.
Saturday, December 14, 2024

Diduga Trauma Tragedi Kanjuruhan, Siswi SD Meninggal

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Ist

Malang Posco Media- Duka mendalam kembali dirasakan Lutfiati, warga Jalan Melati  Kecamatan Tumpang. Setelah 1 Oktober 2022 kehilangan  suami M Arifin dan anak keduanya M Rifki akibat Tragedi Kanjuruhan, Jumat (28/10) malam lalu dia kembali kehilangan anak kesayangannya. Yaitu Cahaya Meida Salsabilla. Siswa kelas 3 SD  ini  meninggal dunia pukul 22.30 di RS Wajak Husada karena sakit.

Salah satu keluarga Lutfiati, Wijaya Andrianto mengatakan Billa panggilan akrab Cahaya Meida  Salsabilla sakit karena mengalami trauma akibat meninggalnya sang ayah dan kakaknya yang menjadi korban meninggal Tragedi Kanjuruhan.

“Sejak ayah dan kakaknya meninggal akibat tragedi kanjuruhan, Billa menjadi pendiam dan nafsu makannya berkurang, ” Katanya.

Wijaya meyakini adik sepupunya itu  sakit karena tertekan akibat  trauma kehilangan orang-orang yang dicintainya. Keyakinannya itu dikuatkan dengan sakitnya Billa setelah bocah kecil ini mendatangi makam sang kakak di TPU Kebonsari, Tumpang.

“Billa sakit sejak Minggu (23/10) sore lalu setelah paginya dia mendatangi makam ayah dan kakaknya di TPU Kebonsari, ” urai Wijaya.

Sejak saat itu, kondisinya pun terus menurun. Terlebih Rabu (26/10) lalu Billa  sama sekali tidak mau makan. Hingga akhirnya Jumat (28/10) siang kemarin Lutfiati dan keluarganya yang lain membawanya ke RS Sumber Sentosa Tumpang.

“Tadinya dibawa ke RS Sumber Sentosa Tumpang. Tapi karena tidak ada dokter anak yang stand by kemudian kami membawanya je RS Wajak Husada, ” ungkap Wijaya.

Di rumah sakit Billa langsung mendapatkan penanganan. Namun demikian kondisinya terus drop. Hingga pukul 17.30  Billa tidak sadarkan diri dan akhirnya meninggal dunia pukul 22.30 saat menjalani perawatan.

“Dokter mengatakan Billa sakit DB (Demam Berdarah), ” katanya dengan nada lirih.

Wijaya pun mengatakan Lutfiati ibu Billa  sangat sedih dan sangat shok.

“Belum satu bulan kakak saya kehilangan suami dan anak keduanya. Tadi malam dia kembali kehilangan anak ketiganya. Kami keluarga sangat sedih dan tidak pernah menyangka ini terjadi sama keluarga kami, ” ungkap Wijaya.

Wijaya mengatakan jika setelah Tragedi Kanjuruhan, sebetulnya ada psikolog datang untuk memberikan bimbingan konseling. Namun demikian, kesedihan itu sangat lekat.

“Dari posko Tragedi Kanjuruhan Tumpang ada pendampingan. Ada psikolog datang dan memberikan bimbingan konseling untuk mengurangi beban kesedihan. Tapi kan tidak bisa seketika kesedihan itu hilang, apalagi yang pergi adalah orang-orang tersayang,” ungkapnya.

Semasa hidup diceritakan Andi, Bila sangat dekat dengan ayahnya M Arifin dan  kakanya M Rifki yang meninggal tanggal 1 Oktober lalu. “Iya sangat dekat, ” ucap Wijaya. (ira/jon)

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img