergitas dari stakeholder terkait. Program unggulan TPID Tahun 2024 sebagai bentuk kolaborasi antara Diskoperindag dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan dalam rangka menjaga stabilisasi pasokan dan harga bahan pokok penting. Sehingga diharapkan mampu mengendalikan tingkat inflasi,” pungkasnya.(eri/lim)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img