spot_img
Friday, July 19, 2024
spot_img

Wali Kota Malang Ikuti Ijazah Kitab Ratibul Haddad

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Ratusan umat Islam dari berbagai daerah menerima ijazah syarah Kitab Ratibul Haddad dan Syawariqul Anwar dari KH. Raden Achmad Azaimy, Kamis (12/1). Digelar oleh Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) Malang Raya dan Ikatan Mahasiswa Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKMASS), pemberian ijazah itu dilakukan secara hybrid di Kantor PC NU Kota Malang.

Ahmad Asyari Ketua Ikatan Santri Alumni Salafiyah Syafi’iyah (IKSASS) Malang Raya mengatakan halaqoh ilmi atau pengajian seperti ini merupakan bagian dari kegiatan rutin tiap tiga bulan. Tidak hanya diikuti santri atau mahasiswa, kegiatan yang diisi dengan ijazah syarah Kitab Ratibul Hadda dan Syawariqul Anwar, kali ini juga diikuti oleh jamaah secara umum.

- Advertisement -

“Peserta hari ini sekitaran hampir 200an jamaah. Itu pun karena ada beberapa yang belum tersampaikan. Targetnya kemarin kan 300an dan itu sudah konfirmasi semua. Tapi karena sekarang juga dengan zoom (virtual meeting) sehingga tidak sampai 300, biasanya lebih,” terang Asyari.

Sebelum diberikan ijazah, terlebih dahulu dibaca dan dikaji Syarah Ratibul Haddad. Asyari menjelaskan, menimba ilmu dengan adanya syarah ijazah ini begitu penting. Karena disitulah kemudian ilmu yang diterima punya dasar, punya dalil dan tidak tiba tiba dibaca karena semua amalan itu ada dasarnya. Bacaan yang ada di Kitab Ratibul Haddad pun kesemuanya ada dalam hadist.

“Tradisi di NU, ijazah itu diturunkan dari sanad Rasullullah, oleh seorang guru atau kyai. Jadi secara adab, di NU itu akan menyambung dari guru ke guru sampai ke Rasulullah,” jelas Asyari.

“Yang mengijazahkan itu KH. Raden Achmad Azaimy, pengasuh Ponpes Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, Situbondo. Beliau ini murid Sayyid Muhammad Bin Alwi Al-Maliki, dari Makkah Mukaromah. Jadi insya Allah sanadnya nyambung ke Rasulullah,” sambungnya.

Wali Kota Malang Drs. H. Sutiaji turut hadir dalam kesempatan tersebut. Selain karena memenuhi undangan, Sutiaji mengaku dirinya memang tertarik untuk menerima ijazah Kitab Ratibul Haddad dan Syawariqul Anwar.

“Kenapa saya datang karena memang saya kepingin ijazahnya itu. Amalan ratib mengurut keseharian ini saya laksanakan dan itu adalah membentengi dari faham-faham yang tidak menurut ajaran yang ada di agama Islam. Jadi wahdaniyah, mentauhidkan diri kita kepada yang maha kuasa,” ujar Sutiaji.

Dengan memahami dan mengamalkan amalan ratib, ia menyebut imbas dan manfaatnya akan banyak dirasakan. Misalnya dalam hidup ini, dikatakan Sutiaji, bukan perkara transaksional. Sebab hidup di dunia ini juga harus sambil bersandar kepada Tuhan, utamanya dalam bekerja dan berkarya.

“Sehingga ini ada kolerasinya pemerintahan dengan ini. Karena diharapkan ketika hubungan manusia dengan Tuhan itu bagus, otomatis hubungan sesama manusia itu bagus,” tandasnya. (ian/jon)

- Advertisement -spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img