spot_img
spot_img

Pasutri Aremania Asal Bareng Korban Tragedi Kanjuruhan

Tinggalkan Seorang Anak, Kondisinya Terguncang

Di antara ratusan korban meninggal dunia dalam Tragedi Kanjuruhan,

ada sepasang suami istri (pasutri) asal Bareng Kota Malang. Yakni Muhammad Yulianton (40) dan Devi Ratnasari (30),  warga Jalan Bareng Raya 2G, RT 14/ RW 8, Kota Malang.

Dony, adik dari pasangan almarhum  menceritakan, saat peristiwa itu terjadi dirinya memang terpisah dengan almarhum.  “Saat itu kami di tribun tidak ada apa-apa kemudian ada tembakan gas air mata sampai menyebar ke tempat kami. Kami terpisah, saya berusaha menyelamatkan anak saya. Kemungkinan Mas Anton langsung ke arah keluar, saya ke dinding tribun,” cerita Dony, Minggu (2/10) kemarin. 

Karena saat itu tidak kondusif, ia tidak tahu lagi keberadaan almarhum. Dony bersama anaknya berupaya keluar dari stadion sewaktu kondisi agak mereda. Kemudian berusaha mencari informasi hingga keluar stadion.

“Justru anaknya yang kasih tahu ke saya arah orang tuanya. Terus saya lihat ada yang dibopong keluar, baru saya tahu itu almarhum. Kondisi anaknya mata bengap waktu itu,” tambahnya.

Berita Lainnya:  Tetap Kencang Usut Tuntas!

Saat itu almarhum sempat dibawa ke RS Teja Husada. Ternyata tak terselamatkan.  Jenazah kemudian sampai di Malang saat subuh dan dimakamkan di TPU Mergan.

“Nanti untuk anaknya akan diasuh oleh neneknya yang ada di Tumpang. Anaknya sekarang masih diam karena terguncang,” sebutnya.

Kemarin, situasi rumah almarhum dipadati para pelayat. Termasuk Wali Kota Malang Drs H Sutiaji bersama beberapa jajaran perangkatnya ikut hadir menyampaikan duka. Selain itu pihaknya juga menyampaikan santunan atau bantuan kepada korban.

“Bagi yang meninggal dunia, ada sedikit amal, kami memberikan Rp 10 juta, dari pemprov Rp 10 juta dari Bank Jatim Rp 5 juta. Kami juga memberikan trauma healing bagi korban karena ada adik yang melihat kakaknya meninggal dan dia masih shock itu nanti ada pendampingan trauma healing. Itu yang kami lakukan sementara ini,” jelas  Sutiaji.

Ia menegaskan, peristiwa ini sudah menjadi ketetapan Tuhan. Maka tidak perlu ada yang disalahkan dan sebaiknya semuanya harus saling membantu. Khusus untuk korban yang kehilangan kedua orang tuanya di Kelurahan Bareng, Sutiaji mengaku telah menyiapkan jaminan pendidikan.

Berita Lainnya:  Tetap Kencang Usut Tuntas!

“Kita berikan beasiswa, tentu kami harus berkomunikasi dengan pengasuhnya. Insya Allah akan kami jamin kelangsungannya karena selalu koordinasi dengan kabupaten (Pemkab Malang),” ungkapnya.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa juga menyempatkan hadir di rumah duka. Ia sempat berkomunikasi dengan Muhammad Alfiansyah, korban yang kehilangan kedua orang tuanya.

“Kita semua minta dia tetap semangat, saya tanya cita-cita apa katanya jadi polisi. Berarti harus belajar yang baik. Jangan lupa salat dan doakan bapak ibu,” ungkap Khofifah 

Ia berharap  semua korban yang tengah dirawat agar bisa segera sembuh. Kepada keluarga korban jiwa, dia berharap agar diberi ketabahan.

“Kita semua berduka, mudah-mudahan yang meninggal amal ibadahnya diterima Allah dan dipanggil dalam kondisi husnul khatimah. Keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan keikhlasan dan kesabaran,” pungkasnya. (ian nurmajidi/van)



BERITA LAINNYA