spot_img
Monday, July 22, 2024
spot_img

Tinggalkan Jalan Gelap, Kini Ketua Majelis Dzikir, Rajin Santuni Anak Yatim Piatu

Berita Lainnya

Berita Terbaru

INSPIRING RAMADAN

Dulu, mabuk minuman keras (miras) dan berkelahi mewarnai keseharian Ari Susanto. Bahkan pria kelahiran 1 Januari 1972 ini  keluar masuk penjara hingga lima kali lantaran terlibat perkelahian. Jalannya gelap. Tapi itu dulu. Kini Sam Ambon, sapaan akrab Ari Susanto  menapak jalan kebaikan.

Semua kisah kelam telah ditinggalkan. Sekarang  hidupnya lebih banyak dihabiskan mengikuti pengajian dan berbuat baik.

- Advertisement -

Bersama pengasuh  PPIQ Darul Hidayah (Yatim Piatu dan Dhuafa)  Gus Hisa Al Ayubi, Sam Ambon  aktif di Majelis Cangkruan. Ia bahkan didapuk sebagai ketua di majelis tersebut.

“Majelis Cangkrukan ini di dalamnya ada kegiatan sholawat, dzikir, santunan kepada anak yatim, musik rock dan bantengan. Terakhir doa bersama lintas agama, ” katanya mengawali cerita.

Sam Ambon mengatakan Majelis Cangkrukan ini dilaksanakan di empat titik. Pertama di Jalan Patimura, Kayutangan Heritage, Cafe Pelipir Lepen dan Jalan Bandulan.

“Di sini (di Jalan Patimura) majelis cangkruan diadakan setiap malam Jumat Legi. Sedangkan di Kayutangan Heritage diadakan setiap malam Jumat Pahing. Kami berdoa, bersholawat, berdzikir bersama-sama, dan bersodaqoh tentunya, ” tambahnya.

Lika liku Sam Ambon menemukan jalan kebaikan terbilang panjang. Sejak usia 13 tahun , dia mengenal minuman keras. Hampir setiap hari  menenggak minuman beralkohol dan mabuk-mabukan. Minum minuman keras adalah karena pergaulan.

Kebiasaan mabuk-mabukan di masa remaja semakin menjerumuskan Sam Ambon. Ia kala itu menjadi remaja yang kasar. Emosinya mudah tersulut. Bahkan hanya gara-gara  hal sepele, dia tidak segan memukul.

“Saya dulu juga ikut geng. Namanya RAC. Di situ saya kian sering memukul orang, ” ceritanya sembari mengingat masa lalunya yang kelam.

Seiring waktu di usinya 15 tahun,  Ambon pindah ke Surabaya. Dia melanjutkan SMA  di sana. Tak sampai satu tahun, dia kembali ke Malang. “Di Surabaya saya ikut paman. Beliau anggota TNI AL. Sekitar delapan bulan, tapi saya tidak betah. Kemudian kabur, dan sempat hidup di jalan saat di Surabaya,” urainya.

Hidup di jalan, Ambon pun berusaha memenuhi kehidupannya sendiri. Termasuk membayar sekolahnya. Sampai akhirnya kedua orang tuanya menjemput. Dia pun kembali ke Malang.

Ambon kemudian kembali melanjutkan sekolah.  Tapi  dia harus berpindah-pindah. Lantaran kerap bermasalah di sekolahnya.

“SMA saya pindah lima kali. Pertama SMA Jaya Sakti Surabaya baru kelas satu mau naik kelas dua saya pindah ke SMA Salahudin. Hanya satu minggu saya dikeluarkan karena kasus melempar guru dengan penghapus. Kemudian pindah ke SMA A Yani.  Saya pilih keluar karena sering dimarahin guru lantaran kerap  bolos salat berjamaah. Pindah lagi ke SMA Cokro. Sekolah ke empat ini saya kembali dikeluarkan. Saat itu saya dikeluarkan karena  meminta uang kepada teman satu sekolah. Saya katakan saat itu ayah kepala sekolah meninggal. Padahal tidak. Uangnya saya gunakan membeli minuman keras. Akhirnya ketahuan, kemudian dikeluarkan, ” katanya.

Meski demikian,  Ambon tidak ingin putus sekolah.  Dia tetap melanjutkan agar  mendapatkan ijazah SMA. Dia ikut ujian persamaan. Saat itu ujian digelar di SMA Kristen 1 (MOHE). Dia pun akhirnya mendapatkan ijazah SMA.

