Saturday, August 30, 2025

Uniga Komitmen Kampus Berdampak, Berikan Beasiswa Penuh kepada Disabilitas

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Sebagai kampus berdampak, Universitas Gajayana (Uniga) Malang berikan beasiswa penuh kepada penyandang disabilitas sebagai bentuk komitmen hadirkan pendidikan inklusif. Hal tersebut disampaikan oleh Wakil Rektor II Bidang Kemahasiswaan dan Kerja Sama Dr. Djuni Farhan, S.E., M.Si., Ak, Kamis, (14/8) kemarin.

Djuni Farhan menjelaskan, penerima beasiswa tersebut adalah Mohammad Abidzakiuddinmally (34), penyandang disabilitas sensorik yang sebelumnya menyampaikan keluhannya terkait sulitnya sistem seleksi perguruan tinggi bagi penyandang disabilitas.

Bantuan tersebut mencakup bebas biaya pendaftaran, DPP, UKT, hingga biaya wisuda yang secara simbolis diberikan bertepatan dengan Seminar Publik bertema ‘Ekspresi dan Prestasi Guna Mewujudkan Indonesia Emas 2045, Senin (4/8) lalu.

“Ini bentuk komitmen kami untuk menghadirkan pendidikan inklusif. Beasiswa ini memang kami prioritaskan bagi masyarakat kurang mampu yang memiliki semangat tinggi untuk kuliah,” jelas Djuni Farhan kepada Malang Posco Media.

Selanjutnya, pihak Uniga Malang meminta Abid melengkapi dokumen pendukung. Seperti surat keterangan tidak mampu dan bukti disabilitas. Jika semua persyaratan terpenuhi, ia akan mulai kuliah pada semester ganjil, September 2025 mendatang.

“Setelah berkas lengkap, kami akan serahkan SK beasiswa secara simbolis dan terus memantau perkembangannya selama delapan semester,” tambah Djuni Farhan.

Menurut Djuni Farhan, Abid, yang merupakan anak sulung dari empat bersaudara, selama sembilan tahun terakhir bekerja di sebuah restoran burger di Lowokwaru untuk memenuhi kebutuhan hidup. Meski memiliki keterbatasan, ia tetap berusaha mandiri. Kini, ia berencana melanjutkan studi di Program Studi Ilmu Komunikasi Uniga Malang.

“Pemberian beasiswa ini sempat membuat haru bagi seluruh peserta yang hadir. Ini merupakan mimpi Abid bisa kuliah sesuai dengan mimpinya,” ujar Djuni Farhan.

Dalam forum tersebut, Abid mengaku kebingungan memahami mekanisme seleksi seperti SNBP dan SNBT karena tidak ada pendampingan. Ijazah SMA yang diperolehnya sejak 2012 juga menjadi kendala tersendiri.

“Saya benar-benar tidak menyangka bisa mendapatkan kesempatan ini. Terima kasih kepada Uniga yang telah memberi ruang bagi penyandang disabilitas seperti saya untuk kuliah,” ungkap Abid pria asal Kelurahan Gadang ini dengan mata berkaca-kaca.(hud/lim).

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img