spot_img
Sunday, March 3, 2024
spot_img

Dinsos Beri Pendampingan Ojol Perempuan

Berita Lainnya

Berita Terbaru

MALANG POSCO MEDIA, MALANG – Ratusan ojek online (ojol) perempuan di Kota Malang menjadi perhatian tersendiri bagi Pemkot Malang. Melalui Dinas Sosial Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinsos-P3AP2KB) Kota Malang, sekitar 150 ojol perempuan ini mengikuti pendampingan yang dilakukan secara rutin.

Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan Dinsos P3AP2KB Kota Malang Ani Rahmawiati mengatakan dari pendampingan ini, pihaknya telah berhasil merespon berbagai permasalahan yang dihadapi oleh perempuan yang berprofesi sebagai ojol.

“Pernah ada anak-anaknya ojol perempuan ini ketika masuk rumah sakit. Itu mereka kesulitan karena walaupun sudah menjadi peserta BPJS itu mereka menunggak. Sehingga mereka tidak diperhatikan dan harus membayar tunggakannya dulu. Nah, akhirnya kami mendatangkan dari BPJS untuk merespon keluhan tersebut,” terang Ani ketika pendampingan rutin, Kamis (2/2) kemarin.

Selain itu, lanjut Ani, dari pendampingan kepada ojol perempuan itu, juga ditemukan adanya potensi tindak kriminal yang dihadapi oleh mereka. Yakni kejahatan malam hari saat melakukan profesinya.

“Mereka bekerja sampai malam, bahkan sampai jam 10-an malam. Tentunya mereka juga was-was. Disitu mereka perlu adanya pengamanan dan pengawalan. Akhirnya kami juga melibatkan dari pihak Polresta,” ungkapnya.

Begitu juga masalah pendidikan. Misalnya ada anak anak yang terkendala biaya dan akhirnya menunggak, pihaknya akan berupaya mencarikan solusinya seperti beasiswa. Tentunya juga dengan melibatkan stakeholder yang lain agar bisa terwujud dengan baik.

Dari pendampingan seperti ini juga, mereka bisa saling sharing diskusi untuk menambah keterampilan. Tujuannya untuk menambah peluang usaha baru sehingga mendapatkan tambahan pemasukan.

“Sudah ada pelatihan gratis untuk ojol perempuan ini. Jadi ada beberapa pelatihan yang difasilitasi dari IWAPI Kota Malang ini, antara lain ada pelatihan hand bucket, tata rias, membuat kue, menjahit,” sebut Ani.

Meski beberapa diantara ojol perempuan ini ada masyarakat kelas menengah, namun kebanyakan memang masih didominasi oleh kelas menengah ke bawah. Dengan model pendampingan seperti ini, diharapkan nantinya para perempuan ini bisa mendapat berbagai manfaat. Tidak hanya masalah sosial, namun juga masalah ekonomi.

“Ini sudah lima kali pertemuan, kami belum evaluasi lagi. Ternyata banyak juga ojol perempuan yang sudah buka usaha sendiri. Mereka juga sudah buka pesanan, dan lain-lain. Hanya, kenapa mereka menginginkan adanya pelatihan karena mungkin kebanyakan belum mendapatkan skill atau keterampilan yang lain,” tandasnya. (ian/aim)

spot_img

Berita Lainnya

Berita Terbaru

- Advertisement -spot_img