spot_img
spot_img

WISATA UNTUK KEANEKARAGAMAN HAYATI

          Persoalan ekologi membutuhkan perhatian semua pihak karena kondisi hari ini lingkungan dan energi tidak pada kondisi baik. Lingkungan buatan mendominasi lingkungan natural yang kemudian diperparah dengan kemerosotan ekosistem. Agenda ekologi yang lama saja tidak pernah selesai ditangani, kini disusullah isu-isu mitigasi bencana dan krisis energi. Perbaikan lingkungan menjadi agenda tidak pernah selesai.

          Sekalipun demikian konservasi lingkungan tetap sebagai agenda semua lini kehidupan.  Bukan perkara mudah melakukan ini karena peningkatan populasi dibarengi permasalahan-permasalahan ekologis yang lebih kompleks seperti isu perubahan iklim.

          Sejatinya, keprihatinan ini sudah dimiliki banyak pihak. Berbagai macam strategi berbasis negara maupun masyarakat dan baik strategi konvensional maupun non konvensional dilakukan. Strategi konservasi harus dinamis dan selalu mencari terobosan-terobosan yang baru.

          Semua potensi yang melekat di masyarakat dimanfaatkan sebaik-baiknya. Salah satu potensi dari strategi tersebut yaitu reorientasi  kepariwisataan. Gaya hidup yang telah berusia ribuan tahun ini diundang kontribusinya untuk konservasi keanekaragaman hayati. Pada konteks ini, pengembangan ekowisata harus mendapat perhatian lebih.

Wisata Ekologis

          Pandangan tentang wisata tidak tunggal. Ia bisa dikatakan sekadar jalan-jalan, praktik komersialisasi, komodofikasi dan industrialisasi yang mengejar kapital, mencari ilmu atau perjalanan ritual.  Sekalipun demikian, kata kunci wisata yakni perjalanan ke suatu tempat yang mana orang tersebut akan kembali ke titik awal dari mana diberangkatkan (Pitana, 2009).

          Pada perkembangannya pariwisata memiliki tiga tipe. Ada wisata berbasis kapital besar, wisata berbasis komunitas (community based tourism) dan ekowisata yang mengangkat isu lingkungan.  Tipe ketiga bisa bergabung baik dengan nomor satu dan dua. Khusus ekowisata mengangkat konservasi lingkungan yang menekankan pada ekologi, komunitas dan pendidikan (Nugroho, 2015). 

          Ekologis yakni menyajikan suguhan dari keunikan dan keindahan sumber daya alam. Misalnya, wisata yang berbasis hutan atau wanawisata menyuguhkan keindahan sumber daya hutan. Kunjungan semacam ini menyadarkan wisatawan tentang pentingnya  kekayaan hayati di wilayah tersebut.

          Komunitas menjelaskan aktor-aktor pelaku pariwisata yang tinggal pada komunitas tertentu. Komunitas memiliki posisi plus sebagai kreator wisata ekologis karena perasaan milik bersama dan pengelolaan secara  bersama-sama pula.

Berita Lainnya:  Peta Jalan ‘Aisyiyah Memajukan Perempuan

          Di banding korporasi atau negara yang sering terjebak dalam birokrasi dan kapitalisasi, kedekatan dan keperpihakan komunitas pada lingkungan mereka lebih tinggi. Pada saat mereka dimandatkan untuk melestarikan alam, mereka juga mengambil keuntungan dan sekaligus menjaganya.

          Pendidikan menjelaskan tentang edukasi yang menjadi tujuan dari wisata ini. Ia mengobjektivasi nilai-nilai keselarasan alam. Melalui internalisasi, kita memahami arti penting nilai ekologis dalam kehidupan kita.

          Wisata penulis ke Coban Rais, Kota Batu memahamkan ekologi hutan. Di lokasi ini ada kesatuan ekologis tumbuhan,  hutan, taman, air. Suguhan ini menyadarkan ketergantungan hidup pada ekosistem.

          Demikian pula, pada saat penulis berwisata ke TKL (Taman Kyai Langgeng) Eco Park Kota Magelang, Jawa Tengah menyadarkan keberadaan Pohon Kalpataru dan Sungai Progo bagi masyarakat. Selama ini kita hanya mengetahui Kalpataru sebagai simbol penghargaan lingkungan, tetapi di lokasi ini kita bisa melihat langsung tanaman langka ini.   