“Tahun 1992 lulus. Sempat bekerja di perusahaan mebel, jaga parkir dan lainnya. Yang jelas saat itu saya bekerja untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Juga untuk membeli minuman keras,” ungkapnya.

Sampai kemudian tahun 1993.  Ambon memilih melarikan diri ke Batam. Itu setelah dia menganiaya oknum aparat.

Di Batam, Ambon belum bisa meninggalkan kebiasaannya. Dia masih tetap minum dan berkelahi. Begitulah kehidupan sehari-harinya.

“Tahun 1997 saya menikah. Awalnya saya ingin berhenti dari dunia hitam. Tapi tidak bisa, ” ungkapnya.  Bahkan usai menikah, kebiasaan minum dan berkelahi kian meningkat.

“Tahun 2003 lalu perut saya ditusuk. Ini bekasnya masih ada, ” kata Ambon sembari menunjukkan perut dengan bekas jahitan.

Dia mengaku kena tusuk, setelah memukul orang. “Semula saya dan teman main biliar. Kemudian datang segerombolan orang. Mengusir kami, terus kami tidak mau, orang itu kemudian saya pukul dan akhirnya baku hantam. Besoknya, orang itu datang lagi dengan orang yang lebih banyak salah satunya menusuk saya, ” ungkapnya.

Seteleh perutnya ditusuk pisau, Ambon tidak sadarkan diri. Dia baru sadar setelah operasi. “Waktu itu saya kepikiran apakah saya ini hidup atau mati. Terus saya pegang perut, ada perban, ” tambahnya.

Dia sadar masih hidup setelah pindah ruangan. Tapi Ambon mengaku masalah lain timbul. Karena tidak mampu membayar biaya rumah sakit. Dia pun akhirnya kabur.  Dengan luka yang belum sembuh total, Ambon kembali ke Malang.

Di Malang ia masih tetap keras. Tidak hanya terus menerus minum minuman keras. Tapi terlibat  aksi premanisme.

Ambon kemudian menguasai tempat parkir di Jalan Patimura walau saat itu sudah ada yang jaga.   Upayanya pun berhasil.

“Entahlah. Saya dulu tidak merasa takut sama sekali. Meskipun yang menguasai parkir di sini, datang membawa orang sebanyak tiga mikrolet saya lawan,” tambahnya.

Selain menguasai area parkir, Ambon juga masih kerap memukul orang dan berkelahi. Jika  tesinggung, Ambon langsung memukul tanpa berpikir. Nyalinya sangat besar saat itu. Ditambah emosinya yang meledak-ledak.

Ambon merasakan jeruji besi kali pertama tahun 2004. Setelah itu keluar masuk penjara dengan kasus yang sama.

“Terakhir tahun 2016 lalu sata masuk. Pasal yang dikenakan 170 KUHP. Menjalani hukuman selama lima bulan, ” tambahnya.

Seiring perjalanan waktu, Ambon  jenuh dengan kehidupannya.  Sesepuh Aremania Curvasud ini mulai memperbaiki diri tahun 2016 lalu.

Setelah  terakhir di penjara, Ambon mulai berubah. Menghormati bulan Ramadan. Dia berpuasa, menjalankan salat lima waktu dan tentunya  tidak menenggak minuman keras saat bulan Ramadan.

Sampai kemudian 1 Oktober 2023 lalu, untuk kali pertamanya Ambon bertemu Gus Hisa. Kala  itu di Jalan Patimura saat memperingati satu tahun Tragedi Kanjuruhan. Gus Hisa tidak sekadar hadir dan mendoakan  arwah yang menjadi korban Tragedi  Kanjuruhan. Ia memberikan siraman rohani. Tausiah yang disampaikan  membuka hati Ambon.

“Entahlah, tausiah yang disampaikan saat itu begitu mengena. Saya juga senang dengan Gus Hisa yang tidak pernah menghakimi, sebaliknya merangkul saya. Di situlah kemudian saya sadar dan mulai menjauhi minuman keras,” ungkapnya.

Awalnya memang sulit. Tapi seiring waktu dia semakin bulat. Tekat memperbaiki diri pun meningkat. Selain tekun  salat lima waktu, menjalani  puasa rutin di hari Senin dan Kamis. Ia pun memberikan santunan kepada anak yatim.

“Ini sekarang masih belajar. Saya ingin hidup lebih baik. Memberi manfaat lepada orang lain,” katanya. Dalam waktu dekat, pria asli Malang ini ingin belajar mengaji. “Kalau mondok sepertinya masih belum. Tapi saya akan datang ke pondok untuk mengaji, ” tandasnya. (ira/van)

- Advertisement -spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img