Pengarusutamaan Keanekaragaman Hayati

          Isu sumberdaya hayati bisa dijadikan sajian pariwisata ramah lingkungan. Melalui kemasan ini, wisatawan dididik untuk menyadari dan berkontribusi pada pemeliharaan keanekaragaman hayati. Mereka mendapatkan pengetahuan tentang yang mulai mengalami krisis.

          Peluang untuk membuka kesempatan ini terbuka lebar mengingat kondisi-kondisi pendukung sebagai berikut, di antaranya: Pertama, peningkatan pengetahuan dan kesadaran pada kondisi lingkungan dan kekayaan sumber daya alam. Di tengah pembangunan desentralisasi, terbuka lebar kebebasan komunitas untuk mengkreasi.

          Masyarakat yang berdekatan dengan sumber daya alam bebas menciptakan destinasi wisata baru dengan mengandalkan potensi sumber daya alam sekitar. Kita bisa melihat hebohnya Kampung Warna Warni di Jodipan Kota Malang atau Nepal Van Java yang kini terkenal di Kabupaten Magelang.

          Selain itu, transisi endemik telah membuka peluang  menggeliatnya kepariwisataan setelah dua tahun kita didera pandemi. Kondisi pasca pandemi yang kian membaik ini menandai kebangkitan potensi pariwisata dan industi kreatif di semua wilayah seperti dinyatakan Menparekraf Sandiaga Uno.

Berita Lainnya:  Peta Jalan ‘Aisyiyah Memajukan Perempuan

          Kedua, dukungan kebijakan. Regulasi juga terbuka lebar seperti ratifikasi internasional dan kebijakan nasional yang mendukung pengarusutamaan dari keanekaragaman hayati ini. Undang-undang no 5 Tahun 1994 tentang pengesahan United Nations Convention On Biological Diversity menjustifikasi hukum itu.

          Ketiga, dukungan komunitas pecinta alam dan lembaga pendidikan. Dua kontribusi ini mendukung gerakan sosial baru yang tidak mengejar kepentingan ekonomi, menitik beratkan pada kualitas lingkungan yang baik. Komunitas pecinta alam masif bergerak pada banyak level dan bekerja didorong berbagai strategi baik sekolah lapang, advokasi maupun literasi. Mereka bekerja baik berbasis kerelawanan maupun proyek nirlaba. Sedangkan, lembaga pendidikan berkontribusi karena menjalankan mandat pendidikan dari institusi masing-masing.

          Sebagai negara yang memiliki luas hutan 94,1 juta ha atau 50,1 persen dari total daratan (menlhk, 2020).  Indonesia memiliki tanggung jawab global yang besar dalam upaya penyelamatan sumber daya hayati. Keberhasilan ini akan menyumbang kontribusi pada perubahan iklim yang lebih baik.  Kini para pelaku wisata didorong dan diarahkan untuk menyadarkan keanekaragaman itu.

          Namun, proses ini bukan perkara mudah. Berikut tantangan-tantangan yang harus diperhatikan. Pertama, ancaman masyarakat digital. Masyarakat digital hari ini yang mencirikan dekat dengan teknologi dari pada alam dan lingkungan. Lokasi wisata mau tidak mau berkompromi dengan perkembangan teknologi tersebut dengan tetap menjaga framing isu konservasi dan kampanye ekologis.

          Kedua, kurang populernya Isu keanekaragaman hayati. Isu lingkungan lebih dari satu, seperti agraria, sumber daya air, pengelolaan sampah, kehutanan dan lain-lain, menurut penulis isu  keanekaragaman hayati kurang populer. Maka, dibutuhkan perubahan mindset ekologis komunitas, wisatawan maupun pemerintah bahwa agenda dan pekerjaan konservasi lingkungan bukan hanya peduli lingkungan di sekitar,  tetapi juga lingkungan dan  bahkan alam di belahan bumi lain.(*)



BERITA LAINNYA

MALANG, SEPENGGAL FIRDAUS INDONESIA

Nalar Mendidik Guru yang Terkoyak

Dato Anwar

Selalu Ada si Kuda Hitam!

Ketulusan

Sepak Bola dan Kuasa Televisi

Diferensiasi Kurikulum di Madrasah

LA’EEB

Stadion Layak Anak, Mengapa Tidak?

PEMIMPIN BERDAMPAK

Sihir Qatar dan Piala Dunia 2022

Muhammadiyah